<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Al Amanah</title>
	<atom:link href="http://www.masjidalamanah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.masjidalamanah.com</link>
	<description>Kementerian Keuangan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 23:16:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-ayyub-alaihis-salam/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-ayyub-alaihis-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 23:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2251</guid>
		<description><![CDATA[Ayyub &#8216;alaihis salam adalah seorang nabi yang mulia yang nasabnya sampai kepada Nabi Ibrahim &#8216;alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, `&#8221;Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) Yaitu Dawud, Sulaiman,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayyub &#8216;alaihis salam adalah seorang nabi yang mulia yang nasabnya sampai kepada Nabi Ibrahim &#8216;alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>`&#8221;<em>Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) Yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.</em>&#8221; (Terj. QS. Al An&#8217;aam: 84)</p>
<p>Sebelumnya Nabi Ayyub memiliki harta yang banyak dengan bermacam jenisnya, seperti: hewan ternak,  budak, dan tanah. Ia juga memiliki istri yang saleh dan keturunan yang baik. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala ingin mengujinya, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka, barang siapa yang ridha dengan ujian tersebut, maka dia mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut, maka dia mendapatkan kemurkaan-Nya (sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shahihul Jami&#8217;</em> no. 2110).</p>
<p>Ayyub adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut, hartanya yang banyak habis, anak-anaknya meninggal dunia, semua ternaknya binasa, dan Nabi Ayyub &#8216;alaihis salam sendiri menderita penyakit yang sangat berat, tidak ada satu pun dari anggota badannya kecuali terkena penyakit selain hati dan lisannya yang ia gunakan untuk berdzikr kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Dalam menghadapi musibah itu, ia tetap bersabar dan mengharap pahala, serta berdzikr di malam dan siang, pagi dan petang.</p>
<p>Hari pun berlalu, namun tidaklah berlalu hari itu kecuali penderitaan Ayyub semakin berat, dan saat penderitaan yang dialaminya semakin berat, maka kerabatnya menjauhinya, demikian pula kawan-kawannya, tinggallah istrinya yang sabar mengurusnya dan memenuhi haknya. Istrinya terus mengurusnya, dan memenuhi keperluannya, sampai ia rela bekerja dengan upah tidak seberapa untuk menafkahi suaminya.</p>
<p>Ayyub terus merasakan sakitnya, namun ia tetap sabar sambil mengharap pahala dari Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala, memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, sehingga jadilah Ayyub sebagai imam dan teladan dalam kesabaran.</p>
<p>Abu Ya&#8217;la dan Al Bazzar meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">«إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ أَيُّوبَ كَانَ فِي بَلَائِهِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَرَفَضَهُ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ إِلَّا رَجُلَانِ مِنْ إِخْوَانِهِ، كَانَا مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِهِ كَانَا يَغْدُوَانِ إِلَيْهِ وَيَرُوحَانِ إِلَيْهِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: تَعْلَمُ وَاللَّهِ لَقَدْ أَذْنَبَ أَيُّوبُ ذَنْبًا مَا أَذَنَبَهُ أَحَدٌ. قَالَ صَاحِبُهُ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: مُنْذُ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً لَمْ يَرْحَمْهُ اللَّهُ فَيَكْشِفُ اللَّهُ عَنْهُ. فَلَمَّا رَاحَا إِلَيْهِ، لَمْ يَصْبِرِ الرَّجُلُ حَتَّى ذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، قَالَ أَيُّوبُ: مَا أَدْرِي مَا تَقُولُ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ أَمُرُّ عَلَى الرَّجُلَيْنِ يَتَنَازَعَانِ فَيَذْكُرَانِ اللَّهَ، فَأَرْجِعُ إِلَى بَيْتِي فَأُكَفِّرُ عَنْهُمَا، كَرَاهِيَةَ أَنْ يُذْكَرَ اللَّهُ إِلَّا فِي حَقٍّ. قَالَ: وَكَانَ يَخْرُجُ إِلَى حَاجَتِهِ، فَإِذَا قَضَى حَاجَتَهُ أَمْسَكَتِ امْرَأَتُهُ بِيَدِهِ حَتَّى يَبْلُغَ، فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَبْطَأَ عَلَيْهَا، وَأُوحِيَ إِلَى أَيُّوبَ فِي مَكَانِهِ أَنِ {ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ} [ص: 42] فَاسْتَبْطَأَتْهُ فَتَلَقَّتْهُ يَنْتَظِرُوا، وَأَقْبَلَ عَلَيْهَا قَدْ أَذْهَبَ اللَّهُ مَا بِهِ مِنَ الْبَلَاءِ وَهُوَ عَلَى أَحْسَنِ مَا كَانَ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: أَيْ بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ، هَلْ رَأَيْتَ نَبِيَّ اللَّهِ هَذَا الْمُبْتَلَى؟ وَوَاللَّهِ عَلَى ذَلِكَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ بِهِ مُذْ كَانَ صَحِيحًا مِنْكَ. قَالَ: فَإِنِّي أَنَا هُوَ. وَكَانَ لَهُ أَنْدَرَانِ: أَنْدَرُ لِلْقَمْحِ وَأَنْدَرُ لِلشَّعِيرِ، فَبَعَثَ اللَّهُ سَحَابَتَيْنِ، فَلَمَّا كَانَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى أَنْدَرِ الْقَمْحِ فَرَّغَتْ فِيهِ الذَّهَبَ حَتَّى فَاضَ، وَأَفْرَغَتِ الْأُخْرَى عَلَى أَنْدَرِ الشَّعِيرِ الْوَرِقَ حَتَّى فَاضَ» &#8220;.(قال الهيثمي: رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُ الْبَزَّارِ رِجَالُ الصَّحِيحِ).</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi Allah Ayyub mendapat cobaan selama delapan belas tahun, sehingga orang dekat dan jauhnya menjauhinya selain dua orang saudara akrabnya yang sering menjenguk di pagi dan sore. Lalu salah satunya berkata kepada yang lain, &#8220;Engkau tahu, demi Allah, dia telah melakukan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun.&#8221; Kawannya berkata, &#8220;Dosa apa itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dengan menghilangkan cobaan itu.&#8221;</p>
<p>Saat keduanya menjenguknya di sore, maka salah satunya tidak sabar sehingga menyampaikan masalah itu kepadanya. Ayyub berkata, &#8220;Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, hanyasaja Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bertengkar, lalu keduanya menyebut nama Allah, kemudian aku pulang ke rumahku dan membayarkan kaffarat untuk keduanya karena aku tidak suka kedua orang itu menyebut nama Allah untuk yang tidak hak.&#8221;</p>
<p>Beliau juga bersabda, &#8220;Nabi Ayyub keluar jika hendak buang hajat. Apabila ia telah selesai buang hajat, maka istrinya menuntunnya sampai ke tempat buang hajat. Suatu hari Nabi Ayyub terlambat dari istrinya, dan diwahyukan kepada Nabi Ayyub di tempatnya, &#8220;<em>Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.&#8221;</em> (Terj. QS. Shaad: 42) Istrinya menunggunya cukup lama, dia menjumpai Ayyub sambil memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya, dan Nabi Ayyub dalam keadaan lebih tampan daripada sebelumnya.</p>
<p>Saat istrinya melihat, istrinya langsung berkata, &#8220;Semoga Allah memberkahimu, apakah engkau melihat Nabi Allah yang sedang diuji ini? Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip ketika sehat daripada kamu?&#8221; Ayyub menjawab, &#8220;Akulah orangnya.&#8221; Ayyub memiliki dua tumpukan gandum, yang satu untuk gandum dan yang satu lagi untuk jewawut, lalu Allah mengirimkan dua awan. Saat salah satu dari awan itu berada di atas tumpukan gandum, awan itu menumpahkan emas sehingga melimpah ruah, sedangkan awan yang satu lagi menumpahkan perak ke tumpukan jewawut sehingga melimpah ruah.&#8221; (Al Haitsamiy berkata, &#8220;Diriwayatkan oleh Abu Ya&#8217;la dan Al Bazzar. Para perawi Al Bazzar adalah para perawi hadits shahih.&#8221; Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Ash Shahiihah</em> 1/25)</p>
<p>Setelah berlalu sekian lama, yaitu delapan belas tahun seperti yang diterangkan dalam hadits di atas, maka Ayyub memohon kepada Tuhannya agar menghilangkan derita yang menimpanya, ia berkata,</p>
<p><em>&#8220;(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.&#8221;</em> (Terj. QS. Al Anbiyaa&#8217;: 83)</p>
<p>Maka Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menghentakkan kakinya ke tanah, lalu Ayyub melakukannya, tiba-tiba memancarlah air yang sejuk, kemudian ia mandi daripadanya, lalu Ayyub sembuh dengan izin Allah &#8216;Azza wa Jalla. Tidak ada satu pun luka dan penyakit yang dirasakannya kecuali sembuh seluruhnya, ia juga meminum air itu, sehingga tidak ada satu penyakit yang ada dalam tubuhnya kecuali keluar dan dirinya kembali sehat seperti sebelumnya sebagai orang yang rupawan.</p>
<p>Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala telah menghilangkan penyakit yang menimpa Ayyub dan jasadnya kembali sehat, Dia juga memberikan kekayaan lagi kepadanya, mengembalikan harta dan anaknya. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.&#8221;</em> (Terj. QS. Al Anbiyaa&#8217;: 84)</p>
<p>Demikianlah, Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala menjadikan Ayyub sebagai teladan dalam kesabaran yang patut ditiru.</p>
<p><em>Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, </em><em>wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.</em></p>
