Kenyamanan Duniawi Versus Kenyamanan Ukhrawi

 

Ada sebuah percakapan di minggu pagi antara dua sahabat yang bernama Itu dan Iku di tempat mangkal tukang bubur ayam. Itu adalah seorang pedagang motor second sedangkan Iku adalah seorang tukang jahit. Sambil asyik makan bubur ayam spesial yang menggugah selera, Itu dan Iku membicarakan aktivitas kesibukan teman mereka yang bernama Mas Udin. Maklum, saat ini Mas Udin jadi jarang ketemu mereka karena selalu sibuk dengan kegiatan kantornya.

Itu          : “Ku, enak sekali ya Mas Udin sering banget  nginep di hotel berbintang. Tidur dengan kamar ber AC ditambah fasilitas lengkap lainnya. Pokokoke nyaman banget. Eh lupa, belum lagi ditambah dengan  dinner, coffee break dan breakfast, dengan aneka makanan yang tidak ditemukan di tempat makan biasa. Apalagi warteg. He…He..He..”

Iku         : “Tapi jangan salah sangka dulu Bro.  Mas Udin pernah ngobrol ke Ane, ternyata  kenyamanan di hotel tersebut membuat ruhiyah Mas Udin tergelitik..”

Itu          : “Emang gimana, Ku?”

Iku         : “Kata Mas Udin, dengan seringnya dia nginep di hotel, maka rutinitasnya berjamaah sholat shubuh menjadi sedikit demi sedikit berkurang karena ia gak bisa nemuin temen di mushola hotel untuk diajak berjamaah sholat shubuh. Apalagi kalau di sekitar hotel gak ada masjid, Mas Udin sering sholat di kamar. “

Itu          : “ Kok aneh ya? Bukannya sah-sah aja sholat di kamar hotel?”

Iku         : “Iya sih. Tapi, pernah Mas Udin curhat ke Ane katanya apakah Mas Udin mending pulang aja ke rumah supaya bisa berjamaah Shubuh di Masjid. Sebenarnya, Mas  Udin sangat ingin sekali dakwah di setiap hotel yang dia kunjungi. Mas Udin pingin mengetuk seluruh para tamu hotel termasuk temen-temennya yang ngikut di kegiatan di hotel untuk bisa sholat subuh berjamaah. Tapi, belum mampu katanya.”

Itu          : “ Hebat banget ya Mas Udin sampai kepikiran begitu. Kalau gue mah, asyik-asyik aja kali.

Tapi aku teringat dengan hadits Rosul :

 

“مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ Barangsiapa sholat isya secara berjamaah, maka ia bagaikan sholat (malam) setengah malam, dan barangsiapa sholat Subuh secara berjamaah maka ia bagaikan sholat (malam) semalam penuh.” (HR.Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).”

Iku : Ada juga hadist lain, Bro.

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّار

“Sholat terberat bagi orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Kalau mereka tahu pahala yang disiapkan pada sholat itu, maka mereka akan mendatanginya, meskipun dengan merangkak. Sungguh, aku benar-benar hendak memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak hadir sholat berjamaah, lalu aku membakar rumah-rumah mereka.” (HR.Bukhari-Muslim).”

Itu          : “Kita doakan, semoga Mas Udin bisa berdakwah di hotel-hotel yang dia kunjungi. Mudah-mudahan kita pun bisa kayak Mas Udin bisa merasakan kenyamanan hotel-hotel berbintang ya..He..He..”

Iku         : “Dasar kamu, Tu. Syukuri aja lagi nikmat yang ada”. Wis yu, cabut…”

Akhirnya, mereka pun mengakhiri talking-talking setelah melahap tuntas bubur ayam spesial dan membayar 14.000 ke Mang Ohle, tukang bubur ayam langganan mereka.

 

Muhammad Arif

Kantor Pusat perbendaharaan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.