Bekal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi bulan Ramadhan

Pertama, Bekal keimanan.

Siapa yang paling berkualitas dalam mempersiapkan keimanannya, dialah yang paling berhak menggapai derajat taqwa atau mendapatkan lailatul qodar.

Dalam surat Al Baqoroh ayat 183 Allah Subhanahu Wa Taala tidak menggunakan panggilan “wahai manusia” akan tetapi menggunakan panggilan “wahai orang-orang yang beriman”. Mengapa demikaian? karena memang faktanya yang meningkat tahun demi tahun hanya orang-orang yang memiliki modal keimanan.

Bahkan dalam hadits dijelaskan orang yang akan mendapatkan ampunan di bulan romadhon adalah orang yang melakukan ibadah karena didasari oleh iman, bukan semata-mata hanya meninggalkan makan dan minum.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Kedua, Bekal keilmuan.

Kita harus mempersiapkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan puasa, hukum-hukumnya dan pemahaman yang benar. Karena seluruh ibadah kita tidak akan diterima kalau tanpa ilmu yang benar.

Ketiga, Bekal yang berkaitan dengan program.

Contoh, kenapa tidak semua kaum muslimin mendapatkan lailatul qodar di setiap bulan Romadhon? Diantara sebabnya adalah karena tidak memiliki program yang jelas. Banyak kaum muslimin yang menyia-nyiakan kesempatan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, padahal Rasulullah SAW justru melipatgandakan ibadahnya pada hari-hari itu.

Contoh program yang bisa dijalankan : shalat berjamaah, qiyamullail, tilawah alqur’an, sedekah dan lain sebagainya.

Mereka yang tidak punya program kebanyakan waktunya digunakan untuk bermalas-malasan dan bahkan banyak tidur. Jika umat islam hanya melewati romadhon begitu saja dengan penuh kemalasan, maka dikhawatirkan dia melewati romadhon yang seolah-olah romadhon itu tidak ada istimewanya . Padahal dia berada di bulan yang diturunkan Al-Qur’an, berada di bulan yang mana didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Berada di sebuah bulan yang seluruh amal ibadahnya dilipat gandakan, berada disebuah bulan yang disana Allah akan membebaskan hambanya dari api neraka.

Ke empat, Bekal yang berkaitan dengan lingkungan.

Manusia itu adalah anak lingkungannya.

Jika melihat para sahabat, mereka mempersiapkan dalam menghadapi ramadhan itu adalah enam bulan, mereka sudah membiasakan amalan-amalan dibulan ramadhan, baik itu membaca Alqur’an, shodaqoh, rajin kemasjid untuk shalat berjamaah tepat waktu.

Diantaranya kita harus mempersiapkan imam yang memiliki suara bagus juga hafidz qur’an sehingga jamaah nyaman ketika Shalat. Ini untuk lingkungan masjid, agar jamaah lebih betah di masjid yang memang tempat yang paling dicintai Allah daripada ramai dipasar yang itu adalah tempat kesenangannya syetan, baik itu syetan jin ataupun syetan manusia.

Juga lingkungan di Rumah harus kita persiapkan, agar kita lebih banyak ibadahnya daripada tidurnya.

Juga sekolah-sekolah kita harus dipersiapkan agar suasananya suasana ramadhan.

Tapi faktanya tidak sedikit orang yang mengaku beragama islam tidak mempersiapkan dirinya dengan membentuk lingkungan yang sholeh ketika menghadapi bulan ramadhan. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertaqwa kalau rumah makan secara terang-terangan buka dibulan ramadhan, bahkan mereka tidak malu makan didepan saudaranya yang lain yang sedang berpuasa.

Terakhir, waspada dari tikungan.

Yang dimaksud dengan tikungan itu adalah sesuatu yang menghambat untuk dapat lolos menjadi orang yang bertaqwa. Contoh ketika kita ingin beri’tikaf, maka kita pergi ke masjid yang disana banyak teman atau orang yang kenal dengan kita, sehingga yang seharusnya kita khusyu dalam beri’tikaf tapi malah banyak ngobrolnya bersama teman atau orang-orang yang kenal itu.

Contoh lain, dibulan ramadhan yang harusnya diperbanyak ibadah, tetapi karena dirumah ada tv, maka kita lebih banyak nonton tv daripada baca qur’annya.

(Kajian Dr. Ahzami Samiaun Jazuli diresume oleh Ustadz Jafar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.