<p align="right"><sup>Marwan bin Musa</sup></p>
<p><strong><sup>Maraaji’:</sup></strong><sup> Al Qur’anul Karim, Hidayatul Insan bitafsiril Qur&#8217;an (Abu Yahya Marwan), Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islam.aljayyash.net/">www.islam.aljayyash.net</a></span>), Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy), dll</sup></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-ayyub-alaihis-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tawarkan 3 Langkah untuk Kemerdekaan Palestina</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/indonesia-tawarkan-3-langkah-untuk-kemerdekaan-palestina/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/indonesia-tawarkan-3-langkah-untuk-kemerdekaan-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 03:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2277</guid>
		<description><![CDATA[Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengajukan tiga langkah pragmatis mengenai upaya kemerdekaan Palestina. Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (KTM) Gerakan Non-Blok (GNB) di Sharm El Sheilh,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengajukan tiga langkah pragmatis mengenai upaya kemerdekaan Palestina. Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (KTM) Gerakan Non-Blok (GNB) di Sharm El Sheilh, Mesir, Rabu (9/5).</p>
<p>Di hadapan para Menlu dari 120 negara anggota GNB, Marty yang didampingi Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi, menjelaskan tiga langkah pragmatis tersebut dalam upaya mencari penyelesaian yang adil dan konprehensif bagi Palestina.</p>
<p>Langkah pertama, kata Marty, GNB harus terus mencari jalan untuk masuknya Palestina menjadi anggota PBB.</p>
<p>Menurut Marty, Komisi Palestina di GNB telah membuat keputusan bersejarah dengan menyetujui sebuah peta jalan untuk memperluas pengakuan terhadap Palestina, di Bali, tahun lalu .</p>
<p>“Sejak itu, cukup banyak negara yang telah mengakui status kenegaraan Palestina dan kemudian Palestina berhasil untuk menjadi anggota UNESCO,” katanya.</p>
<p>Ia menekankan, GNB harus mulai berbuat sesuatu berdasarkan keberhasilan-keberhasilan tersebut dengan menciptakan momentum permanen menuju diterimanya Palestina menjadi anggota PBB.</p>
<p>“Negara-negara anggota Komisi Palestina di GNB harus dapat menjaga momentum yang ada saat ini dengan memasukkan isu tersebut ke dalam agenda pertemuan bilateral mereka pada sesi Sidang Umum PBB ke-67 tahun ini,” ujarnya.</p>
<p>Organisasi-organisasi internasional, termasuk GNB, dapat didorong untuk mengikuti contoh UNESCO.</p>
<p>Kedua, lanjut Marty, tindakan ilegal Israel, termasuk pembangunan pemukiman di tanah Palestina, harus dihentikan.</p>
<p>“Tindakan ilegal tersebut telah menjadi batu sandungan bagi pencapaian hak-hak dasar rakyat Palestina,” ujarnya.</p>
<p>Karena itu, lanjut Marty, upaya diplomatik harus tetap dilakukan setiap saat untuk mengingatkan dunia bahwa rakyat Palestina mengalami ketidakadilan yang merajalela.</p>
<p>Ketiga, GNB harus tetap menjalankan upaya membantu Palestina untuk membangun kapasitasnya demi pencapaian tata pemerintahan yang efektif.</p>
<p>“Seiring dengan persiapan Palestina untuk menyandang status kenegaraan, maka pembangunan negara dan penguatan institusi nasionalnya menjadi sangat penting,” katanya.</p>
<p>Marty menjelaskan, sejak diadopsinya resolusi Sidang Majelis Umum PBB 65/16, para pemimpin Palestina telah bekerja keras untuk menciptakan struktur-struktur untuk mengantisipasi berdirinya Negara Palestina.</p>
<p>“Kita harus mendukung Palestina dalam mencapai tujuan tersebut melalui kemitraan bersama. Komisi harus merancang modalitas yang praktis yang dapat meningkatkan dukungan internasional terhadap pembangunan kapasitas di Palestina,” paparnya.</p>
<p>Menyangkut Indonesia, Marty mengemukakan bahwa pemerintah sedang melaksanakan program pembangunan kapasitas untuk melatih 1.000 warga Palestina dalam berbagai bidang.</p>
<p>“Kami juga membuka kesempatan bagi negara-negara anggota GNB lainnya untuk terlibat dalam program ini dan program pembangunan kapasitas lainnya bagi rakyat Palestina,” ujarnya. (Ant/Wrt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/indonesia-tawarkan-3-langkah-untuk-kemerdekaan-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program wajib baca Alquran di Kabgor dinilai berhasil.</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/program-wajib-baca-alquran-di-kabgor-dinilai-berhasil/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/program-wajib-baca-alquran-di-kabgor-dinilai-berhasil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 03:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[Bupati Gorontalo, David Bobihoe Akib, mengatakan sejak tahun 2006 tercatat sebanyak 36.718 santri dari seluruh Taman Pengajian Alquran berhasil diwisuda. &#8220;Bahkan pada tahun 2012 ini, pemerintah daerah kembali mewisuda 2.056...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bupati Gorontalo, David Bobihoe Akib, mengatakan sejak tahun 2006 tercatat sebanyak 36.718 santri dari seluruh Taman Pengajian Alquran berhasil diwisuda.</p>
<p>&#8220;Bahkan pada tahun 2012 ini, pemerintah daerah kembali mewisuda 2.056 santri yang lulus melalui penetapan Kementerian Agama setempat, bekerjasama dengan bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat daerah (Setda),&#8221; papar Akib, Sabtu (12/5).</p>
<p>Akib mengakui pentingnya pengajaran tata cara baca Alquran dengan benar ditanamkan sejak dini, sebagai upaya pemerintah daerah dalam menciptakan generasi bangsa yang memiliki nilai moral agama yang kuat. &#8220;Agar keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat bisa diperoleh,&#8221; katanya.</p>
<p>Pengajaran Alquran sejak usia dini dinilai penting, sebab usia tersebut mereka memiliki daya tangkap sangat kuat, sehingga apa yang diajarkan akan cepat diingat.</p>
<p>TPA merupakan media pendidikan keagamaan yang sangat efektif, makanya pemerintah daerah berkeinginan memberikan perhatian yang lebih kepada para guru pengajarnya.</p>
<p>Pemerintah daerah akan mengeluarkan kebijakan menaikkan honor guru ngaji, minimal sama dengan honor yang diterima guru tidak tetap di daerah ini</p>
<p>Sumber : RMOL</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/program-wajib-baca-alquran-di-kabgor-dinilai-berhasil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Day One Juz</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/one-day-one-juz/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/one-day-one-juz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 03:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[Melihat judul di atas mungkin sebagian orang akan menyangka bukankah Al-Qur’an benda mati? untuk apa kita bersahabat dengannya? Perlu kita kembali dengar pepatah yang mengatakan seseorang dilihat dari teman (sahabatnya)....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat judul di atas mungkin sebagian orang akan menyangka bukankah Al-Qur’an benda mati? untuk apa kita bersahabat dengannya?</p>
<p>Perlu kita kembali dengar pepatah yang mengatakan seseorang dilihat dari teman (sahabatnya). Barangsiapa yang bersahabat dengan tukang minyak wangi maka akan ketularan bau wanginya, siapa yang dekat dengan pandai besi maka sangat mungkin terciprat bara apinya.</p>
<p>Nah sekarang yang menjadi pertanyaan Mengapa harus Al-Qur’an? Yang pertama dijawab adalah karena Al-Qur’an adalah kalam Allah, tidak ada sedikit pun perkataan manusia, bahkan ketika manusia di tantang untuk membuat satu surat pun tak akan bisa, karena Al-Qur’an dibuat dan diturunkan dengan ilmu Allah. Perhatikanlah Firman Allah berikut ini: “<em>Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”, </em>(QS. 26:192). “<em>dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin”</em>, (QS. 26:193)</p>
<p>Atas kehendak Allah, Al Qur’an diturunkan dari Lauhul Mafuzh di bawa oleh Ar Ruh Al-Amin (ada yang mengartikan Jibril), ke dalam hati manusia (Muhammad), agar supaya beliau dapat memberi peringatan kepada manusia. Hati yang dimaksud di sini adalah qalbu yang ghaib, karena Al Qur’an pun ghaib pula. Tidak mungkin tulisan di atas kertas itu dapat masuk ke dalam hati seseorang. Al Qur’an tidak dapat dibuat oleh manusia maupun jin.</p>
<p><em>“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan </em><em>kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal </em><em>al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu </em><em>orang-orang yang memang benar.” </em>(QS. 2:23)</p>
<p><em>“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat </em><em>membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia </em><em>dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” </em>(QS. 2:24)</p>
<p>Kemudian mungkin akan bertanya lagi mengapa harus Allah? Karena Dialah yang menciptakan manusia, bumi dan segala isinya serta seluruh makhluk hidup di dunia ini.</p>
<p><em>“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.”</em> (QS. Adz Dzariyat [51]: 56).</p>
