Mendidik Anak Mencintai Al Qur’an

Membangun keluarga yang mencintai Al Qur’an adalah cita-cita mulia, sebab Al Qur’an adalah firman Alloh yang menjadi pedoman hidup manusia. Sayangnya dari ratusan juta umat Islam di Indonesia, tidak banyak yang memahami, menghafalkan, dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.

Berkaca pada hadits Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang beruntung adalah ketika berhasil menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Maka jika sebagai orangtua kita berhasil mendidik anak menjadi akrab dan mencintai Al Qur’an, bahkan lebih baik daripada orangtuanya maka insya Alloh kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Oleh karena itu penting bagi suami-istri untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Al Qur’an sejak dini. Lebih-lebih jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an (khufadz), sebab usia paling optimal untuk menghafal adalah antara 0-6 tahun atau yang kita kenal dengan golden age yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh dengan optimal.

Mulai dari Orangtua

Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua sebagai pendidik harus terlebih dahulu memahami apa itu Al Qur’an, apa saja keutamaannya, serta apa saja kewajiban kita terhadap Al Qur’an. Orangtua sebisa mungkin menghayati perannya, semisal jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an maka orangtua rela keliling pulau dalam rangka mencarikan pesantren penghafal Al Qur’an yang terbaik untuk putra-putrinya, juga rela berpisah dengan mereka untuk sementara waktu.

Adapun kewajiban-kewajiban kita terhadap Al Qur’an  antara lain :

1. Membaca Al Qur’an dengan benar

Karena Al Qur’an adalah bacaan sholat, jangan sampai salah membaca sehingga menimbulkan arti yang berbeda, semisal qolbu (hati) dibaca kalbu (anjing), sedikit salah membaca artinya sudah sangat jauh berbeda. Jika ingin putra-putri kita fasih membaca atau menghafal Al Qur’an, maka lidah harus dibentuk sejak dini (usia 0-6 tahun), yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh membentuk jaringan. Mengenai hal ini Rosululloh SAW pernah menuturkan bahwa beliau sungguh beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah Bani Sa’ad yang paling fasih bahasa Arab-nya.

2. Menghafalkannya

3. Memiliki ilmunya

Dua per tiga Al Qur’an terdiri atas kisah-kisah yang disampaikan Alloh supaya bisa dijadikan pelajaran sehingga tidak melakukan kesalahan serupa.

4. Mengamalkannya

5. Menyebarluaskannya

Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua juga harus terlebih dulu gemar dan akrab dengan Al Qur’an. Lebih-lebih bagi sang ayah, karena kisah sukses membangun keluarga qur’ani selalu dimulai dari keteladanan ayah sebagai decision maker (pengambil keputusan) dalam keluarga. Usahakan bagi para ayah untuk tidak beranjak dari masjid sebelum menyelesaikan satu juz Al Qur’an setelah sholat shubuh. Seorang ayah juga wajib mencarikan nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya, sebab jika sampai masuk sesuatu yang syubhat maka doa tidak akan diijabah selama 40 hari.

Untuk mencetak generasi yang akrab dengan Al Qur’an maka orangtua harus memiliki visi qur’ani terhadap anak dan keluarganya, bersungguh-sungguh memenuhi komitmen tersebut, serta mampu bekerjasama secara sinergis. Barangkali kita bisa mencontoh keluarga Imron, Nabi Yakub AS, atau Ibrahim AS yang kisahnya telah diabadikan dalam Al Qur’an. Lagi-lagi figur ayah dituntut untuk menjadi teladan, sebab ayah bertanggungjawab menentukan peta keluarga. Anak-anak sejak lahir telah membawa syahadat, orangtua lah yang kemudian meneruskan mau dijadikan apa anak-anaknya. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab RA ada seorang anak yang mengadukan perihal ayahnya, “Ayahku tidak memenuhi hakku, dia tidak mencarikan aku ibu yang baik, tidak mencarikan aku nafkah yang baik, juga tidak mengajariku ilmu agama”. Umar membenarkan pengaduannya serta menegur ayah dari anak tersebut.

Mulai dari Rumah

Rumah adalah madrasah pertama putra-putri kita, oleh sebab itu penting untuk mengkondisikan rumah ‘akrab’ dengan Al Qur’an. Mulai dari murottal setiap hari, tidak ada gambar-gambar syubhat atau yang dilarang, memasang kaligrafi ayat-ayat, menciptakan situasi bacaan-bacaan Islami, musik-musik Islami (nasyid), serta menjauhi perkataan dan perbuatan fahisyah. Suasana qur’ani harus dibangun agar anak merasa nyaman.

