Sisi lain Tukang Ojek

M. Toyyib salah seorang tukang ojek, yang mangkal di salah satu sudut perempatan jalan protokol Jakarta, Jl. MH Thamrin. Siang itu dia melakukan aktivitas rutinnya sebagai tukang ojek. Bapak 3 orang anak ini, adalah salah satu di antara ratusan atau bahkan ribuan orang, yang berprofesi sebagai tukang ojek di ibukota republik ini.

Di usia yang menginjak 55 tahun, dia masih harus menghidupi 2 dapur, karena istrinya ternyata 2 orang. Anaknya paling besar sudah memasuki SMK, sedangkan 2 yang lain sudah berkeluarga. Tukang ojek mungkin bukanlah pekerjaan yang diiinginkan pria paruh baya ini. Dia dulu pernah menjadi seorang pengantar minuman orange jus, penjaga bar, pekerja salah satu perusahaan kontraktor di Jakarta.

Aktivitas “ngojek” itu dijalani hampir setiap hari mulai tahun 2000. Pagi-pagi layaknya pekerja kantoran dia keluar rumah, berjaket tebal, berangkat dari Ciledung menuju MH. Thamrin menjemput rizki yang sudah disediakan Yang Maha Pemberi Rizki. Pukul 07.00 dia sudah siap dengan motor roda dua nya. Jam pulang kerja dia tidak tentu, yang jelas sekitar pulul 10 malam.

Siang itu dia dan rekan-rekannya menunggu para calon penumpang. Ruang tunggu kerja nya di bawah pohon yang cukup rindang, sedangkan ruang kerja outdoor nya, di atas aspal-aspal hitam di wilayah Jokowi ini. Penghasilannya per harinya sebagai ukang ojek ternyata cukup besar, hampir Rp. 150.000,- per hari. Mungkin cukup menghidupi 2 dapurnya selama ini ini. Kata rekannya, dia juga punya usaha sampingan, makelar tanah di Ciledug. “Jadi tukang ojek hanya sekedar sampingan belaka, yang utama menjadi makelar tanah”, canda rekannya.

BBM yang naik menjadi ganjalan bagi dirinya, karena tarif ojek tidak berubah. “Hanya kesadaran penumpang, jika ingin memberikan uang lebih”, katanya. Biasa makan 1 porsi Rp. 7.000,- sekarang menjadi Rp. 9.000,-. Semua menjadi mahal, harga barang sudah merangkak atau bahkan berlari lebih cepat daripada penghasilan yang dibawa ke rumah. Menjelang puasa dan lebaran nanti, tidak ada persiapan khusus untuk biaya sehari-hari. Hanya hasil ojek yang akan menopang hidupnya nanti. Sederhana sekali.

Ada siang ada malam, ada lelaki ada perempuan. Roda pun berputar, sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Suka duka pun dialami tukang ojek berjaket tebal ini. Hujan, ban bocor, sepi penumpang adalah bagian dari “duka” yang dia alami selama ini, dan itu pun sepertinya tidak terlalu dianggap  duka baginya. Tapi “suka” menurut dia, “jika kita bisa mensyukuri apa yang diterima selama ini, dan kita tidak banyak mengeluh”. (Teguh Dwi Prasetyo)