<p>Demikian pula firman Allah <em>Ta’ala</em>, <em>“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya kecuali dengan Haq”</em> (QS. Al Hijr [39]: 85).</p>
<p>Demikian juga dalam firman Allah <em>Ta’ala:</em> <em>“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.</em> (QS. Ath Tholaaq [65]: 12).</p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala,</em> <em>“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.</em> (QS. Al Maidah [5]: 97).</p>
<p>Maka Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>mengabarkan kepada kita bahwa sesungguhnya <em>maksud dari penciptaan makhluk dan perkara yang diinginkan dari adanya mereka</em> adalah <em>agar mereka mengenal Allah dengan nama-namaNya yang mulia dan sifat-sifatNya</em>. Demikian juga agar mereka hanya <em>menyembah/beribadah hanya kepada Allah semata dengan tidak menyekutukanNya</em> dan agar manusia menegakkan keadilan yang mana Allah adalah Dzat yang Maha Adil yang dengan shifat adilnya tersebut tegaklah langit dan bumi.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em><em>:</em> <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan mizaan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”.</em> (QS. Al Hadiid [57]: 25).</p>
<p>Demikianlah kita tahu bahwa apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah, termasuk manusia dimana layaknya seorang pemilik sesuatu berarti dia berhak dan tau apa-apa yang mesti dilakukan terhadap barang yang dimilikinya. Intinya diri kita ini adalah hanya pinjaman dari Allah yang kapan saja Dia bisa mengambilnya ketika sudah sampai waktunya, maka dari itu adalah wajib bagi kita untuk bersyukur.</p>
<p>Lantas bentuk kesyukuran itu yang seperti apa? Tentu yang sesuai dengan keinginan Allah, karena bersyukur itu ternyata bermakna dengan mengikuti apa yang Allah mau sesuai aturan Allah. Adalah orang yang tak tahu diri jika kita tidak mengenal siapa pemiliknya, dan adalah fakta di bumi ini dari 7 Miliar manusia hanya kurang lebih 1,3 Miliar yang mengaku dirinya muslim. Muslim itupun masih terbagi, tidak semua muslim tau dan mau tahu akan kemuslimannya. Masih ada sebagian yang istilahnya (maaf) Muslim KTP. Berarti orang yang bersyukur sesuai keinginan Allah masih sedikit dibanding dengan yang belum maupun tidak bersyukur sesuai keinginan Allah. Lantas bagaimana indikator orang yang bersungguh-sungguh bersyukur sesuai keinginan Allah? Salah satunya adalah dapat kita lihat shaff jama’ah shalat subuh di masjid.</p>
<p>Kembali pada persahabatan kita dengan Al Quran, bahwa ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an entah itu membaca, memahami maknanya, atau menghafalnya maka kita gunakan seluruh potensi dari tubuh ini. Mata kita gunakan untuk melihat, mulut komat-kamit membaca atau mengejanya, tangan kita pakai untuk memegangnya, otak berkonsentrasi, telinga mendengar, kaki ditata untuk duduk nyaman, suara, pernafasan, semuanya kita berdayakan. Subhanallah karena apa? Karena kelak kita akan dihisab, ketika tubuh dan seluruh anggotanya kita gunakan untuk berinteraksi dengan Al Quran, maka Allah pun ikut bangga dan senang. Namun sebaliknya jika tubuh dan seluruh anggotanya lebih banyak untuk bermaksiat maka rugilah kita. Firman Allah dalam QS Yaa Siiiiiin 65: <em>“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”</em></p>
<p>Mengapa harus menjadi sahabat Al-Qur’an? Ya karena kita adalah muslim, dan sepantasnyalah menjadikan apa-apa yang baik menjadi sahabatnya. Sahabat diartikan yang selalu menyatu, satu irama, satu tujuan. Sehingga ketika yang kita jadikan sahabat baik dalam hal ini Al-Qur’an maka pastilah kita menjadi baik. Oleh karena itu Al-Qur’an selain menjadi hukum Islam yang pertama dialah pedoman hidup juga bagi umat Islam.  Maka tak heran jika generasi sahabat yaitu salafushalih adalah generasi terbaik sepanjang masa di dunia. Mengapa demikian yak arena mereka para sahabat menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat. Mereka adalah generasi pertama umat ini yang telah mendapat rekomendasi dari Allah dan RasulNya, telah mendapatkan keridhaan dari Allah Azza Wajalla. Karena mereka orang-orang yang langsung menerima dan mempelajari agama dari Rasulullah SAW. Amalan dan Aqidah mereka telah disaksikan Rasulullah.</p>
<p>Firman Allah At Taubah 100:”<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”  </em>Juga Rasulullah bersabda, “<em>Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” </em>(Muttafaq ‘Alaih).</p>
<p>Begitulah Allah menjadikan generasi sahabat mulia karena mereka bersahabat dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu ketika kita sering berinteraksi dengan Al-Qur’an maka akan mulia. Karena satu-satunya kitab yang Allah muliakan adalah Al-Qur’an. Mendekat dengan Al-Qur’an maka Allah akan mudahkan apa saja di dunia dan akhirat.</p>
<p>Sebagaimana kita harus dekat dengan Al-Qur’an maka adalah kewajiban seorang muslim/ah terhadap Al-Qur’an adalah:</p>
<p><strong>1. At Tilawatu: Membacanya.</strong></p>
<p>Tentu dengan bacaan yang benar, karena hukum membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain. Namun hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Lantas bagaimana agar bisa membaca dengan benar? Maka jawabnya harus belajar pada seorang guru dengan proses talaqqi. Talaqqi adalah belajar membaca Al Quran secara langsung dibimbing oleh seorang guru Al-Qur’an. Dalam talaqqi seseorang akan mendapatkan pengarahan yang benar setiap kali salah membaca. Bacaan Al-Qur’an bukan berdasarkan ijtihad tetapi riwayat, sehingga harus melalui proses talaqqi kepada seorang guru dan tidak dapat dipelajari sendiri. Sabda Rasulullah saw, “Orang yang mahir dalam Al Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci. Dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim dan Ahmad)</p>
<p>Sabda Rasulullah saw, “Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>2. Al Hifdzu: Menghafalnya</strong></p>
<p>Al-Qur’an selain dibaca dan direnungkan juga perlu untuk dihafal. Dipindahkan dari tulisan ke dalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur keimanan hati seseorang. Allah SWT berfirman: <em>“Sebenarnya Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang yang zhalim</em>” (QS 29:49), Juga sabda Rasulullah “<em>Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat ayat dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni.</em>”(HR At Tirmidzi)</p>
<p><strong>3. Al Fahmu: Memahami Isinya</strong></p>
<p>Untuk dapat memahami isi Al-Qur’an haruslah menguasai bahasa Arab. Karena jika hanya membaca terjemahnya saja belum cukup untuk bisa memahami isinya. Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang sangat tinggi sastranya. Oleh karena itu sebagai muslim yang baik butuh belajar bahasa Arab. Oleh karena itu, menurut kaidah hukum Islam, mengerti akan ilmu Nahwu bagi mereka yang ingin memahami Al-Qur’an hukumnya fardhu ‘ain.</p>
<p><strong>4. Al ‘Amalu: Mengamalkan</strong></p>
<p>Sebagai seorang muslim, tentu urusan mengamalkan isi Al-Quran sudah menjadi harga mati. Sebab Al-Quran bukan sekedar kitab untuk dibaca saja, tetapi lebih dari itu, Al-Quran adalah petunjuk hidup.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p><em>“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertaqwa atau Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” </em>(QS. Thaha: 113)</p>
<p><em>“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam</em>.” (QS. As-Syura: 7)</p>
<p>Namun kita juga perlu tahu bahwa isi Al-Quran itu sangat luas, mencakup wilayah yang menjadi pokok agama, tetapi juga ada wilayah yang bersifat anjuran. Kalau kita pinjam istilah para ahli fiqih, ada wajib dan ada sunnah. Ada haram dan ada makruh.</p>
<p>Jadi yang harus dijalankan terutama pada bagian yang paling esensial, seperti urusan dasar aqidah dan syariah. Jadi kami batasi dulu saja, bahwa mengamalkan isi Al-Quran adalah sesuatu yang mutlak wajib dijalankan, terutama pada wilayah yang paling esensial, yaitu aqidah dan syariah.</p>
<p>Di tataran aqidah, rasanya sedikit sekali wilayah perbedaan pendapatnya. Beda dengan tataran syariah yang agak lebih beragam teknis pelaksanaannya. Dan masalah itu nanti akan dibahas pada bab fiqih.</p>
<p>Tentu saja isi Al-Quran bukan hanya aqidah dan syariah saja, tapi mencakup semua ajaran Allah SWT. Namun karena jumlah ayat Al-Quran sangat terbatas, yaitu berkisar hanya 6000-an ayat lebih saja, maka tentu saja detail-detail isi dan teknisnya nanti dijelaskan lewat hadits-hadits nabawi. Boleh dibilang yang ada di dalam Al-Quran baru sebatas prinsip-prinsip dasarnya.</p>
<p><strong>5. Ad Da’watu: Mendakwahkan, mengajak orang untuk mengikuti Al-Qur’an.</strong></p>
<p>Intinya kita tidak boleh shalih sendirian. Sabda Rasulullah <em>“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”</em> (HR Bukhari)</p>
<p>Wallahu a’lam bishawwab</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh : Anindya Sugiyarto</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Maraji”:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Kajian Ust. Dr Amir Faishol tentang Menjadi Sahabat Al-Qur’an</li>
