Ibu adalah Madrasah Peradaban

Saya teringat kisah hidup saya di 24 Nopember 2011 lalu. Tanggal itu sudah jamak diperingati sebagai Hari Guru. Seperti teman-teman saya yang lain, saya pun mengirim SMS kepada dua orang guru TK anak saya.

Secara persisnya saya sudah lupa isi SMS saya. Pada intinya sih saya mengucapkan Selamat Hari Guru, ucapan terima kasih beserta do’a semoga beliau diberikan ilmu yang berkah dan bermanfaat oleh Allah Swt.

Tak kusangka, salah seorang Bu Guru itu membalas SMS saya. Isinya membuat saya terharu, mata saya berkaca-kaca, dan mendadak jantung saya berdetak lebih cepat.

“Ya, Mama. Selamat Hari Guru juga untuk Mama. Karena Mama adalah guru pertama dan utama anak-anak, …”

Deg. Ya benar. Aku adalah seorang ibu. Berarti aku adalah guru, sing digugu lan ditiru. Dengan demikian seorang ibu wajib mendidik anak-anaknya. Sudah semestinya menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya.

Allah, Yaa Rahman, sungguh aku masih teramat jauh dari sempurna dalam hal ini. Sungguh rasanya aku belum pantas ditiru karena kurangnya amal dan ilmu. Namun, Engkau amanahkan anak-anak kepadaku tentu saja dengan pertimbanganMu, Wahai Dzat yang Maha Melihat. Oleh karena itu, ajari aku, Yaa Allah, untuk menjadi ibu yang bertanggung jawab, bimbing aku dalam setiap langkahku agar aku bisa memberikan teladan yang baik. Ajari aku dalam mengantarkan anak-anak mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu. Amiin…

 

Oleh Mamaray, Kantor Pusat DJPB