Menyikapi Tahun Baru

Sebagian besar manusia memimpikan bisa memasuki tahun baru baik tahun baru Syamsiyah (Masehi) atau Qomariyah (Hijriyah) yang kedua-duanya adalah tanda kebesaran Allah SWT. Setiap tahun baru menginginkan agar menjadi manusia yang lebih baik, bangsa atau Negara yang lebih baik.

Bagaimanakah Alqur’an dan Assunnah memberikan petunjuknya agar ketika memasuki tahun baru itu lebih baik?

Tidak sedikit manusia yang menginginkan hidupnya lebih baik tetapi faktanya tidak berubah menjadi lebih baik padahal keinginan itu adalah keinginan yang sudah lama yang setiap awal tahun selalu kita dengar. Yang terjadi adalah menginginkan kebaikan tapi yang dilakukan adalah sebuah kehancuran, sebuah kekufuran, sebuah kemaksiatan, yang dilakukan oleh orang-orang yang diberikan amanah Allah untuk memimpin negri ini. Jadilah yang mempunyai ilmu tidak smuanya berbicara dan berjuang untuk merubahnya, tapi malah mendiamkan kemungkaran, kemungkaran yang boros, sedangkan orang yang boros adalah temannya syetan. Seluruh manusia didunia manapun mengetahui bahwa syetan itu adalah musuh manusia. Sebagian orang yang mengetahui juga membiarkan kemunkaran dalam bentuk seni, budaya, kebiasaan atau tradisi dll. Padahal kita tahu semuanya orang yang membiarkan kemunkaran adalah syetan yang bisu dan kita semua tahu bahwa orang yang membiarkan kemunkaran akan menimbulkan kebinasaan.

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلمو منكم خاصة, واعلموا أن الله شديد العقاب.

atau dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Assidik ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila masyarakat melihat kemunkaran lalu mereka tidak merubahnya maka hamper-hampir Allah meratakan mereka semua dengan siksa-Nya”.

Semua tahu ayat dan hadits yang sudah sering dibacakan kepada umat manusia tapi yang terjadi adalah sesuatu yang berbeda. Kita sebagai kaum muslimin yang ditarbiyah oleh Allah tidak boleh menjadi orang yang pesimis, kita harus menjadi orang yang optimis bahwa kita bisa berubah menuju yang lebih baik.

Apa saja yang menjadikan sesuatu yang awal didalam islam itu, awal yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini?

  1. Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1-5 yaitu ayat yang pertama turun.

Relevansinya dalam kehidupan agar kita lebih baik adalah ternyata Alqur’an yang merupakan Manhajul Hayat (Panduan Hidup) kita, yang membawa kita kepada kehidupan dunia dan akhirat, ayat yang pertama turun tentang IQRO (bacalah)/ tentang ilmu, sehingga kebaikan seseorang, rumah tangga, sebuah Negara ukuran ketika mereka membaca Alqur’an. Makanya ulama mengatakan Alqur’an adalah MASDARUL ULUM (sumber ilmu pengetahuan). Sehingga tidak aka nada manusia, rumah tangga, bangsa dan Negara sesat dalam hidupnya ketika memulai kehidupannya dengan ilmu dan dengan membaca Alqur’an.

 

Sekarang kita lihat, sudahkah diri kita, keluarga kita dan anak bangsa ini menjadikan membaca Alqur’an, memahami dan mengamalkannya sebagai prioritas? Sudahkan kurikulum yang ada di Negara kita ini mengutamakan kurikulum Alqur’an sebelum ilmu-ilmu yang lainnya?

Kalau masih seperti dulu-dulu meskipun kita tidak boleh pesimis, akan sulit diharapkan akan menuju yang lebih baik. Ada ungkapan dari para ahli Hikmah yang mengatakan “kamu menginginkan keselamatan sementara kamu tidak mengikuti jalannya, ketahuilah sesungguhnya kapal tidak akan berlayar di atas daratan”. Aartinya mustahil itu terjadi.

 

  1. Didalam ulumulqur’an dikatakan Surat yang pertama kali diturunkan secara utuh didalam Alqur’an adalah Surat Al-Fatihah.

Tafsirnya dengan kehidupan kita, ketika harus memulai tahun baru atau rumah tangga baru atau kinerja yang baru maka kita harus memahami bahwa kebaikan itu dimulai dengan Al-Fatihah. Bukan maksudnya dimulai dengan membaca Alftihah, karena Alfatihah itu adalah isi/kandungan Alqur’an secara global. Kandungan Alfatihah itu adalah terdapat KULIYATUL KUBRO, yaitu ibarat sebuah universitas yang mempunyai sekian banyak KULIYAH, ada yang namanya ARRAHMAH, ada yang namanya ALHAMDU dimana manusia harus selalu memuji Allah setiap saat,sehingga setiap manusia disetiap detik-detik kehidupannya selalu merasakan nikmat Allah, sehingga menjadi orang yang pandai bersyukur terhadap nikmat Allah, tidak berani berbuat maksiat atau mengkufuri nikmat Allah karena dia yakin setiap saat nikmat Allah itu dia dapatkan.