<li>Ilmu Nahwu oleh K.H. Moch Anwar</li>
<li>Pedoman Dauroh Al-Qur’an Abdul Aziz Abdur Rauf, Al Hafizh, Lc</li>
<li>Panduan Tahsin Tilawah H Ahmad Muzammil MF, Al Hafizh</li>
<li>Majalah Nikah Volume 7 15 Agt-15 Sept 2008</li>
<li><em> </em>www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/tarbiyah3/qa-islam/QA023.txt</li>
<li><em>alhijroh.com/…/<strong>allah</strong>-menciptakan-<strong>seluruh</strong>-<strong>makhluk</strong>-agar-mereka-…</em></li>
<li>www.eramuslim.com/ustadz…/keutamaan-<strong>membaca</strong>-<strong>al</strong>-<strong>qur</strong>-an.htm</li>
<li><em>www.ustsarwat.com › </em><em>Ustadz Menjawab</em><em> › </em><em>Al-Qur`an</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/one-day-one-juz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam   (Bag. 3)</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-3/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 20:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2244</guid>
		<description><![CDATA[Kesedihan Ya&#8217;qub semakin bertambah dan bagaimana Beliau tetap tidak berputus asa Maka ayah mereka pergi meninggalkan anak-anaknya dan mulai menangisi Yusuf dan saudaranya sampai matanya buta karena rasa sedih yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kesedihan Ya&#8217;qub semakin bertambah dan bagaimana Beliau tetap tidak berputus asa</strong></p>
<p>Maka ayah mereka pergi meninggalkan anak-anaknya dan mulai menangisi Yusuf dan saudaranya sampai matanya buta karena rasa sedih yang mendalam, lalu anak-anak mereka berkata, &#8220;<em>Demi Allah, kamu senantiasa mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa&#8221;.</em></p>
<p>Yakni sehingga badannya semakin kurus dan kekuatannnya semakin lemah.</p>
<p>Ya&#8217;qub menjawab, &#8220;Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.&#8221;</p>
<p>Maka Nabi Ya&#8217;qub meminta mereka mencari Yusuf dan saudaranya, ia menyadari sebagai seorang mukmin bahwa dirinya tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selanjutnya anak-anaknya pergi menuju Mesir pada kesekian kalinya untuk mencari saudara mereka dan mencari sebagian makanan dengan membawa barang-barang yang kurang berharga. Ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, &#8220;Wahai Al Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada Kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yusuf memberitahukan jati dirinya</strong></p>
<p>Lalu Yusuf menimpali kata-kata mereka secara tiba-tiba dengan ucapan ini, &#8220;<em>Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?&#8221;.</em></p>
<p>Mereka pun balik menjawab, &#8220;Mereka berkata, &#8220;Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?&#8221;.</p>
<p>Yusuf menjawab, &#8220;Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.&#8221;</p>
<p>Maka saudara-saudaranya pun meminta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya, lalu Yusuf memaafkannya dan memintakan ampunan kepada Allah untuk mereka, lalu Yusuf bertanya kepada mereka tentang ayahnya. Dari berita yang disampaikan, Yusuf mengetahui bahwa ayahnya telah buta matanya karena kesedihannya atas kehilangan Yusuf, lalu Yusuf berkata kepada mereka, &#8220;Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.&#8221;</p>
<p>Kemudian mereka membawa gamisnya dan keluar dari Mesir menuju kampung mereka di Palestina. Di tengah perjalanan, sebelum kafilah itu datang, Nabi Ya&#8217;qub telah merasakan wangi Nabi Yusuf, ia berkata, &#8220;Sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)&#8221;.</p>
<p>Keluarganya berkata, &#8220;Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertemuan Yusuf dengan ayahnya</strong></p>
<p>Setelah berlalu beberapa hari, saudara-saudara Yusuf kembali kepada ayahnya dan memberitahukan kabar gembira tentang saudara mereka Yusuf, lalu mereka mengeluarkan gamis Yusuf dan meletakkan ke wajah ayahnya, maka penglihatannya pun kembali normal.</p>
<p>Ketika itu, saudara-saudara Yusuf meminta kepada ayahnya agar memintakan ampunan untuk mereka kepada Allah, maka Nabi Ya&#8217;qub menjanjikan akan memintakan ampunan untuk mereka nanti di waktu sahur, karena waktu tersebut lebih mustajab.</p>
<p>Selanjutnya Ya&#8217;qub beserta anak-anaknya (Bani Israil) pergi meninggalkan Palestina menuju Mesir, dan saat mereka masuk ke negeri Mesir, maka mereka disambut dengan sambutan yang besar. Yusuf juga memuliakan kedua orang tuanya dan menempatkannya di kursinya. Ketika itu, Ya&#8217;qub dan istrinya beserta sebelas anaknya tidak sanggup menahan dirinya untuk sujud sebagai penghormatan kepada Yusuf, dan ingatlah Yusuf akan mimpinya terdahulu ketika ia masih kecil; dan bahwa matahari dan bulan adalah ibu dan bapaknya, sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya. Yusuf berkata, &#8220;Wahai ayahku Inilah ta&#8217;bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. (Lihat Yusuf: 100)</p>
<p>Ketika Nabi Yusuf memegang pemerintahan Mesir, maka Yusuf menggunakan kesempatan itu untuk mengajak rakyatnya menyembah Allah dan setelah selesai urusannya dan ia merasa bahwa hidupnya tidak lama, ia pun berkata sambil mengakui nikmat Allah, menyukurinya dan berdoa agar tetap di atas Islam sampai akhir hayat, Yusuf berkata, &#8221; <em>Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” </em>(Lihat QS. Yusuf: 101)</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia? Beliau menjawab, &#8220;Yaitu orang yang paling bertakwa.&#8221; Maka para sahabat berkata, &#8220;Bukan ini maksud pertanyaan kami?&#8221; Beliau pun bersabda, &#8220;Yaitu Yusuf seorang Nabi Allah putera Nabi Allah putera Nabi Allah putera kekasih Allah.&#8221;</p>
<p>Kisah Nabi Yusuf ini secara panjang lebar disebutkan Allah dalam surah Yusuf.</p>
<p><em>Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, </em><em>wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.</em></p>
<p align="right"><sup>Marwan bin Musa</sup></p>
<p><strong><sup>Maraaji’:</sup></strong><sup>Al Qur’anul Karim, </sup><sup>Hidayatul Insan bitafsiril Qur&#8217;an (Abu Yahya Marwan), Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islam.aljayyash.net/">www.islam.aljayyash.net</a></span>), </sup><sup>Shahih </sup><sup>Qashash</sup><sup>i</sup><sup>l Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy), dll.</sup></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam  (Bag. 2)</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-2/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 20:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2239</guid>
		<description><![CDATA[Raja Bermimpi Pada suatu hari raja tidur dan bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh)...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Raja Bermimpi</strong></p>
<p>Pada suatu hari raja tidur dan bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering, maka raja pun segera bangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut, ia pun segera mengumpulkan para pemukanya dan menceritakan mimpinya itu serta meminta mereka menakwil mimpi itu, tetapi mereka semua tidak sanggup. Mereka juga berusaha memalingkan raja dari mimpi itu agar tidak dibuat cemas olehnya sambil berkata, &#8220;<em>Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mentakwikan mimpi itu.&#8221;</em> (Terj. QS. Yusuf: 44)</p>
<p>Meskipun demikian, raja tetap gelisah atas mimpinya itu dan terus berusaha mengetahui maksud mimpinya, hingga akhirnya tukang pemberi minum raja ingat dengan Nabi Yusuf dan meminta raja masuk ke dalam penjara untuk menemui Yusuf. Ketika itulah ia meminta Nabi Yusuf menakwil mimpi raja itu, maka Yusuf menakwilnya, bahwa sapi yang gemuk dan tujuh bulir itu adalah tujuh tahun dimana pada tahun itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan.</p>
<p>Nabi yusuf &#8216;alaihis salam tidak hanya menakwilkan mimpi, tetapi menawarkan cara terbaik bagi mereka dalam mengatasinya, yaitu mereka harus menyimpan hasil tanaman mereka untuk menghadapi tahun-tahun kemarau dengan cara membiarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk dimakan sampai Allah akan membukakan kelapangan.</p>
<p>Ketika tukang pemberi minum raja telah mengetahui takwilnya, maka ia segera kembali ke raja dan memberitakan apa yang dikatakan Yusuf kepadanya, maka raja pun bergembira sekali, lalu raja bertanya tentang orang yang menakwil mimpinya itu, maka tukang pemberi minum raja memberitahukannya, yaitu Yusuf. Mendengar jawabannya, maka raja segera meminta Yusuf dibawa ke hadapannya. Lalu utusan raja segera menemui Yusuf dan menyuruh Yusuf mengikuti ajakan raja untuk menemuinya, tetapi Yusuf menolak menemuinya sampai jelas kebersihan dirinya dan bahwa dirinya tidak bersalah, agar raja mengetahui tentang apa yang terjadi pada kaum wanita di kota itu.</p>
<p><strong>Keluarnya Yusuf dari penjara dan Beliau menjadi pejabat Mesir</strong></p>
