Hati Hatilah Menjaga Hati

 “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syu’ara [26] ; 88-89)

Ayat di atas adalah sepenggal do’a Nabi Ibrahim a.s. saat beliau beradu argumen dengan umatnya yang masih senang berkelindan dalam kekufuran. Beliau memohon kepada Alloh agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dihinakan pada hari kebangkitan karena kekafiran dan pembangkangannya kepada Alloh, Tuhan penguasa seluruh alam. Hari di mana segala ‘perhiasan’ dunia baik itu berupa harta, jabatan, derajat, nasab yang mulia, dan anak-anak tidak lagi ada nilainya. Hari dimana segala tebusan tidak lagi berguna. Hanya ada satu hal yang akan menyelamatkan dari kedahsyatan hari itu, yaitu hati yang bersih/selamat (qalbun salim).

Lalu, apa itu qalbun salim?

Ibnu Abbas berkata, ‘Qalbun salim adalah qalbu yang bersyahadah bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadahi kecuali Alloh.’

Sedangkan Ibnul Qayyim r.a. berkata, ‘Tidak sempurna keselamatan qalbu secara mutlak kecuali sampai ia selamat dari 5 hal:

  1. 1.       Selamat dari syirik yang bertentangan dengan tauhid;
  2. 2.       Selamat dari bid’ah yang menyelisihi sunnah;
  3. 3.       Selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah (syariat);
  4. 4.       Selamat dari ghoflah (kelalaian) yang bertentangan dengan dzikr (ingat);
  5. 5.       Selamat dari hawa nafsu (kecenderungan diri) yang bertentangan dengan ikhlas.

Jadi qalbun salim adalah hati yang bersih dari hal-hal yang akan mengotorinya, yang selamat dari hal-hal yang akan merusaknya, dan yang terhindar dari segala penyakit-penyakit hati yang akan menggerogotinya. Dalam hal ini ia bermakna bahwa orang yang memiliki qalbun salim maka ia akan terhalangi dari sifat-sifat hati yang buruk seperti munafik, riya’, sombong, dengki, hasad dan seterusnya, dan sebaliknya dalam hatinya akan tumbuh subur sifat-sifat baik seperti sabar, tawadhu’,  jujur, pemaaf, penyantun dan sifat baik lainnya.

Karena dalam satu hati tidak mungkin ada dua hal yang saling bertentangan bersemayam di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-ahzab [33]  ayat 4 yang artinya : “Alloh tidaklah sekali-kali menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. Jadi mustahil sifat-sifat baik dapat berkumpul dengan penyakit-penyakit hati, misalnya sombong dengan tawadhu’, kadzib dengan shiddiq, adil dengan dzalim. Sebagaimana mustahilnya bersatunya air dengan api.

Pada awalnya peperangan antara sifat baik dengan penyakit hati itu akan terus terjadi di dalam hati. Namun, seiring berjalannya waktu maka bisa dipastikan salah satunya pasti menang dan menguasai hati dan yang lain akan kalah dan terusir. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang mampu memenangkan sifat-sifat baik ini di dalam hatinya dan mampu mengamputasi segala penyakit yang ada di dalamnya. Mereka inilah orang-orang yang akan masuk ke dalam Surga dan bertemu dengan Rabb-nya dengan hati yang gembira lagi penuh keridhaan. Namun merugilah orang-orang yang sifat baiknya dikalahkan oleh virus hati yang mematikan, karena azab yang pedih telah menanti di kampung akhirat nantinya.

Menanamkan sifat baik dan menumbuhsuburkannya di dalam hati itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Butuh kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat. Karena tebusannya adalah surga. Dan sebagaimana kita ketahui bahwasanya surga itu mahal. Karena jalan yang menujunya terjal, berbukit, dan berliku tajam. Tidak mudah menggapainya kecuali orang yang bersungguh-sungguh dalam usahanya, yang tidak mudah dikalahkan oleh hawa nafsu dan terjerembab dalam tipu daya syetan yang menyesatkan. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam hadis:

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan syahwat.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu wajarlah jika banyak orang yang sangat menginginkan surga tapi ia tidak mampu meraihnya karena ia justru  bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju neraka yaitu dengan menuruti segala nafsunya dengan menghabiskan seluruh waktu dan hidupnya untuk mengejar kesenangan-kesenangan semu di dunia. Maka mulai sekarang, mari tanamkan kuat-kuat pada diri kita bahwa kita akan bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju surga-Nya yaitu dengan menyucikan hati kita dari segala hal yang mampu mengeruhkan kejernihannya. Mari kita belajar tentang tazkiyatun nafs sebagai sarana pembersih hati dan jiwa agar kita pantas mengetuk pintu Surga-Nya dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat nikmat mampu menatap wajah-Nya.

Lalu bagaimana caranya untuk membersihkan hati agar kita termasuk ke dalam golongan orang yang memiliki qalbun salim?

Caranya tidaklah sulit. Hanya saja jalannya itu sangatlah panjang. Butuh kesabaran dan penjagaan seumur hidup untuk meraihnya. InsyaAlloh ke depannya akan kami usahakan untuk menulis secara berkesinambungan tentang materi tazkiyatun nafs yang diambil dari bukunya Ustadz Sa’id Hawwa yang merupakan hasil penulisan ulang buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali serta buku-buku lain tentang penyucian jiwa yang terkait. Kami akan menuliskannya sedikit demi sedikit, agar memberi ruang bagi diri kita untuk dapat menginternalisasikannya dalam hati dan mengaplikasikannya perlahan dalam laku kehidupan kita. Karena ilmu  tentang tazkiyatun nafs itu tidak akan banyak memberi manfaat jika tanpa usaha dari kita untuk membuahkannya dalam amal nyata.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam [91] : 9-10)

Oleh : Sabra Shatilla