Perbedaan Pendapat antara Muawiyah dan Abu Dzar

Pada zaman khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, pasukan umat islam berhasil membebaskan banyak wilayah, seperti Afrika, Armenia, Azarbaijan, dan Cyprus. Pembebasan banyak wilayah ini menyebabkan umat islam memiliki sumber daya yang melimpah dan ekonomi yang mapan, terutama umat islam yang tinggal di Damaskus, Suriah.

Sumber daya yang melimpah mempengaruhi gaya hidup sebagian umat islam di masa itu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan dalam memandang dan mensikapi melimpahnya harta. Diantara sahabat yang berbeda pendapat adalah Muawiyah bin Abi Sofyan selaku gubernur Damaskus dengan sahabat Abu dzar. Muawiyyah dan sahabat Abu Dzar berbeda pendapat dalam memahami firman Allah dalam surat At Taubah ayat 34-35 :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {34} يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ)

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih (34)
(Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (35)

Dari ayat tersebut, inti perbedaan antara kedua sahabat adalah: 1) apakah ayat tersebut hanya berlaku untuk ahli kitab (yahudi dan nasrani) saja atau semua orang? 2) apakah muslim yang kaya dan sudah mengeluarkan zakat hartanya masih terkena ancaman juga?

Muawiyyah berpendapat bahwa: 1) ancaman ayat itu berlaku untuk ahli kitab yang mengumpulkan harta dengan cara bathil, 2) orang muslim yang kaya dan telah mengeluarkan zakat dari hartanya, dia tidak terkena ancaman tersebut.  Sementara Sahabat Abu Dzar berpendapat bahwa siapapun yang menumpuk harta kekayaan, maka dia akan terkena ancaman ayat tersebut.

Sahabat Abu Dzar tetap berpegang pada pendapatnya. Beliau juga menyebarkannya di kalangan masyarakat luas. Muawiyyah khawatir jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan kegaduhan di tengah umat. Oleh karena itu, Muawiyah mengirim surat kepada Khalifah Utsman bin Affan agar turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Khalifah Utsman bin Affan kemudian memanggil Sahabat Abu Dzar dari Damaskus, dan meminta beliau tinggal di kota mekkah.

Ibroh atau pelajaran yang dapat di ambil dari siroh singkat ini adalah :

1. Perbedaan pendapat itu selalu ada, sejak zaman Rasulullah, zaman sahabat, zaman tabi’in, dan seterusnya
2. Perbedaan pendapat harus berdasarkan ilmu dan akhlak yang mulia, bukan karena fanatisme semata
3. Perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan sebaik mungkin, untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah

Wallahua’lam bis showab….

*Kajian Siroh Khulafaur Rasyidin Oleh Ust Hariyanto Mukarno Lc, diresume oleh Lalu suhandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.