<p>Maka raja pun mengirim utusan untuk menemui istri Al &#8216;Aziz dan wanita-wanita lainnya serta bertanya kepada mereka tentang masalah Yusuf, mereka pun mengakui kesalahan mereka serta menyatakan tobatnya, mereka berkata, &#8220;Mahasuci Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.&#8221;</p>
<p>Istri Al &#8216;Aziz juga menjelaskan kebersihan Yusuf di hadapan manusia.</p>
<p><strong>Yusuf bertemu saudara-saudaranya</strong></p>
<p>Ketika itulah, raja mengeluarkan ketetapan bersihnya Yusuf dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dan memerintahkan agar Yusuf dikeluarkan dari penjara, ia juga memuliakan Yusuf dan mendekatkan dirinya kepadanya, lalu raja memberikan pilihan kepadanya untuk memilih jabatan yang ia mau, maka Yusuf berkata, &#8220;Jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.&#8221; (lihat Yusuf: 55)</p>
<p>Raja pun setuju terhadap permintaan Yusuf itu karena amanah dan ilmunya.</p>
<p>Selanjutnya, apa yang dimimpikan raja pun terwujud satu persatu, Di tengah-tengah pembagian bahan makanan pokok yang dilakukan Yusuf kepada rakyat tiba-tiba Yusuf bertemu dengan orang-orang yang ia kenali, baik bahasanya, fisiknya, dan nama-namanya. Orang-orang ini datang secara tiba-tiba tanpa disadari sebelumnya, dan ternyata mereka adalah saudara-saudaranya; anak-anak ayahnya; Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenalnya lagi. Merekalah yang dahulu melempar Yusuf ke dalam sumur ketika ia masih kecil, namun sekarang mereka datang karena butuh bahan makanan. Yusuf pun berbuat baik kepada mereka, dan mereka juga bermu&#8217;amalah secara baik kepadanya. Selanjutnya Yusuf menanyakan keadaan mereka dan jumlah mereka, lalu mereka memberitahukan bahwa jumlah mereka ada dua belas orang, seorang dari mereka pergi dan masih ada saudara kandungnya yang sedang bersama ayahnya karena ayahnya mencintainya dan berat melepasnya.</p>
<p>Setelah Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dimana masing-masing mereka memperoleh seukuran beban unta, maka Yusuf berkata, &#8220;<em>Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat takaran lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.&#8221;</em> (Lihat Yusuf: 59-60)</p>
<p>Saudara-saudara Yusuf berkata, &#8220;<em>Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.&#8221;</em></p>
<p>Lalu Yusuf memerintahkan para pelayannya untuk memasukkan barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, agar mereka mengetahuinya ketika mereka telah kembali kepada keluarganya, yakni agar mereka mengembalikan barang-barang itu ke Mesir atau karena Yusuf khawatir nanti mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk menukar lagi. Yang demikian dilakukan Yusuf agar mereka bersedia kembali lagi kepadanya.</p>
<p>Kemudian saudara-saudara Yusuf pulang menemui ayah mereka sambil berkata, &#8220;<em>Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat takaran (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami agar kami mendapat takaran, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.&#8221;</em></p>
<p>Tetapi Nabi Ya&#8217;qub menolaknya, kemudian saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi barang mereka untuk mengeluarkan isi barang bawaan mereka, tetapi mereka dikejutkan dengan adanya barang mereka yang lama yang mereka jadikan sebagai alat tukar, maka mereka memberitahukan kepada ayah mereka bahwa barang bawaan mereka dikembalikan, dan mereka pun segera mendesak ayah mereka dengan menyebutkan maslahatnya bagi keluarga mereka ketika memperoleh makanan. Mereka juga menguatkan azamnya untuk menjaga saudara mereka, Bunyamin. Mereka juga mendorong ayah mereka dengan sungguh-sungguh agar takaran bagi saudara mereka bertambah, karena Yusuf memberikan untuk setiap orangnya seukuran beban unta.</p>
<p>Maka ayah mereka berkata, &#8220;Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.&#8221;</p>
<p><strong>Saudara-saudara Yusuf kembali ke Mesir </strong></p>
<p>Setelah mereka memberikan janji mereka, Maka Ya&#8217;qub berkata, <em>&#8220;Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).&#8221;</em></p>
<p>Nabi Ya&#8217;qub juga berpesan kepada mereka dengan berkata, <em>&#8220;Wahai anak-anakku! Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan; meskipun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.&#8221;</em></p>
<p>Maka berangkatlah saudara-saudara Yusuf ke Mesir dan masuk ke pintu gerbangnya mengikuti saran ayah mereka agar mereka tidak tertimpa &#8216;ain (penyakit dari mata) karena penampilan mereka yang rupawan atau agar mereka mendapat berita tentang Yusuf. Selanjutnya, ketika mereka telah berada di depan Yusuf, maka Yusuf mengajak saudaranya yang paling kecil itu (Bunyamin), mendekatkannya dan berbincang-bincang secara berduaan dengannya, dan memberitahukan bahwa dirinya adalah Yusuf; saudaranya.</p>
<p><strong>Siasat Yusuf agar saudara kandungnya tetap bersamanya</strong></p>
<p>Selanjutnya disiapkanlah perbekalan untuk saudara-saudara Yusuf agar mereka pulang dengan membawanya, tiba-tiba Yusuf ingin saudaranya tetap bersamanya, maka Yusuf menyuruh para pelayannya untuk meletakkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. kemudian berteriaklah seseorang sambil menyerukan, <em>&#8220;Wahai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.&#8221;</em></p>
<p>Kemudian saudara-saudara Yusuf pun segera menanyakan sesuatu yang hilang itu, lalu orang yang berseru itu memberitahukan, bahwa piala raja hilang dan raja telah menjanjikan untuk memberikan upah berupa bahan makanan (seberat) beban unta. Tetapi saudara-saudara Yusuf tidak menerima tuduhan itu sehingga muncul dialog yang dalam dengan Yusuf, mereka bukan sebagai pencuri dan mereka pun mau bersumpah untuk hal itu, lalu para penjaga berkata, &#8220;Apa balasannya jika kamu dusta?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya).&#8221;</p>
<p>Menurut syari&#8217;at Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam, bahwa barang siapa mencuri maka hukumannya ialah si pencuri dijadikan budak satu tahun bagi orang yang dicuri.</p>
<p>Oleh karena Yusuf mengetahui, bahwa yang hukuman tersebut adalah hukuman yang berlaku pada syariat Bani Israil, maka ia menerima hukuman itu, tidak mengikuti hukuman yang diberlakukan di Mesir, dan saudara-saudaranya pun setuju terhadap hukuman itu, maka Yusuf memerintahkan para pengawalnya untuk memeriksa karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian mereka menemukan piala raja itu dari karung saudaranya.</p>
<p>Mereka (saudara-saudara Yusuf) pun berkata, <em>&#8220;Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.&#8221;</em> Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), &#8220;<em>Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu terangkan itu&#8221;.</em> (Lihat QS. Yusuf: 77)</p>
<p>Maka saudara-saudaranya pun ingat akan janji mereka kepada ayah mereka, yaitu akan mengembalikan saudara mereka yang paling kecil ini &#8220;Bunyamin&#8221; kepada ayah mereka. Mereka pun berkata kepada Yusuf, &#8220;<em>Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya. Oleh karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik.&#8221;</em></p>
<p>Yusuf berkata, &#8220;Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka kami benar-benar sebagai orang-orang yang zalim.&#8221; (Lihat QS. Yusuf: 78-79).</p>
<p>Maka ketika mereka berputus asa dari pada keputusan Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. berkatalah yang tertua di antara mereka, &#8220;Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan Katakanlah, &#8220;Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami sekali-kali tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Selanjutnya, jika ayah ragu-ragu, katakan kepadanya, &#8220;Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar&#8221;. (Lihat QS. Yusuf: 80-82).</p>
<p>Ayah mereka (Nabi Ya&#8217;qub) menjawab, &#8220;Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.&#8221;</p>
<p>Bersambung….</p>
<p align="right"><sup>Marwan bin Musa</sup></p>
<p><strong><sup>Maraaji’:</sup></strong><sup>Al Qur’anul Karim, </sup><sup>Hidayatul Insan bitafsiril Qur&#8217;an (Abu Yahya Marwan), Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islam.aljayyash.net/">www.islam.aljayyash.net</a></span>), </sup><sup>Shahih </sup><sup>Qashash</sup><sup>i</sup><sup>l Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy), dll.</sup></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam   (Bag. 1)</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-1/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 20:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2236</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf &#8216;alaihis salam bermimpi Pada suatu malam ketika Yusuf masih kecil, ia bermimpi dengan mimpi yang menakjubkan. Beliau bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Ketika Beliau bangun,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yusuf &#8216;alaihis salam bermimpi</strong></p>