 

Ada kuliyah yang bernama MALIKIYAUMIDDIN dimana Allah adalah Raja dihari pembalasan, sehingga tidak ada satupun manusia yang meremehkan maksiat karena kata MALIK itu tidak ada sedikitpun membiarkan orang berbuat dosa, amal sekecil apapun akan dibalas oleh Allah SWT. Ulama tafsir mengatakan kuliyah MALKIYAUMIDDIN itu merupakan kuliyah yang muatannya adalah “Al adalatul mutlaq” atau keadilan yang mutlak, sehingga tidak ada orang yang merasa terdzalimi, tidak ada orang yang mengatakan saya rajin Shalat kenapa saya masih miskin, saya ikut pengajian tapi kenapa masih sulit dalam hidup ini, tidaka ada lagi asumsi seperti itu karena dia yakin betul karena setiap kebaikan itu jika belum mendapatkan balasan didunia dia yakin seyakin-yakinnya balasannya adalah di akhirat. Sehingga tidak diperbudak oleh kehidupan duniawi, meskipun kita membutuhkan dunia, karena yakin betul Allah yang malikiyaumiddin akan membalasnya.

 

  1. Ayat pertama yang ditulis dalam Alqur’an adalah بسم الله الرحمن الرحيم

 

Tafsirnya dengan kebaikan rumah tangga kita, kantor kita, kehidupan kita adalah kebaikan itu dimodali dari RAHMAH, baik الرحمن atau الرحيمkeduanya itu dari kata الرحمة

Lalu ulama tafsir mengatakan الرحمن mempunyai makna yang khusus yang lebih mendalam daripada الرحيم walaupun kaduanya maha kasih saying. Pehaman ulama itu tidak semata-mata pemahaman yang akal saja tapi juga berdasarkan kaidah bahasa. Makna dari الرحمن Allah itu maha kasih saying untuk seluruhnya, berarti termasuk orang kafir (didunia). Tetapi kalau الرحيم ulama mengatakan khusus untuk orang yang beriman dan Islam yaitu di akhirat (surga).

Maka ulama tafsir mengatakan hubungan Allah dengan hambanya adalah hubungan Rahmah (kasih sayang).

 

Kenapa ayat بسم الله الرحمن الرحيم ini diletakan yang pertama? seluruh dunia mengetahui hubungan Allah dengan makhluknya termasuk manusia adalah hubungan kasih sayang. Awal kebaikan negeri ini dimulai dari Rahmah, awal kebaikan keluarga dimulai dari Rahmah, suami kepada istrinya lebih dominan kasih sayangnya daripada yang lainnya, begitu juga istri terhadap suami, orang tua kepada anaknya lebih dominan Rahmatnya daripada marahnya, begitu juga anak kepada orang tuanya lebih dominan kasih sayangnya daripada marah karena keinginannya tidak dituruti oleh orang tua, pemerintah kepada rakyatnya lebih dominan kasih sayangnya daripada menuduh rakyatnya, rakyat kepada pemerintahnya daripada mengkritisi dan mendemonya walaupun demo diperbolehkan selama tidak merusak, tapi kasih sayang harus lebih dominan karena sama-sma kaum muslimin, ada Hadits yang mengatakan إرحموا من قي الأرض يرحمكم من في السمائ artinya sayangilah makhluk yang ada dibumi niscaya akan disayang oleh Allah yang ada di langit.

Ibnu Abbas ra mengatakan : asas seluruh kitab suci adalah Alqur’an, dan asasnya Alqur’an adalah Alfatihah dan asas Alfatihah adalah Albasmalah (بسم الله الرحمن الرحيم).

 

  1. Bagaimana Alqur’an dan Assunnah memberikan petunjuk kepada kita dalam memasuki tahun baru kita lebih baik? Adalah dengan cara menjadikan keluarga besar kita sebagai sekala prioritas untuk dijaga. Allah berfirman dalam surat Asy-syuara:

وأنذر عشيرتك الأقربين (berilah peringatan keluarga dekat kamu).

Karena Kepercayaan masyarakat, berdakwah secara jujur karena Allah itu akan manjur/menjadi tsiqoh ketika keluarga kita adalah orang yang pertama merespon dakwah.

 

Nabi Nuh AS senantiasa berdakwah siang malam tapi anaknya tidak beriman itu masalah lain, itu hak prerogative Allah, tetapi yang tidak benar adalah ketika kita tidak menjadikan sekala prioritas untuk mentarbiya dan mendidik anak-anak kita sehingga orang tidak percaya apa yang kita sampaikan, orang akan mengatakan ya ustadz lihat anak kamu sendiri mabuk-mabukan, anakmu nabrak orang dimalam tahun baru karena mabuk, anakmu merayakan tahun baru dengan hura-hura. Jadi seluruh pemimpin baik itu didalam rumah tangganya, organisasi, partai, kantor dan lain sebagainya menjadikan skala prioritas untuk mendakwahi anaknya atau bawahannya.

