Evaluasi Diri, Bercermin Pada Kritikan Dan Pujian

Sebagai PNS akan menerima Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) setiap tahun sekali, penilaian dinyatakan dengan sebutan dan angka. PNS berharap angka penilaian minimal tetap, syukur bertambah. Manfaat DP3 untuk persyaratan administrasi dalam berbagai kepentingan institusi maupun individu.

 

Mencermati unsur yang dinilai dalam DP3, walau bersifat formal, apakah bisa mempunyai nilai tambah atau sebagai dasar dalam menyusun raport kehidupan dunia yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Aspek apa saja yang perlu dievaluasi dalam raport dunia, khususnya melalui mekanisme evaluasi diri. Setelah evaluasi perlu diambil tindakan aksi perbaikan, perubahan, dan peningkatan kualitas hidup.

 

Hisab Diri Sejak Dini

Satu tahun kalender tidak sekedar sebagai urutan dan akumulasi waktu 12 bulan, ada awal ada akhir, bahkan secara teknis ada bulan-bulan kritis, secara ritual anggaran ada bulan dengan beban puncak. Waktu bisa berjalan paralel, manusia wajib memanfaatkannya dengan bijak dan cerdas. Rasulullah SAW bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, luangmu sebelum sempitmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum fakirmu.” (HR Ahmad).

 

Secara matematis manusia tidak bisa mengkalkulasi apa saja perolehan hari ini, apakah raihan sesuai rencana, apakah kualitas hidup hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Secara manusiawi, bahkan tidak menyadari apakah segala tindakan dan ucapannya malah menambah argo dosa atau di sisi keyakinan apakah gerakan ritualnya bisa-bisa bisa menggerogoti saldo amal. PNS melakoni hidupnya nyaris rutin, standar dam tipikal dari subuh sampai subuh berikutnya.

Wajar, jika memasuki tahun kalender baru, PNS hanya menghitung berapa tahun lagi masih terima gaji. Jika pejabat struktural pensiun, berdampak gerbong mana yang bergerak mendapatkan promosi. Berapa tamu Allah yang dilepas secara seremonial di Kementerian PU tiap tahun, kembalinya akan berdampak pada pembentukan kesalehan sosial.

 

Sejalan dengan DP3, kita sebagai hamba Allah tentu dalam hati juga melihat ke belakang, khususnya pada apa saja yang telah kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda :

“Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR Turmudzi).

 

Hadits di atas menyiratkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah skenario besar seorang hamba, dalam menggapai Ridho dan Rahmat-Nya. Dalam menjalankan skenario besar tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir sebagai fokus utama yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

 

Diperlukan ilmu, metoda dan adab dalam menghisab diri. Kita tidak perlu menunggu waktu baik, bulan baik untuk evaluasi diri, atau setelah ada kejadian yang tidak sesuai harapan, mengalami peristiwa yang tidak diinginkan, kenyataan hidup berkata lain, baru sadar. Hubungan kerja, interaksi sosial, reaksi lingkungan, sampai tahapan persaingan bebas bisa menjadi sarana untuk evaluasi diri.

 

 

Dampak Lingkungan Kerja

Jam kerja ditambah waktu tempuh di jalan, menyebabkan waktu harian lebih banyak di luar rumah. Tantangan dan beban kerja, atau kewajiban sebagai pejabat struktural/fungsional, kantor menjadi keluarga kedua.

 

PNS mempunyai pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan baik dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari, yang dikemas sebagai Kode Etik.

 

Etika dalam melaksanakan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari setiap PNS sebagai dasar dalam kehidupan bernegara dan penyelenggaraan pemerintahan; berorganisasi; bermasyarakat; melakukan pelayanan terhadap masyarakat; melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum; terhadap sesama PNS; dan terhadap diri sendiri,

 

Kritik/Pujian

DP3 secara tak langsung merupakan kritik/kajian, berbasis pasal hukum buatan manusia. Dalam berkiprah total sebagai PNS, sebagai mahluk sosial maupun insan reliji, beramal, tidak perlu pakai hitung-hitungan. Mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, harus disertai iman. Tindakan apa saja yang bisa menambah saldo amal sekaligus mengurangi argo dosa, kita mengacu terjemahan [QS An Nuur (24) : 24] :

pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.

 

Kita yakini bahwa bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala. Allah telah menunjukkan kepada kita dua jalan, yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan [QS Al Balad (90) : 10]. Kemana kaki melangkah untuk meliwati jalan pilihan yang akan ditempuh, perlu kecerdasan hati.

 

Lidah dan tangan bisa menjadikan manusia kuat atau bahkan sebaliknya terpuruk menjadi serendah-rendahnya makhluk. Sesama PNS sebagai pemilik dan pemakai lidah dan tangan, akan bertemu dikondisi yang kontradiktif, seperti Hadist :

Bila kamu jumpai kemungkaran dan kamu tidak mencegah serta tidak menanggulanginya, dikhawatirkan Allah akan menurunkan azab-Nya. Azab itu bersifat menyeluruh” (HR At-Tirmidzi).

 

PNS tidak bisa lepas dari stigma sebagai yang lebih mahir dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, lebih lihai dalam menganalisa sepak terjang kementerian, lebih ahli dalam menilai kinerja atasan, lebih lihai dalam melihat kelemahan koleganya. Sisanya, lebih mudah menggerutu, mengeluh dalam menyikapi keadaan.

 

Kritik/pujian sebagai hal yang tidak kita minta, namun kedatangannya harus bahkan wajib disyukuri. Saat kita bercermin, hanya untuk melihat kelebihan diri, memantas dan mematut diri, mencari gaya dan pose terbaik, melatih cara bertutur dan tersenyum yang menarik, memantapkan model rambut. Kita bisa memanipulasi diri untuk mendapatkan bayangan cermin seperti harapan.

 

Kemanfaatan atau dampak kritik/pujian yang disampaikan dengan tujuan untuk kemaslahatan bersama, sangat dahsyat :

 

  • Pertama, sebagai tolok ukur atas kemampuan, kualitas dan potensi diri sekaligus untuk mengetahui titik terlemahnya sebagai kondisi nyata.
  • Kedua, memulai langkah dalam menata ulang kehidupan, dengan menjadikan titik lemah sebagai potensi atau sebagai daya dorong untuk tetap eksis.
  • Ketiga, merancang agar kehidupan esok lebih baik dari kehidupan sekarang, dengan mensinerjikan berbagai potensi yang dimiliki.

 

PNS sebagai makhluk kantoran, maupun insan reliji, dalam evaluasi diri mengacu juga pada terjemahan [QS Al Hasyr (59) : 18-19] :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

 

Dalam memilih dan memilah kritik/pujian yang masuk, manfaatkan sebagian terjemahan [QS Al Baqarah (2) : 216] :

“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

 

Oleh : herwin Nur

Tulisan  ini pernah dimuat di Mimbar As-Salam Kementerian PU, Edisi 116, Jum’at 5 April 2013.

————————-