Merasa Sial (التشاؤم)

Pengertian

Secara Bahasa: tasya-um (تشاؤم) berasal dari kata dasar sya’mun (شأم) yaitu: sisi kiri dari segala sesuatu. Karenanya: ada istilah negeri Syam, karena berada di sebelah kiri Ka’bah, dan lawannya adalah negeri Yaman, karena berada di sebelah kanan Ka’bah. Dalam Al-Qur’an, juga ada istilah masy-amah (أصحاب المشأمة) yang artinya adalah golongan kiri, lawan kata dari maimanah (أصحاب الميمنة) yang artinya golongan kanan.

Kosa kata syu’mun (شؤم) adalah lawan kata dari yumnun (يمن). Syu’mun artinya sial, sedangkang yumnun artinya untung, berkah. Tasya-um adalah ilusi akan terjadinya suatu keburukan atau sesuatu yang tidak disukai gara-gara ada hubungan dengan bagian kiri.Lalu, atas dasar ilusi ini, seseorang tidak mau melaksanakan kewajiban, atau bermalas-malasan, atau ogah-ogahan, atau mencari-cari alasan untuk menunda atau mengulur-ulur.

Tathayyur, sama dengan tasya-um, hanya saja sebabnya adalah karena melihat burung; mungkin dari sisi arah terbangnya, warnanya, suaranya, jenisnya dan sebagainya.

Dalam Al Qur’an dikisahkan bahwa para Nabi sering dipandang sebagai sumber tasya-um dan tathayyur (sumber kesialan) oleh kaumnya. Beberapa contohnya sebagai berikut:

Nabi Shalih

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ (النمل: 47)

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. (Q.S. An-Naml: 47).

Ash-habul Qaryah

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ . قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (يس: 18 – 19)

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”. (Q.S. Yasin: 18 – 19).

Fir’aun

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ . فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (الأعراف: 130 – 131)

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al-A’raf: 130 – 131).

Hukum Tasyaum

Hukum tasyaum adalah haram. Tasyaum merupakan salah satu cabang kemusyrikan, sebab ada penggantungan sesuatu kepada selain Allah, bahkan ada satu bentuk kepasrahan kepada selain Allah.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

عن عبد الله بن مسعود – رضي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ (رواه أبو داود)

Dari Ibnu Mas’ud Rodhiallahu ‘Anhu dari Rasulullah  Sholallahu ‘Alaihi Wassalam beliau bersabda: “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, dan tidak ada seorang pun dari kita kecuali, hanya saja Allah Subhanahu Wa Taala menghilangkannya dengan tawakkal. (HR. Abu Daud)

عن عبد الله بن عمرو بن العاص – رضي الله عنهما – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Siapa yang gara-gara thiyarah tidak jadi memenuhi hajatnya, maka ia telah berbuat syirik. Para sahabat bertanya: terus kaffarahnya apa wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda: hendaklah ia mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kebaikan kecuali kebaikanmu, dan tidak ada kesialan kecuali atas kehendak-Mu dan tidak ada Tuhan selain Engkau”.

Bentuk-bentuk tasya-um

  • Tasya-um terhadap hari, atau waktu.
  • Tasya-um terhadap orang / manusia.
  • Tasya-um terhadap binatang.
  • Tasya-um terhadap tanaman / tumbuhan, dll.

Sebab tasya-um

  • Kekufuran
  • Su-uzh-zhan (berburuk sangka) kepada Allah SWT
  • Dosa dan maksiat
  • Kebodohan dan kesesatan
  • Bisikan syetan
  • Ikut-ikutan dan lingkungan.

Dampak buruk tasya-um

  • Selalu dirundung duka
  • Kehilangan optimisme
  • Berburuk sangka kepada benda, orang dan keadaan.
  • Terperosok kepada kemusyrikan

Terapi tasya-um

  • Beriman kepada qadha dan qodar
  • Husnuzhan dan tawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Taala.
  • Memperdalam ilmu agama.
  • Berkawan dengan orang-orang beriman.
  • Memperbanyak dzikir dan do’a.
  • Selalu ber-fa’lulhasan (memberi tafsir positif dan optimis).

*Resume Kajian Akhlaq bersama Ustadz Musyafa Ahmad Rahim, Lc, MA

* Diresume oleh Hamzah Fansuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.