Biasakan keluarga kita untuk bangun sebelum shubuh, budayakan sholat berjamaah (utamakan di masjid). Selanjutnya upayakan tidak ada kegiatan lain setelah sholat shubuh selain interaksi dengan Al Qur’an yang diakhiri dengan do’a, baru kemudian berlanjut pada aktivitas yang lain.

Sama halnya dengan ba’da shubuh, upayakan tidak ada kegiatan lain ba’da maghrib selain interaksi dengan Al Qur’an kemudian mengkajinya hingga datang waktu Isya.

Lawanlah kebosanan dan kemalasan dengan kegiatan variatif, dinamis, fresh, dan beri penghargaan terhadap setiap usaha putra-putri kita meski sedikit. Selalu dahulukan pujian daripada celaan, semisal ketika anak membawa piring lalu pecah sekali terkadang diomeli habis-habisan padahal ketika anak membawa piring lima kali dan tidak pecah tidak pernah dipuji.

Meskipun anak melakukan kesalahan, orangtua harus menghindari menghukum anak, kalaupun terpaksa maka terapkanlah hukuman yang edukatif. Semisal jika anak telah berumur 10 tahun dan menolak untuk sholat maka boleh dipukul namun dengan pukulan kasih sayang bukan kebencian, itupun hanya boleh dilakukan pada area mata kaki hingga lutut. Jangan menjewer anak, karena telinga terdiri atas syaraf-syaraf yang bisa rusak jika dijewer, selain itu menjewer juga akan melukai hati.

Yang tak kalah pentingnya adalah mengatur dan mengurangi interaksi dengan TV, games di komputer, juga play station. Akan lebih baik jika bisa melibatkan anak dengan aktivitas orangtua terkait interaksi dengan Al Qur’an, lebih bagus lagi jika bisa diprogram.

Mulai dari Sekolahnya

Sekolah juga punya andil dalam membentuk kepribadian dan kualitas anak. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengajak dialog anak, mengarahkan, dan memilihkan sekolah/lembaga pendidikan yang mendukung. Bangunlah komunikasi dan kerjasama yang baik dengan guru dan sekolah. Upayakan untuk memfasilitasi kebutuhan anak, mengarahkan keinginannya, serta membentuk jiwanya sebelum habis waktunya (ketika masuk masa remaja yakni usia 11-15 tahun, adalah jelang berakhirnya masa usia anak).

Mulai dari Teman-Temannya

Jika ingin mengetahui kualitas seseorang, maka perhatikanlah dengan siapa dia berteman, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengontrol teman sepermainan putra-putrinya, dengan siapa dia berteman, dan tanyakan siapa teman dekatnya. Orangtua turut mengarahkan, membimbing, dan membentuk lingkungan teman-temannya. Orantua ikut mengontrol waktu dan tempat bermain dengan teman-temannya. Bisa juga dibuatkan program yang mendukung bersama dengan teman-teman lingkungannya, semisal saat liburan diisi dengan piknik tahfidz qur’an yang dikemas menyenangkan.

Masa anak-anak adalah masa yang penting, karena bagi orangtua mendidik anak itu diibaratkan seperti membentuk keramik. Saat anak masih kecil, dibentuk menjadi apapun akan mudah bagi orangtua untuk mengarahkannya. Namun jika sudah besar, ibaratnya bahan baku (tanah liatnya) sudah kering, sehingga sudah sulit untuk dibentuk, bahkan bisa retak dan pecah jika dipaksa. Lebih-lebih pada seorang anak, yang retak bukanlah fisiknya melainkan jiwanya. Jika yang retak jiwanya, maka anak akan tumbuh menjadi pemberontak yang suka melawan.

Anak adalah milik Alloh, maka terserah Alloh mengamanahkannya pada siapa. Tugas kita sebagai orangtua yang telah diamanahi oleh Alloh anak-anak tersebut adalah merawat dan menjaga nikmat itu dengan memeliharanya. Alloh telah memberi kita satu alat untuk bisa memelihara anak dengan benar, yaitu kasih sayang. Marilah kita senantiasa introspeksi diri, mengawali hari dengan do’a, serta menutup malam dengan evaluasi dan munajat pada Alloh agar selalu diberi kebaikan dan petunjuk-Nya hingga khusnul khotimah. Aamiin ya Robbal alamiin..

Ustdzah Wirianingsih Mutammimul Ula
Sumber : www.jalanpanjang.web.id