Keluhan Hati

Seringkali harapan tak seindah kenyataan, karena takdir Allah menentukan lain. Saat takdir melampaui harapan, rasa syukur bergelora di dada, tapi tak semua orang siap dengan takdir yang jauh dari harapan. Bahkan kadang imanpun tak sanggup menghalangi orang berputus asa, lalu mengambil jalan pintas di luar nalar, jika takdir tak bisa diterima. Begitulah memang manusia, kerap kali berkeluh kesah atas semua kondisi yang tidak mengenakkan.

Allah berfirman :

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)….

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya….” (QS. 70 : 19-23)

Keluhan hati bisa hinggap kepada siapapun, tapi Islam melarang kita untuk banyak larut di dalamnya. Urusan dengan akhirat sungguh sangat besar, makanya berkeluh kesah di dunia pada hakikatnya tidaklah berguna. Allah telah cukupkan kepada manusia segala keperluannya, yang jika itu dihitung, rasanya tak mungkin. Siapa yg bisa mengembalikan penglihatan jika Allah membuatnya buta, siapa yang bisa membuat bicara jika Allah takdirkan bisu? Dan itu semua tidak bisa dibandingkan dengan materi.

Allah berfirman :

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. 14: 34)

Keluhan hati hanya akan membuat diri menderita. Seolah Allah tak peduli dengan kehidupannya. Padahal setiap ia berdoa, Allah mendengar dan mengabulkannya. Mungkin kita yang tak sadar bagaimana cara Allah mengabulkannya. Pun keluhan hati kerapkali terucap dan curhat pada orang lain, yang belum tentu orang lain itu bisa menyelesaikannya. Keluhan hati harusnya hanya pada Allah semata, sebagaimana dahulu orang-orang shalih mengadu pada Allah mulai dari hal kecil hingga masalah besar. Mengadu kepada Allah karena Allah begitu dekat dan mengabulkan doa. Allah berfirman :

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS 2: 186]

Keluhan hati harusnya sirna karena Allah lebih dekat dari urat leher. Allah sangat dekat untuk menyelesaikan semua sumber keluh kesahnya hati. Allah berfirman :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدِ

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. 15 : 16).

Keluhan hati biarlah larut dalam doa, sembari sembah sujud kepadaNya. Sebab meminta hanyalah padaNya, memohon hanyalah padaNya. Semua kesusahan dalam hidup pada hakikatnya Allah lah yang menghilangkan, bukan manusia atau makhluk lainnya. Allah berfirman :

أَمِنْ يُجِيْبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوْءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.”
(QS. 27: 62)

Keluhan hati tak perlu jadi penghalang untuk meraih hidup bahagia. Bahagialah karena ada Allah, ada Al Qur’an, ada sunnah-sunnah Nabi yang mendatangkan keberkahan, ada Islam sebagai jalan hidup.

Serial Risalah Hati Bagian 6, Syahrawi Munthe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.