Di surat At-Tahrim juga Allah berfirman:

يائيها الذين أمنوا قو أنفسكم وأهليكم نارا

Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.

 

Bahkan dalam surat Al-Ahqof diperingatkan oleh Allah kepada kita semuanya, janganlah sampai berkhianant, dan yang menyababkan khianat diantaranya adalah kita tidak perhatian terhadap anak kita sehingga anak kita menjadi fitnah. Kapan harta dan anak kita menjadi fitnah? Yaitu ketika kita mendapatkannya bukan dengan jalan yang benar dan ketika mendidiknya bukan dengan jalan yang benar, ketika itulah berubah anak dan harta yang awalnya nikmat menjadi fitnah.

Jangan sampai kita sia-siakan anak kita karena itu asset yang sangat mahal, karena perbaikan dimulai dengan dakwah kepada anak dan kerabat kita. Perkara lain jika kita sudah ajak dakwah, kita sudah ajak tarbiyah, kita sudah perhatian tapi tidak mau mengikuti kita maka itu urusan dia dengan Allah, tapi tidak boleh kita sia-siakan, kita beri waktu yang sisa, kita perhatikan dengan perhatian yang sisa itu yang tidak boleh. Sehingga tahun baru kita dengar berita2 yang tidak menyenangkan, ditahun baru yang harusnya kita mulai dengan perbaikan tapi yang terjadi adalah bencana dan bencana dimana-mana.

 

  1. Kita memulai perbaikan dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, kantor kita, perusahaan kita dan Negara kita adalah dimulai dari MASJID.

Ulama sirah Nabawiyah da nada juga ulama tafsir mengatakan bahwa Masjid itu adalah termasuk awal pilar-pilar masyarakat islam dimulai dari MASJID, itu kenapa ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah yang pertama dibangun adalah MASJID. Karena kalau orang sudah rajin ke Masjid fikirannya adalah Taubat, tidak mungkin berfikiran korupsi, fikirannya ingin menambah hafalan Qur’an bukan ingin menambah istri. Itulah sebabnya masjid adalah tempat yang terbaik. Sebaliknya pasar atau swalayan atau MAL adalah tempat syetan, bukan tidak boleh kita kesana tapi ketika lama-lama ditempat seperti itu na’udzubillah min dzalik. Makanya Alqur’an mengatakan dari masjid itu akan membangun Rijal (para pemimpin). Rijal disini adalah aktifis atau orang terdepan dalam setiap kebaikan.

 

Dalam surat Annur ayat 36 dan 37 ketika berbicara dengan rumah Allah, Allah kaitkan dengan Masjid.

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang disanatelah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, disana bertasbih (mensucikan) nama-Nya di waktu pagi dan petang. Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shlat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat)”. (QS An-Nuur: 36-37).

Dalam bentuk pengamalan secara aplikatif berarti ketika kita menjadi orang yang diberikan wewenang maka kita harus menjadi terdepan memberikan contoh kepada teman-teman kita dalam memakmurkan Masjid. Ketika ada diantara kita menjadi orang yang menentukan sebuah ormas atau partai maka harus terdepan brada di Masjid, kalau sudah ada imamnya paling tidak di barisan depan, jadi itulah orang-orang terbaik. Rasulullah SAW Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali juga begitu, tidak mungkin kita lebih baik daripada mereka. Dari dulu contohnya mengelola jamaah yang baik. Inilah contoh dari Alqur’an dan Sunnah bagaimana kita memulai sesuatu sehngga kita menjadi lebih baik.

 

  1. Dalam Hadits Shahih Nabi SAW bersabda :

“Amal seorang hamba yang pertama di hisab (dihitung) di hari kiamat adalah Shalat.”

Jadi yang pertama kita lihat dari saudara kita apakah dia sudah menjadi lebih baik atau belum adalah Shalatnya. Kalau ada orang rajin Shalat tapi keburukannya sangat dominan, berarti yang bermasalah bukan Shalatnya karena Shalatnya benar tetapi Shalat dia yang tidak benar atau seseorang tersebut dalam Shalatnya tidak benar.

Secara keseluruhan, siapakah orang2 yang terbaik itu yang berhak mendapat ridha Allah? Ternyata adalah orang yang paling dahulu/awal dalam masuk Islam, dalam dakwah, dalam berjuang, dalam shodaqoh/infaq itulah orang2 yang di anggap oleh Allah orang yang sukses didunia dan di akhirat. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100:

 

“dan orang2 yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang2 Muhajirin dan Anshor dan orang2 yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Ridha kepada mereka dan mereka punRidha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”. Atau yang demikian itu adalah sukses yang terbesar.

(Disarikan oleh Ustadz Jafar Sidiq dari Kajian Dzuhur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.