Membangun Keluarga Bahagia

“Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir.

“Artinya Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud, Tirmdzi dan Ibn Majjah).

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah(nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,’”(QS Ibrahim [14]: 7)

Menikah adalah salah satunya tentang syukur. Syukur menurut imam ghazali, adalah menggunakan kenikmatan untuk ketaatan kepada Allah, misalnya, ketika kita di beri sajadah oleh seseorang, lalu kita gunakan sajadah tersebut untuk shalat, maka ketika si pemberi itu melihatnya pasti akan senang dan berfikir “kalo saya beri sajadah saja untuk shalat, besok besok saya kasih sarung ah” itulah yang dinamakan bersyukur, seperti juga ketika kita bersyukur mendapat pekerjaan misalnya dengan menggunakan uang dari hasil pekerjaan itu untuk beribadah, maka sesuai janji Allah, Ia pasti akan menambahkan nikmatNYa, seperti menghadirkan pasangan hidup misalnya (bagi orang-orang yang masih single).

Tetapi apabila ketika kita diberi sajadah lalu sajadah tersebut kita letakan di depan pintu dan kita gunakan untuk “keset”, maka ketika si pemberi itu melihatnya maka akan berfikir, “saya beri sajadah buat shalat malah digunakan buat keset, lain kali saya tidak akan memberi lagi” itulah yang dinamakan dengan mengingkari nikmat Allah, tidak menggunakan nikmatNya untuk kebaikan tetapi malah menggunakannya hanya untuk bersenang-senang malah mungkin menjurus ke hal yang haram seperti miras dan sebagainya.

Nah seperti itu juga ketika seseorang mengadakan walimatul ‘urs ketika menikah ,ini adalah merupakan satu bentuk syukur kepada Allah atas nikmat diberikannya pasangan hidup.

Hukum walimatul ‘urs adalah sunnah menurut jumhur ulama. Sebagian ulama mewajibkan walimah karena adanya perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajibnya memenuhi undangan walimah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radiyallahu ‘anhu ketika dia mengkhabarkan bahwa dia telah menikah

“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tetapi terkadang ada orang yang berniat beryukur ketika mendapat pekerjaan, tapi ketika telah mendapat pekerjaan malah berfoya-foya, mabuk-mabukan, itu bukan bentuk syukur tapi kufur nikmat.

Selanjutnya, mengenai kerumahtanggaan, kata sang ustadz “mengatur yang paling sulit adalah mengatur istri, baru mengatur satu saja sudah sulit, apalagi dua atau tiga, mungkin ketika kapolsek mengatur anak buahnya mudah, ibu guru mengatur siswa satu kelas juga mudah, tapi mengatur istri satu saja, mungkin akan kesulitan.”

Oleh karena itu hal yang paling penting sebelum kita menikah adalah meluruskan niat kita, jangan hanya sekedar mengikuti eforia teman-teman seangkatan atau sekedar mengikuti hawa nafsu semata, tapi niatkanlah karena Allah, Niat adalah bibitnya amal. Sesuai dengan hadits rasulullah berikut:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Secara garis besar niat menikah ada 5, yaitu :

1. Niatkanlah menikah untuk ibadah.

InsyaAllah ketika niat menikah itu ibadah, segala hal di dalamnya pun akan berpahala, seperti salah satu wasiat faatimah azzahra: “Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu”

2. Niatkanlah menikah untuk mengikuti sunnah rasul

Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.

3. Niatklanlah menikah keinginan untuk kehidupan tentram bahagia dunia akhirat

Jangan sampai sekali sekali niat menikah untuk memperoleh kepuasan. Karena kepuasan di dunia tidak ada kepuasan yang sejati.

Di eropa, ketika sebagian besar dari mereka mengandalkan otaknya, pada tahun 1990an mereka mengadakan uji coba, mencari 10 orang pasangan yang saling mencintai, dan 10 orang pasangan yang didasarkan dengan pernikahan. Dan mereka dimasukan ke dalam sebuah asrama. Ternyata yang lebih merasa tentram adalah yang didasarkan pernikahan. Karena ketika yang tidak menikah, ketika melihat pasangan lain yang lebih cantik atau lebih tampan, ia akan cepat beralih dan terus mencari yang lebih memuaskan dirinya.

4. Untuk memperoleh keturunan yang shalih dan shalihah, baik keturunan lelaki atau perempuan yang penting shalih dan shalihah. Tapi terkadang kebanyakan manusia belum puas ketika baru mendapatkan anak perempuan saja, mereka baru puas ketika telah mendapatkan keduanya. Padahal pada hakikatnya mereka akan sama jika mereka shalih dan shalihah.

5. Untuk memerangi hawa nafsu,

Nafsu yang berbahaya ada 3 yaitu nafsu mulut, nafsu perut dan nafsu di bawah perut.

 

Selanjutnya untuk membangun rumah tangga yang bahagia ada beberapa tips yang perlu kita terapkan :

1. Sabar

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Tidak diragukan lagi, kesabaran adalah satu pilar penting dalam pernikahan setelah lurusnya niat. Langgeng tidaknya sebuah pernikahan sangat ditentukan oleh seberapa jauh tingkat kesabaran yang dimiliki suami istri.

Makin banyak bekal kesabaran yang dimiliki, maka akan makin kokoh pula bangunan pernikahan yang dijalani. Tapi makin sedikit kesabaran yang dimiliki, maka makin besar pula kemungkinan hancurnya sebuah pernikahan.

Demikian pentingnya sabar dalam pernikahan, ada orang mengatakan, “Bila sebelum nikah kesabaran kita hanya satu, maka setelah nikah kesabaran kita harus seratus.”

2. Qanaah, merasa cukup dan “nerimo”

Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa orang yang miskin itu hakikatnya adalah orang yang tak pernah merasa puas. Sedangkan orang yang kaya hakikatnya adalah orang yang merasa qana’ah.

Al-Ghina ghinan nafs (Orang yang paling banyak kebutuhannya, maka itulah orang miskin. Sedangkan orang yang tidak banyak kebutuhannya, maka itulah orang kaya).

3. Berbuat baik, kepada Allah dengan beribadah dan berbuat kepada orang tua.

4. Jangan emosi/cepat marah.

Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas :

Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.

Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran.

5. Sinarilah rumah tanggamu dengan shalat berjamaah dan membaca Alquran.

”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori)

Usahakan setiap hari warnai hari-hari bersama alqur’an, seperti tilawah bareng misalnya, sehingga bisa saling cek n ricek untuk perbaikan.

 

Sebuah nasehat di hari pernikahan kami
Caruban, Madiun, 6 september 2011.
Semoga Allah jadikan keluarga yang bahagia dan senantiasa berada dalam naungan petunjukNya

Peni Ustriani

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.