<p>Pada suatu malam ketika Yusuf masih kecil, ia bermimpi dengan mimpi yang menakjubkan. Beliau bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Ketika Beliau bangun, maka Beliau langsung mendatangi ayahnya, Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam menceritakan mimpinya itu. Ayahnya pun langsung memahami takwilnya, dan bahwa akan terjadi pada anaknya suatu urusan yang besar. Maka ayahnya segera mengingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya yang nantinya setan akan merusak hubungan mereka dan berhasad kepadanya atas pemberian Allah itu. Yusuf pun menaati saran ayahnya.</p>
<p><strong>Saudara-saudara Yusuf berniat buruk kepada Yusuf</strong></p>
<p>Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam sangat sayang kepada Yusuf sehingga membuat saudara-saudaranya merasa iri dengannya. Mereka pun berkumpul untuk membuat makar kepadanya agar Yusuf dijauhkan dari ayahnya dan kasih sayang itu beralih kepada mereka.</p>
<p>Salah seorang di antara mereka mengusulkan untuk membunuh Yusuf atau membuangnya ke tempat yang jauh agar perhatian ayahnya hanya tertumpah kepada mereka saja, setelah itu mereka bertobat kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala, akan tetapi di antara mereka ada yang menolak usulan dibunuhnya Yusuf, ia hanya mengusulkan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang berada jauh agar nanti ditemukan oleh kafilah yang lewat, lalu mereka mengambil dan menjualnya. Ternyata usulan inilah yang dipandang baik dan diterima mereka. Dengan demikian, kesimpulan kesepakatan mereka adalah hendaknya Yusuf diasingkan dan dijauhkan dari tengah-tengah mereka.</p>
<p>Mulailah mereka berpikir bagaimana caranya agar rencana mereka itu dapat terlaksana dengan baik. Setelah itu, mereka pun mendemukan caranya. Mereka pun datang kepada ayah mereka dan berkata, &#8220;Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.&#8221;</p>
<p>Nabi Ya&#8217;qub berkata, &#8220;Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedangkan kamu lengah darinya.&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.&#8221; (Lihat QS. Yusuf: 11-14)</p>
<p><strong>Yusuf dimasukkan ke dalam sumur</strong></p>
<p>Maka pada pagi hari, mereka keluar membawa Yusuf ke gurun sambil menggembala kambing-kambing mereka. Setelah mereka berada jauh dari ayah mereka, maka mulailah mereka melakukan rencana itu, mereka berjalan hingga tiba di sumur, lalu mereka melepas baju Yusuf dan melempar Yusuf ke dalamnya. Ketika itu, Allah mewahyukan kepada Yusuf, <em>&#8220;Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi.&#8221;</em> (Lihat QS. Yusuf: 15)</p>
<p>Setelah mereka berhasil memasukkan Yusuf ke sumur, maka mereka berpikir kembali tentang apa yang akan mereka katakan nanti di hadapan ayah mereka ketika ayahnya bertanya tentang Yusuf, hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengatakan bahwa seekor serigala memakannya, dan untuk menguatkan pernyataan mereka itu, mereka sembelih seekor kambing lalu darahnya mereka lumuri ke baju Yusuf.</p>
<p>Di malam hari, mereka pulang menemui ayahnya dalam keadaan pura-pura menangis. Nabi Ya&#8217;qub pun melihat mereka dan ternyata Yusuf tidak ada di tengah-tengah mereka, lalu mereka memberitahukan secara dusta, bahwa ketika mereka pergi untuk pergi berlomba-lomba dan mereka tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangnya, lalu Yusuf dimakan serigala. Selanjutnya mereka mengeluarkan gamisnya yang berlumuran darah untuk menguatkan pernyataan mereka.</p>
<p>Tetapi Nabi Ya&#8217;qub melihat gamisnya dalam keadaan tidak robek, karena mereka lupa merobeknya, lalu Ya&#8217;qub berkata kepada mereka, &#8220;<em>Sungguh aneh serigala ini, mengapa ia bersikap sayang kepada Yusuf, ia memakannya tanpa merobek pakaiannya.</em>&#8221; Maka Ya&#8217;qub berkata kepada mereka menerangkan kedustaan mereka, &#8220;<em>Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.&#8221;</em> (lihat Yusuf: 18).</p>
<p><strong>Yusuf dikeluarkan dari sumur dan dibawa ke Mesir</strong></p>
<p>Adapun Yusuf, maka ia tetap berada dalam sumur menunggu adanya orang yang mau menolongnya. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang sebuah kafilah yang hendak menuju Mesir, lalu mereka ingin menambahkan persediaan mereka, kemudian mereka mengutus salah seorang dari mereka ke sumur untuk membawakan air. Ketika ia menurunkan timbanya, maka Yusuf bergantung kepadanya, lalu orang itu melihat ke isi sumur, ternyata dilihatnya seorang anak muda yang tampan berpegangan dengannya. Orang ini pun merasa senang dan memberitahukan kepada kawan-kawannya yang lain, lalu mereka mengeluarkan Yusuf dan membawanya bersama mereka menuju Mesir untuk dijual.</p>
<p>Pada suatu hari, Al &#8216;Aziz berkeliling di pasar untuk membeli seorang anak buat dirinya, karena ia tidak punya anak. Kemudian kafilah itu menawarkan Yusuf kepadanya, lalu raja Al &#8216;Aziz membelinya dengan harga beberapa dirham saja.</p>
<p>Kemudian Al Aziz pulang ke istrinya dalam keadaan senang karena membeli seorang anak. Ia juga menyuruh istrinya memuliakan anak tersebut dan berbuat baik kepadanya, mungkin saja ia dapat bermanfaat bagi keduanya atau dijadikan sebagai anak angkat. Demikianlah Allah memberikan kekuasaan kepada Yusuf di bumi sehingga ia hidup di bawah kasih sayang Al &#8216;Aziz dan pengurusannya.</p>
<p><strong>Istri Al Aziz menggoda Yusuf</strong></p>
<p>Waktu pun berlalu dan Yusuf semakin dewasa, ia tumbuh sebagai pemuda yang kuat dan sangat tampan. Istri Al &#8216;Aziz selalu memperhatikan Yusuf setiap harinya dan tertarik kepadanya, mulailah ia menampakkan rasa sukanya melalui isyarat dan sindiran, tetapi Yusuf berpaling darinya dan tidak peduli terhadapnya, maka mulailah wanita ini berpikir bagaimana caranya agar dapat merayu Yusuf.</p>
<p>Suatu hari, ketika suaminya pergi meninggalkan istana, istrinya memanfaatkan kesempatan itu, ia berhias dan memakai pakaian yang indah, mengunci pintu rumahnya dan mengajak Yusuf untuk masuk ke kamarnya serta memintanya melakukan perbuatan keji dengannya.</p>
<p>Akan tetapi Nabi Yusuf &#8216;alaihis salam dengan sifat &#8216;iffah (menjaga diri) dan sucinya menolak ajakannya, ia berkata, &#8220;<em>Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.</em>&#8221; (Lihat QS. Yusuf: 23)</p>
<p>Lalu Yusuf segera pergi menuju pintu untuk keluar dari tempat itu, namun istri Al &#8216;Aziz tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menarik Yusuf dari belakang untuk menghalanginya keluar dan menahan gamisnya hingga robek. Tiba-tiba, suaminya yaitu Al Aziz (mentri Mesir) pulang, suasana pun semakin kritis, istri Al &#8216;Aziz segera meloloskan diri dari keadaan kritis itu di hadapan suaminya dan menuduh Yusuf sebagai orang yang khianat serta berupaya menzaliminya, ia pun berkata kepada suaminya, &#8220;Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?&#8221; (Lihat Yusuf: 25)</p>
<p>Terhadap tuduhan itu Nabi Yusuf segera membela diri dan berkata, &#8220;Dialah yang merayu diriku.&#8221;</p>
<p>Maka suaminya meminta penyelesaian kepada salah seorang keluarganya, lalu aggota keluarga itu berkata tanpa ragu, &#8220;Lihatlah! Jika baju gamisnya koyak di depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.&#8211; Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.&#8221; (Lihat Yusuf: 26-27)</p>
<p>Lalu suaminya menoleh kepada istrinya, dan berkata kepadanya, <em>&#8220;Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.&#8221;</em> (Lihat Yusuf: 28)</p>
<p>Selanjutnya Al &#8216;Aziz meminta Yusuf untuk membiarkan masalah ini dan tidak membicarakannya di depan seorang pun, lalu suaminya meminta istrinya meminta ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahannya.</p>
<p>Penduduk Mesir meskipun mereka menyembah patung, namun mereka tahu bahwa yang dapat mengampuni dan menyiksa hanyalah Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala. Oleh karenanya Al &#8216;Aziz menyuruh istrinya meminta ampun kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p><strong>Berkumpulnya wanita-wanita Mesir atas undangan istri Al &#8216;Aziz</strong></p>
<p>Semua pihak pun sepakat untuk menyembunyikan masalah ini, namun demikian ternyata berita merayunya istri Al &#8216;Aziz kepada Yusuf telah tersebar di istana, dan wanita-wanita kota itu pun telah membicarakannya, yakni bahwa istri Al &#8216;Aziz menggoda pelayannya, yaitu Yusuf.</p>
<p>Istri Al &#8216;Aziz pun mengetahui keadaan itu hingga ia marah dan ingin menunjukkan alasan terhadap tindakannya itu kepada kaum wanita yang membicarakan dirinya, dan bahwa ketampanan Yusuf itulah yang membuat dirinya melakukan hal itu.</p>
<p>Maka istri Al &#8216;Aziz mengundang kaum wanita kepadanya dan ia telah mempersiapan untuk mereka tempat yang istimewa, ia juga telah memberikan masing-masing mereka sebilah pisau beserta buahnya, lalu istri Al &#8216;Aziz menyuruh Yusuf keluar.</p>
<p>Yusuf pun keluar menuruti perintah majikannya, maka ketika kaum wanita melihatnya, mereka semua terpesona dengan ketampanannya dan tanpa sadar mereka melukai tangan mereka dengan pisau, sampai-sampai mereka semua mengira bahwa Yusuf adalah seorang malaikat. Istri Al &#8216;Aziz pun berkata, &#8220;<em>Itulah orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina.&#8221; </em>(Lihat Yusuf: 32)</p>
