Tawadhu

Modal iblis adalah sifat sombong, sedangkan modal manusia adalah sifat tawadhu. orang yang mempunyai sifat sombong akan melekat pula sifat munafik dan sering berbohong. orang dengan sifat tawadhu akan mudah menerima kebaikan, sedangkan orang yang bersifat sombong akan merasa paling baik diantara yang lain, merasa paling sempurna sehingga tidak bisa menerima kebaikan.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahualaihi wasalam bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi shallahualaihi wasalam: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah shallahualaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanhu Wa Ta’ala adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

Setiap orang butuh untuk diterima, dicintai, disayangi oleh orang lain. Sifat sombong akan menghilangkan sifat ‘penerimaan’. Orang yang di dalam hatinya dominan dengan sifat sombong tidak akan mau ‘disombongi’ oleh orang lain. Orang sombong tidak mau menerima keunggulan orang lain karena merasa dirinya paling hebat.  Hal ini yang disebut tidak ada sifat ‘penerimaan’.

Sifat tawadhu’ akan melahirkan banyak sifat baik yang lain antara lain ;

  1. muhasabbah
  2. meningkatkan diri
  3. iqra un nash
  4. khusyu, dll

5 tahapan sombong

  1. ujub ; bangga akan diri sendiri
  2. sum’ah ; ingin selalu didengar orang
  3. riya’ ; didengar dan dilihat orang
  4. sombong/khibr ; merasa lebih dari orang lain;
  5. maghrur ; masih merasa kuasa walaupun kenyataannya tidak berkuasa lagi (post power syndrome)

 

Paham kapitalisme dan materialisme menggunakan sombong sebagai modal utama sedangkan Islam menggunakan sifat rendah hati sebagai modal utama. Paham kapitalisme/sombong menimbulkan berbagai sifat jelek seperti membuat harga barang akan menjadi mahal karena orang mencari barang yang mahal untuk bisa dibanggakan kepada orang lain.

Tawadhu adalah sifat pengakuan diri sebagai hamba yang tak berdaya. Orang dengan sifat tawadhu akan merasa bahwa segala kelebihan yang ada pada dirinya semata-mata hanyalah atas pemberian Allah Subhanhu Wa Ta’ala, dan dia menyadari sepenuhnya bahwa sewaktu-waktu Allah Subhanhu Wa Ta’ala bisa saja mengambil semua pemberiannya itu.  Orang yang tawadhu akan merasa bahwa dirinya “hanya” tampak kaya, tampan, mewah, hebat dll karena masih diberi kehebatan oleh Allah Subhanhu Wa Ta’ala, sementara jika Allah Subhanhu Wa Ta’ala berkehendak maka semua kekayaan, ketampanan, kemewahan, kehebatan, dll itu bisa hilang dalam sekejap.

Sifat Rendah hati tetapi tidak Rendah diri

manusia merasa tidak punya apa-apa tetapi insya Allah diberi karunia (sifat positif). Pintu utama Rendah Hati adalah ma’rifatul zat yaitu tahu akan diri sendiri. Seorang mukmin itu merasa bukan dirinya sendiri yang hebat tetapi hanya diberi kehebatan oleh Allah, saat gagal tidak merasa putus asa saat berhasil tidak sombong.

Ekspresi wujud dari Rendah Hati

1. Mudah ditemui siapapun

2. Gampang mengerjakan yang bisa dilakukan sendiri, contoh adalah ketika khalifah Abu Bakar sedang mengendarai unta, cemeti unta beliau terjatuh dan dia turun dari unta dan mengambilnya sendiri, kemudian para sahabat bertanya kenapa tidak memerintahkan untuk diambil maka beliau menjawab seorang muslim harus melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan diri sendiri.

3. Saat berbicara tidak dominan

4. Mau mendengar, bicara itu lebih mudah daripada mendengar,  butuh kerendahan hati untuk menerima kritik

Allah memberi karunia kepada sebagian yang lain agar saling menghargai dan saling memuliakan. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang hebat jika orang-orangnya saling menghebatkan satu sama lain, dan untuk itu sangat diperlukan adanya sikap tawadhu dalam diri masing-masing anak bangsa. Dengan sifat rendah hati akan mendapat karunia di dunia dan akhirat

 

Resume Kajian Tazqiyatun Nafs dengan tema Tawadhu bersama Ustadz Muhsinin Fauzi, Lc, MA
Diresume oleh Andi Khoirul Anam, Sekditjen Perbendaharaan