Sholat Idul Adha di Sorong Papua Barat

Sholat Idul Adha di Sorong Papua Barat

Sapa hangat dari Sang Kholiq berupa hujan lebat di ahad pagi 6 Nopember 2011 sejenak sempat menahan langkah kaum muslimin di Sorong Papua Barat untuk menjalankan sholat Idul Adha di Masjid Agung Al Akbar   – Sorong Papua Barat. Namun keinginan untuk mencintai dan mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW telah mengalahkan keengganan untuk menerobos guyuran hujan itu. Meski mereka akhirnya harus berjubel menempati teras samping masjid dan ikhlas berbagi tempat dengan saudaranya agar semua bisa mengikuti rangkaian ibadah idul adha.

Persepsi sebagian besar masyarakat tentang Papua yang terkesan negatif, penuh dengan kekerasan sebagaimana gencar diberitakan media cetak maupun elektronik akan segera sirna manakala hadir menyaksikan anak-anak, kawula muda, ibu-bu, bapak-bapak, kakek nenek tumpah ruah di masjid terbesar di kota paling barat di pulau Papua itu. At least, pagi ini dari Kota Sorong menyampaikan kabar kepada tanah air bahwa memang ada sebagian daerah di Papua  yang sedang bergejolak, menuntut perhatian lebih, tapi masih banyak teritori lain di tanah cendrawasih  yang aman tentram, damai, religius sebagaimana terlihat dalam keseharian dimana kumandang adzan bersautan  dari berbagai penjuru masjid mulai Subuh sampai Isya.

Meski akhirnya jadwal pelaksanaan sholat  diundur setengah jam untuk memberikan kesempatan bagi kaum muslimin yang terjebak atau terkendala hujan, ribuan jamaah tetap setia mengumandangkan takbir sebelum dimulainya Sholat Idul Adha. Dan kemudian berdiri, rukuk, dan sujud dengan penuh kekhusyukan.

Sholat Idul Adha dipimpin oleh Imam Masjid Agung Al Akbar dan dilanjutkan dengan khotbah Idul Adha oleh Ustadz H.Badaruddin Laundi, SH – Wakil Ketua I Takmir Masjid Agung Al-Akbar Kota Sorong dengan menyampaikan tema “Sebuah Pengorbanan yang Patut Diteladani”. Sejak awal khutbah, sang khotib berusaha dengan suara berat dan menahan isak tangis untuk mengajak jamaah menghadirkan kembali kisah fenomenal sebuah keluarga teladan Ibrahim, Ismail dan Hajar khususnya tentang makna cinta dan pengorbanan kepada Sang Pencinta. Suasana menjadi semakin menghiba dan membuat jama’ah meneteskan air mata ketika Khotib menukil pesan Ismail as kepada sang ayahanda sebelum prosesi penyembelihan dimulai : Hai ayahku, ikatlah kedua tanganku agar aku tak dapat bergerak sehingga tidak mengganggumu, tengkurapkan wajahkju di atas tanah wahai ayah agar engkau tidak terharu, dan timbul rasa kasih sayangmu kepadaku. Wahai ayah, jagalah pakaianmu agar tidak terkena cipratan darahku, sehingga mengurangi pahalaku dan menyedihkan ibuku jika ia melihatnya. Wahai ayah, asahlah baik-baik pisaumu agar dapat berlalu dengan licin dan cepat di leherku sehingga meringankan rasa pedihku. Wahai ayah, bawalah pakaianku kepada ibuku sebagai tanda kenang-kenangan. Ayah, sampaikanlah salamku buat ibuku agar ibu sabar menjalankan perintah Allah SWT dan janganlah beritahukan pada ibuku bagaimana engkau mengikatku serta menyembelihku. Wahai ayah, janganlah biarkan anak-anak sebayaku mendatangi ibuku agar beliau tidak selalu teringat dengan masa-masa bersamaku dan menjadikannya bersedih dan susah.

Sungguh hanya hati keras membatu saja yang tidak tersentuh dengan apa yang telah dilakukan seorang anak bernama Ismail yang begitu tulus ikhlas menyerahkan satu-satunya harta yang dimiliki demi mentaati perintah Allah SWT. Dan betapa Ibrahim as yang bertubi-tubi mendapat ujian namun tak pernah lelah dan bosan untuk tetap setia serta penuh tanggung jawab atas semua amanah yang dibebankan kepadanya. Untuk membuktikan kesungguhan iman paripurna yang rasa-rasanya sulit kita dapatkan saat ini sebagaimna juga khotib sampaikan : sekarang ini banyak sekali orang tertipu iman dalam bayangan, mengaku iman tapi sholatnya sering absen, mengaku beriman diminta zakat atau sumbangannya tetapi enggan, suka menipu, berzina, berjudi, meminum minuman keras, korupsi, mencuri, sombong dan selalu membanggakan diri. Begitulah tingkah laku orang yang lemah imannya dan tidak istiqomah. Pagi beriman, sore kafir dan bahkan biasanya menukar aqidah dengan harta benda.

Akhirnya, lantunan doa menutup rangkaian sholat Idul Adha…Ya Allah jauhkanlah daerah dan kampong halaman kami dari musibah dan bencana khusunya Kota Sorong, mudahkanlah kami mendapatkan rizki-Mu yang halal. Amin amin ya Rabbal Alamin.

 

Kontributor Papua :

Djoko Julianto

Lukman Elhakim

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.