<p><strong>Yusuf memilih di dalam penjara </strong></p>
<p>Maka kaum wanita pun menerima alasan  istri Al &#8216;Aziz, dan ketika Yusuf melihat keadaan seperti itu, ia berdoa, &#8220;<em>Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.&#8221; </em>(Terj. Yusuf: 33)</p>
<p>Hampir saja terjadi fitnah di Madinah karena rasa cinta kaum wanita kepada Yusuf, maka pihak berwenang memandang bahwa Yusuf perlu dipenjarakan sampai waktu tertentu.</p>
<p>Mereka pun memenjarakan Yusuf dan tinggallah Yusuf di penjara selama beberapa waktu, dan ternyata ada pula dua orang yang masuk penjara bersamanya, yang satu sebagai tukang roti, sedangkan yang satu lagi tukang pemberi minum raja. Keduanya melihat akhlak Nabi Yusuf yang begitu mulia dan ibadah yang dilakukannya yang mengagumkan sehingga keduanya mendatangi Yusuf dan menceritakan mimpi keduanya kepada Yusuf sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya, &#8220;<em>Berkatalah salah seorang di antara keduanya, &#8220;Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.&#8221; Dan yang lainnya berkata, &#8220;Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.&#8221; berikanlah kepada kami takwinya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakwilkan mimpi)</em>.&#8221; (Terj. QS. Yusuf: 36)</p>
<p>Maka Nabi Yusuf menakwil mimpi keduanya, namun sebelumnya Nabi Yusuf mengajak mereka beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Selanjutnya, Beliau menakwil mimpi mereka berdua, bahwa di antara mereka berdua ada yang akan keluar dari penjara dan kembali bekerja seperti semula memberi minum kepada raja, sedangkan yang satu lagi akan disalib dan burung akan memakan kepalanya.</p>
<p>Sebelum pemberi minum dikeluarkan dari penjara, Nabi Yusuf meminta kepadanya agar menyampaikan masalah dirinya kepada raja bahwa dia tidaklah bersalah dan bahwa dia dipenjara secara zalim agar Beliau dimaafkan dan dikeluarkan dari penjara, tetapi setan membuat tukang pemberi minum raja ini lupa tidak menyebutkan masalah Yusuf kepada raja sehingga Yusuf tetap tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. Maka berlalulah waktu dan terjadilah apa yang ditakwikan Yusuf itu terhadap keduanya.</p>
<p>Bersambung….</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><sup>Marwan bin Musa</sup></p>
<p><strong><sup>Maraaji’:</sup></strong><sup>Al Qur’anul Karim, </sup><sup>Hidayatul Insan bitafsiril Qur&#8217;an (Abu Yahya Marwan), Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islam.aljayyash.net/">www.islam.aljayyash.net</a></span>), </sup><sup>Shahih </sup><sup>Qashash</sup><sup>i</sup><sup>l Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy), dll.</sup></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yusuf-alaihis-salam-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Ya&#8217;qub ‘alaihis salam</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yaqub-alaihis-salam/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yaqub-alaihis-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 12:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2234</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam adalah salah seorang di antara para nabi. Beliau adalah putera Ishaq bin Ibrahim &#8216;alahimas salam. Kelahiran Ya&#8217;qub telah disampaikan oleh para tamu Nabi Ibrahim yang terdiri...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam adalah salah seorang di antara para nabi. Beliau adalah putera Ishaq bin Ibrahim &#8216;alahimas salam. Kelahiran Ya&#8217;qub telah disampaikan oleh para tamu Nabi Ibrahim yang terdiri dari beberapa malaikat dari istrinya Sarah. Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p><em>&#8220;Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya&#8217;qub. &#8220;</em> (Terj. Huud: 71)</p>
<p>Kisah Nabi Ya&#8217;qub secara panjang lebar akan diceritakan bersama kisah Nabi Yusuf, insya Allah. Oleh karena itu, kisah yang disebutkan di sini hanyalah sebatas pengantar saja.</p>
<p>Nabi Ya&#8217;qub dari sejak kecil hingga dewasa tumbuh dengan mendapatkan perhatian dari Allah dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, ia berjalan di atas jalan hidup ayahnya dan kakeknya. Nabi Ya&#8217;qub memiliki dua belas orang anak yang Allah sebut mereka dengan sebutan asbath (keturunan Ya&#8217;qub). Dari istrinya yang bernama Rahiil lahirlah <em>Nabi Yusuf ‘alaihis salam</em> dan <em>Bunyamin</em>. Dan dari istrinya yang bernama Laya lahirlah <em>Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar </em>dan<em> Zabilon</em>.</p>
<p>Dari budak milik Rahiil lahir <em>Daan</em> dan <em>Naftaali</em>, dan dari budak milik Layaa lahir <em>Jaad</em> dan <em>Asyir</em>.</p>
<p>Di antara sekian anaknya, yang paling tinggi kedudukannya, paling bertakwa dan paling bersih hatinya, di samping paling muda usianya adalah Nabi Yusuf &#8216;alahis salam. Oleh karena itulah Nabi Ya&#8217;qub memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadanya. Hal ini sudah menjadi tabiat, yakni ayah sangat sayang kepada anak yang paling kecil sampai ia dewasa dan kepada yang sakit sampai ia sembuh.</p>
<p>Nabi Ya&#8217;qub adalah seorang ayah yang patut dijadikan teladan, dimana Beliau mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik, memberikan nasihat kepada mereka dan menyelesaikan masalah mereka. Namun selanjutnya, saudara-saudara Yusuf dihasut oleh setan untuk berlaku jahat kepada Yusuf ketika mereka mengetahui perhatian ayahnya kepada Yusuf. Sampai-sampai mereka hendak membunuh Yusuf, namun kemudian sebagian mereka mengusulkan untuk melempar Yusuf ke sumur yang jauh agar dibawa oleh kafilah yang lewat dan menjadi budak mereka.</p>
<p>Ketika Yusuf tidak kunjung pulang, maka Nabi Ya&#8217;qub bersedih dengan kesedihan yang dalam karena berpisah dengan puteranya, bahkan ia sampai menderita buta karena rasa sedih yang begitu dalam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala menjadikannya dapat melihat kembali.</p>
<p>Setelah berlalu waktu yang cukup lama, Nabi Ya&#8217;qub &#8216;alaihis salam pun sakit, ia kumpulkan anak-anaknya dan berpesan kepada mereka agar tetap beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;ala, demikian juga tetap beriman dan beramal saleh. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Adakah kamu hadir ketika Ya&#8217;qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, &#8220;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.&#8221;</em> (Terj. Al Baqarah: 133)</p>
<p><em>Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, </em><em>wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.</em></p>
<p align="right"><sup>Marwan bin Musa</sup></p>
<p><strong><sup>Maraaji’:</sup></strong><sup>Al Qur’anul Karim, </sup><sup>Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islam.aljayyash.net/">www.islam.aljayyash.net</a></span>), </sup><sup>Shahih </sup><sup>Qashash</sup><sup>i</sup><sup>l Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy), dll.</sup></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/kisah-nabi-yaqub-alaihis-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasangan Palestina-Indonesia Lahirkan Putri Pertama di Jalur Gaza</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/pasangan-palestina-indonesia-lahirkan-putri-pertama-di-jalur-gaza/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/pasangan-palestina-indonesia-lahirkan-putri-pertama-di-jalur-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 10:57:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2267</guid>
		<description><![CDATA[Hari Ahad, 22 April 2012, Abdillah Onim sedang mengikuti rapat dengan pihak Kementerian Dalam Negeri Palestina membahas laporan keuangan tahunan program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina. Abdillah Onim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><strong></strong>Hari Ahad, 22 April 2012, Abdillah Onim sedang mengikuti rapat dengan pihak Kementerian Dalam Negeri Palestina membahas laporan keuangan tahunan program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina.</p>
<p>Abdillah Onim adalah seorang relawan MER-C Indonesia yang sedang menjalankan tugasnya di Gaza untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI), telah <a href="http://hidayatullah.com/read/15449/20/02/2011/abdillah-onim%2C-wni-pertama-menikahi-gadis-gaza.html" target="_blank">menikahi seorang Muslimah warga Jabaliya bernama Rajaa Al-Hirthani</a>, bulan Februari 2011 lalu.</p>
<p>Melalui sambungan telepon, sang istri memintanya pulang. Hari itu, Rajaa Al-Hirthani yang tengah hamil 9 bulan, mengaku perutnya mulai sakit. Sambil mencari kendaraan pulang, Abdillah terus-menerus menelpon sang istri.</p>
<p>Karena susahnya kendaraan di Gaza &#8211;bagian dari dampak blokade Zionis-Israel&#8211; Rajaa Al-Hirthani terpaksa menumpang kendaraan umum.</p>
