Mengapa Negeri ini Ditimpa Bencana

Berbagai macam ujian dan musibah menimpa negeri ini, yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Gempa di Lombok, Palu, Donggala, Mamuju, Situbondo dan berbagai daerah lainnya. Para ilmuwan mengatakan bahwa gempa terjadi karena adanya retakan, pergerakan lempengan bumi dan dan seterusnya. Namun demikian, ilmu pengetahuan belum bisa menjelaskan mengapa peristiwa itu harus terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Sampai hari ini, belum ada alat yang dapat mendeteksi secara pasti kapan terjadinya gempa, apalagi menghentikannya.

Dalam Al Quran terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang bencana, diantaranya dalam  surat Al A’raf ayat 96-100. Pada ayat 96 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Pada ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Taala menjelaskan bahwa seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menurunkan rahmat dan keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi jika suatu penduduk negeri itu medustakan ayat-ayat Allah, maka Allah akan menimpakan adzabnya.

Al Quran juga menjelaskan bahwa bencana yang menimpa, terjadi karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Ruum ayat 41. “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” . Pelanggaran yang dilakukan manusia dapat berupa pelanggaran terhadap hukum alam maupun pelanggaran terhadap hukum syariat. Pelanggaran terhadap hukum alam misalnya : membangun bangunan di daerah resapan sehingga terjadilah banjir, menebang hutan secara liar sehingga terjadi longsor. Pelanggaran terhadap hukum syariat juga menjadi penyebab terjadinya bencana. Dari peristiwa-peristiwa bencana yang diabadikan dalam Al Quran, terdapat 3 hal yang mengundang terjadinya bencana :

  1. Menyebarnya kemaksiatan
  2. Manusia bangga melakukan kemaksiatan
  3. Berhentinya amar ma’ruf nahi mungkar

Jika kita bandingkan kondisi kita saat ini dengan kondisi umat-umat yang ditimpa bencana pada masa lalu, maka kondisinya hampir sama. LGBT dilakukan terang-terangan, bahkan diapresiasi atas nama HAM. Pencurian, korupsi, pembunuhan, penipuan, riba, dan segala kemaksiatan lainnya, hampir semuanya ada. Banyaknya kemaksiatan yang menyebar kemana-mana menjadikan kita kehilangan rasa, menjadi permisif, menganggap kemaksiatan-kemaksiatan itu sebagai hal yang biasa. Sehingga kemudian amar ma’ruf nahi munkar mulai ditinggalkan. Semakin sedikit orang yang mau dan berani melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Maka tidaklah mengherankan jika bencana demi bencana terus melanda. Maka apakah kita masih tetap belum sadar dan tidak kembali kepada Allah dan RosulNya? Apakah dengan teguran bencana alam kita masih merasa aman dan tidak mau memperbaiki diri?

Seseorang yang tidak peka dengan peringatan yang Allah berikan, bisa jadi karena hatinya sakit atau bahkan mati. Hal ini bisa diibaratkan dengan orang yang pingsan, dicolek-colek sekalipun dia tidak akan terbangun. Apalagi orang yang telah mati, bahkan dibanting-banting sekalipun dia tidak akan terbangung. Seperti itulah hati. Maka, jika kita tak segera sadar dengan peringatan yang Allah berikan, boleh jadi hati kita sedang sakit atau bahkan telah mati.

Oleh karena itu, marilah musibah demi musibah yang menimpa ini kita jadikan sarana muhasabah. Mari bersama-sama memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat kita. Seluruh penduduk negeri dan juga para pemimpinnya agar segera kembali kepada tuntunan Allah dan Rosulnya. Kebenaran harus menang atas kebatilan. Semoga negeri ini diberikan kedamaian, dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanau Wa Ta’ala. Menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Aamiin ya robbal ‘Alamin……

*Artikel ini merupakan resume khutbah Jumat Ustadz Muhsinin Fauzi, lc di Masjid Al Amanah. audio rekaman bisa didengarkan pada link berikut

(Lalu Suhandi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.