Potensi Hati

Potensi Hati

Allah sebutkan dalam Al Qur’an tiga hal penting dalam tubuh, yang Allah ciptakan pada diri manusia, yaitu pendengaran, penglihatan dan hati. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”
(QS. 67 : 23)

Allah sebutkan tiga unsur tersebut sesuai dengan urutan yang difungsikan dalam jasad manusia, saat ia lahir yang pertama berfungsi adalah pendengaran. Selang beberapa waktu kemudian penglihatan hingga rasa tumbuh melalui peranan hatinya. Ia akan merasakan senang, sedih, bahagia, bosan, dan tenang dalam hatinya.

Hati sangat vital perannya, yang mampu menggerakkan anggota tubuh sesuai dengan kondisinya. Saat ia berkarat maka anggota tubuh ikut tersiksa, sehingga hasilnya amalan yang berkarat juga, penuh dengan kotoran-kotoran dosa. Rasulullah bersabda :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Muslim)

Hati sangat penting untuk mengetahui kadar iman seseorang. Keyakinan pada Sang Khalik terletak pada hati. Hati yang beriman meyakini bahwa Allah itu ada dan merupakan sebuah kebenaran, sekalipun Allah tak tampak olehnya. Itulah sebabnya Allah pada hakikatnya tidak melihat pada tampilan fisik manusia, tapi melihat hatinya. Hati yang tunduk dan taat pada Allah. Buruknya rupa, fisik yang tak sempurna, kadang tampak hina di hadapan manusia, tapi Allah mengabaikan demikian, sepanjang ia taat dan tunduk pada Allah maka Allah memuliakannya.

Rasululllah bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصْبَعِهِ إِلَى صَدْرِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad atau bentuk kamu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu”, beliau menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya.” (Muslim, no. 2564)

Di akhirat kelak, bahkan Allah tiada melihat pada harta dan banyaknya anak, karena semua itu tidaklah berguna lagi. Namun hati yang bersih yang bermanfaat baginya. Allah Ta’ala berfirman :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. asy-Syu’ara/26: 88-89).

Hati yang bersih, yang di selimuti oleh ayat-ayat al quran, dilindungi oleh doa kepada Allah agar ia tetap bening, sebab beningnya hati akan menguatkan sendi-sendi tubuh dan menggerakkannya kepada kebaikan. Rasulullah pun berdoa kepada Allah agar diberikan hati yang bersih. Sabda Nabi :

وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا

“Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At- Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Begitulah, betapa Allah sangat menekankan untuk selalu menjaga hati, agar ia tetap bersih, bening dan selamat. Jika tidak maka semua sumber dosa akan bersemayam padanya. Hatinya akan dipenuhi kekufuran, kedengkian, keingkaran, ujub, sombong , tergesa-gesa dan tak peduli. Jika hati sdh dipenuhi penyakit-penyakit ini, sungguh amalannya semua akan memburuk. Bahkan menentang dan pembangkangan pada Allah pun dilakukan, hingga ia kafir kepada Allah.

Rasulullah berdoa kepada Allah :

اَللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya Allah, Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ini agama-Mu”

Oleh karenanya marilah kita terus berusaha membersihkan hati kita, diantaranya dengan memperbanyak membaca Al Qur’an. Dekat-dekatlah dengan Al Qur’an, basahi lidah di sepanjang hari, kiranya hati yang tertutup noda dosa, akan diberaihkan hingga jadi bening. Sabda Nabi :
“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana berkaratnya besi. Ditanyakan, ‘Apa pembersihnya wahai Rasulallah?’ Rasul menjawab, ‘Membaca al-Quran” (H.R. al-Qadlā’iy).

Serial Risalah Hati bagian 1, Syahrawi Munthe

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.