<p>Takdir tak bisa diprediksi, beberapa menit, kendaraan yang ditumpangi istrinya mogok di jalan. Dalam keadaan sakit luar biasa, Rajaa Al-Hirthani harus turun dan mencari mobil lain.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pelan-pelan sakit yang diderita istrinya mulai berkurang. Abdillah mengaku lega setelah istrinya langsung ditangani dokter dan para perawat wanita.</p>
<p>Menunggu kelahiran anak pertama bagi Abdillah ada sesuatu yang istimewa. Selain itu, baginya, kelahiran anak pertama diselimuti rasa was-was dan kekhawatiran.</p>
<p>Maklum, menurutnya, dia adalah orang asing yang hidup di negara orang. Karena itu dirinya mengaku harus ekstra hati-hati dan pintar-pintar beradaptasi dengan kebiasaan dan budaya setempat.</span></p>
<p>“Apalagi seperti diketahui, wilayah yang saya diami saat ini masih dalam blokade oleh Zionis-Israel,” ujarnya kepada <a href="http://www.hidayatullah.com/read/22556/07/05/2012/undefined" target="_blank">hidayatullah.com</a>.</p>
<p>Di sela-sela waktu menunggu pemeriksaan, pikirannya teringat ibunya di kampung halaman di Galela, Kab. Halmahera Utara, Maluku Utara.</p>
<p>“Mengingatkanku kepada ibu saya, betapa berat perjuangan mereka karena proses melahirkan tidak mudah apalagi proses melahirkan di hadapkan antara tetap berada di dunia atau pergi meninggalkan dunia, ya rab betapa berat perjuangan seorang ibu saat hamil dan saat melahirkan, betapa mulainya perjuangan sang ibu,” ujarnya.</p>
<p>Tiba-tiba, dokter Lina, yang memeriksa istrinya keluar ruangan. Karena belum adan tanda-tanda melahirkan, dokter kandungan yang berasal dari Rusia ini meminta Abdillah jalan-jalan sang istri dan banyak mengkonsumsi kurma.</p>
<p>“Saya, istri dan ibu mertua saya berjalan keluar Rumah Sakit Alawda menuju RSI.”</p>
<p>Karena jarak RSI dan RS Alawda kurang dari 1 km, sore itu mereka berjalan-jalan sambil melihat bangunan RSI yang kini sedang memasuki tahap kedua.</p>
<p>Hari itu, usai pemeriksaan terakhir, Abdillah besama istri dan mertuanya terpaksa pulang kembali, karena prediksi dokter, kelahiran diperkirakan baru seminggu lagi.</p>
<p>Mimpi Bayi Lagi</p>
<p>Meski kembali pulang, pasangan beda Negara ini tak mengaku kecewa. Bahkan Abdillah justru mengungkapkan kekaguman pada sang istri. Betapa tidak, selama mengandung, ia tak pernah berhenti beraktifitas sedikitpun. Pemandangan seperti ini diakuinya juga terjadi pada para Muslimah di Jalur Gaza.</p>
<p>“Alhamddulillah awal hamil hingga usia kandungannya 9 bulan istri saya tercinta tidak mengalami sakit atau mengalami kelemahan daya tahan tubuh atau keluhan lainnya, subhanallah, “ ujarnya.</p>
<p>Bahkan selama itu, ia menjalankan aktifitas seperti biasa; ke pasar, ke masjid, menemaninya ke kebun untuk menanam pohon kurma dan bibit zaitun juga menghadiri undangan di masjid dan ke TK Najmul Qur&#8217;an yang didomonasi oleh anak-anak yatim dan fakir-miskin. Kebetulan Rajaa Al-Hirthani adalah seorang <em>hafidzah </em>(penghafal al-Quran) dan dan aktif sebagai relawan penanggung jawab untuk TK.Najmul Qur&#8217;an.</p>
<p>Sambil menunggu masa-masa bahagia kelahiran sang buah hati, pasangan ini berharap-harap lahirnya bayi laki-laki.</p>
<p>“Sejak awal hamil, istri saya selalu bermimpi akan bayi laki-laki begitu juga saya hampir tiap malam bermimpi dengan mimpi yang sama,” ujar Abdillah. Hanya saja, hasil pemeriksaan USG dokter di salah satu klinik di daerah kamp pengungsian di Jabaliya mengatakan, kemungkinan bayi dalam kandungan istrinya adalah perempuan.</p>
<p>Maklum, seperti umumnya warga Gaza, mereka selalu mendambakan dan menginginkan agar anak pertama mereka adalah laki-laki. Hanya saja bagi Abdillah, apapun jenis kelamin buah hatinya nanti harus disambutnya dengan gembira, “Bagi kami semua yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala pasti yang terbaik dan perlu kami Saya syukuri karena baik laki-laki maupun perempuan bagi kami adalah nikmat dan anugerah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada kami.”</p>
<p>Di tengah-tengah kondisi Jalur Gaza yang semakin memprihatinkan akibat blockade bahan bakar minyak (BBM) oleh Zionis-Israel, bayi yang ditunggu-tungu itu akhirnya datang juga. Pada hari kamis 3 Mei 2012, jam 11:50 waktu Gaza, Rajaa Al-Hirthani melahirkan bayi mungil seberat 3,4 kg/70cm di Rumah Sakit As-Sayaifa dalam sebuah operasi.</p>
<p>“Karena sang bayi besar, mendekati 4 kg, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi cesar, “ ujar Abdillah.</p>
<p>Kehaliran putrinya disambut gembira pihak keluarga.”<em>Mabruk mabruk ya Abdillah</em>, <em>Alhamdulillah </em>sudah selesai proses melahirkan dan anaknya mirip dengan ibunya, anaknya cantik Alhamdulillah, “ teriak mertuaku.</p>
<p>Belum hilang kegembiraan Abdillah, saat ia masuk ruang persalinan, terdengar kata-kata dari para perawat dan pengunjung.</p>
<p>“Hah ada orang Indonesia di sini, ada urusan apa?” begitu ucapnya.</p>
<p>“Kok bisa ya ia berbahasa Arab? “ ujar yang lain sembari tertawa.</p>
<p>Yang menarik, di saat Abdillah tengah menggendong buah hatinya yang baru lahir, beberapa orang bergegas mendekatinya sembari menengok ke arah bayinya, ”Subhanallah hasil peranakan Palestina dan Indonesia,” ujar mereka.</p>
<p>Dengan haru, Abdillah menyambut putrinya yang memiliki wajah khas, campuran Indonesia-Palestina.</p>
<p>“Kecantikannya asli khas wanita Jalur Gaza, Subhanallah betapa menganggumkan paduan yang Allah design ini, Allahu Akbar,” ujarnya.</p>
<p>“Dengan kelahiran putri kami, mudah-mudahan semakin jelas hubungan antara Indonesia dan Palestina dan semakin akrab hubungan darah antara dua negara yaitu darah indonesia dengan darah Palestina.”</p>
<p>Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih para para dokter kandungan RS. As-Sayaifa, tim relawan MER-C di seluruh Indonesia serta ibunya di Galela.</p>
<p>Sebagai rasa syukur, Abdillah dan istrinya akan melakukan aqiqah.</p>
<p>“InsyaAllah, 1 minggu setelah istriku keluar dari RS, kami akan mengadakan aqiqah,” ujarnya.*/<strong>Dila</strong></p>
<p>sumber : www.hidayatullah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/pasangan-palestina-indonesia-lahirkan-putri-pertama-di-jalur-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toure, Tolak Minuman Rayakan Kemenangan Hingga Menjadi Seorang Imam</title>
		<link>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/toure-tolak-minuman-rayakan-kemenangan-hingga-menjadi-seorang-imam/</link>
		<comments>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/toure-tolak-minuman-rayakan-kemenangan-hingga-menjadi-seorang-imam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 10:52:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjidalamanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidalamanah.com/?p=2263</guid>
		<description><![CDATA[Yaya Toure, pencetak dua gol Manchester City ke gawang Newcastle United, menolak menerima sebotol besar champagne saat pesta kemenangan di ruang ganti. &#8220;Maaf! Saya tidak minum alkohol. Saya Muslim,&#8221; ujar...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yaya Toure, pencetak dua gol Manchester City ke gawang Newcastle United, menolak menerima sebotol besar champagne saat pesta kemenangan di ruang ganti. &#8220;Maaf! Saya tidak minum alkohol. Saya Muslim,&#8221; ujar Yaya Toure seraya menyerahkan botol besar champagne ke Joleon Lescott, rekannya.</p>
<div></div>
<div>Toure adalah man of the match pertandingan itu. Ia memborong dua gol kemenangan timnya dan membuat City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Sesuai tradisi klub, bintang pertandingan mendapat kehormatan membuka botol besar champagne.</div>
<div></div>
<div>Bukan kali pertama Toure menolak pesta kemenangan dengan menenggak minuman keras. Ia kerap menghindari tradisi itu, seraya berusaha tidak menyinggung rekan-rekannya.</div>
<div></div>
<div>Juru bicara Manchester City mengatakan pemberian champagne adalah penghargaan yang didambakan setiap main. Namun, katanya, klub bisa memahami jika ada individu yang menolak dengan alasan agama.</div>
<div></div>
<div>Yang bisa dilakukan klub, masih menurut juru bicara Manchester City, adalah menjamin setiap individu di ruang ganti klub tidak merasa tersinggung jika ada rekan mereka yang menolak pesta dengan alasan agama. Liga Inggris adalah kompetisi yang menampung pemain dari 68 negara. Yaya Toure berasal dari Pantai Gading dan beragama Islam.</div>
<div></div>
<div><strong>Imam</strong></div>
<div></div>
<div>Saat masih di Barcelona, Yaya Toure adalah imam bagi dua rekannya; Eric Abidal dan Seydou Keita. Ketiganya selalu menyampatkan diri shalat berjamaah, dan Toure dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih dibanding Abidal dan Keita.</div>
<div></div>
<div>Ketika Yaya Toure memutuskan pindah ke Manchester City, Abidal dan Keyta menjadi orang yang paling kehilangan. Dalam salah satu kesempatan wawancara dengan salah satu radio, Abidal sempat mengatakan.</div>
<div></div>
<p>&#8220;Kami kehilangan imam.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidalamanah.com/2012/05/toure-tolak-minuman-rayakan-kemenangan-hingga-menjadi-seorang-imam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

