Saat Anak Menjelang Usia Baligh (2)

Usia remaja bukan berarti pemakluman atas dosa. Dalam Islam tidak digunakan istilah remaja (المراهق) . Istilah yang digunakan yaitu pemuda (الشباب). Disebut pemuda agar mampu memanfaatkan potensi (القوة) demi kemaslahatan. Potensi yang dimiliki pemuda yaitu:
1. Potensi Akal (قوة العقلية)
2. Potensi Semangat (قوة الحماسة)
3. Potensi Fisik (قوة الجسمية)

 

Fase Awal Pemuda

Fase awal pemuda ditandai dengan aktifnya hormon seksual (baligh). Pada fase ini pemuda menjadi target utama syaithon. Ibnu Qayyim berkata “setan sibuk dalam 2 waktu, yang pertama ketika sakratul maut, kedua ketika anak manusia memasuki usia remaja”.

Ujian yang paling berat bagi remaja adalah syahwat terhadap wanita, hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam surat Ali Imran ayat 14. Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa dampak fitnah wanita ada dua. Pertama, orang yang sudah terkena fitnah wanita akan memutuskan silaturahim. Kedua, orang yang sudah terkena fitnah wanita akan mengumpulkan harta yang banyak tanpa menghiraukan halal dan haram.

 

Mempersiapkan Anak Menghadapi Masa Pubertas

1. Menanamkan Muroqobatullah

Sebagaimana Nasehat Luqman kepada anak-anaknya yang tercantum dalam surat Lukman ayat 16.

    يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (Luqman : 16)

Menanamkan muroqobatullah memerlukan proses yang intens dan tak bisa instant

 

2. menanamkan rasa malu

Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ
Malu adalah sebagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika tidak ada malu, maka manusia akan berbuat sekehendak nafsu. Kenapa ada bagian tubuh dinamakan kemaluan? karena bagian tubuh itu malu untuk kamu lihat dan malu untuk diperlihatkan. Menanamkan rasa malu yakni dengan mempermalukan di saat yang tepat. Mempermalukan terkait adab dan akhlaq bukan kompetensi

 

3. Menguatkan Ikatan Hati

Target dasar pengasuhan yaitu  menjadi orangtua yang dicintai. Buah dari kecintaan anak pada orang tuanya berupa trust (percaya akan nasehat ortu).  Mengasuh anak ibarat bermain layang-layang, jika talinya kuat takkan mudah dihantam angin, masih mudah dikendalikan

 

4. Ajarkan Menundukkan Pandangan

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman :

قُلْ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُـضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ‌ ؕ ذٰ لِكَ اَزْكٰى لَهُمْ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَـعُوْنَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (An Nur : 30-31)

Bukan “dari mata turun ke hati” melainkan “dari mata turun ke kemaluan”.

 

5. Mengendalikan Nafsu Perut Dengan Puasa

Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan” (HR. Ahmad)

Rakus dalam urusan perut berujung kepada rakus dalam urusan seksual

 

6. Menyibukkan Anak Dalam Segudang Aktivitas

Orang tua harus melatih anak memiliki daily rundown. Hal ini merupakan salah saltu pengamalan dari firman Allah dalam surat Al Hasyr ayat 18

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ َ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok….. (Al Hasyr : 18)

Terkait pengelolaan waktu ini, Al Imam Asy Syafii berkata :

الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل

    “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” (Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah)

 

7. Pergaulan Atau Komunitas Yang Sehat

Orang tua perlu memastikan bahwa anak memiliki pergaulan atau komunitas yang sehat. Hal ini penting karena pergaulan atau komunitas akan sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wassalam:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

    “Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

 “Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

 

*Resume Kajian Parenting bersama Ustadz Bendy Jaysurrahman di Masjid Al Amanah Kemenkeu pada 14 Nopember 2018

Diresume oleh Hamzah Fansury

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.