Fidyah atau Qodho Puasa Ramadhan?

Pertanyaan :

assalamualaikum wr wb

ustadzah Siti Hafidhah yang saya hormati
apakah seorang wanita hamil/menyusui yang telah membayar fidyah tetap wajib mengqodho puasa ramadhannya? saya sempat dikasih tahu teman katanya tetap harus mengqodho terutama sejumlah hari dimana si wanita itu haid, tapi teman tersebut tidak menyertakan dalilnya

kemudian apakah pembayaran fidyah itu tidak boleh dilakukan di awal? misalnya seorang wanita hamil/menyusui merasa bahwa dia tidak mampu berpuasa selama 1 bulan penuh, kemudian pada tanggal 1 ramadhan dia membayar fidyah untuk 30 hari, apakah ini dibolehkan? sebab saya pernah baca di buku panduan Ramadhan bahwa fidyah itu tidak boleh dibayar di awal,tinggalkan

Jawaban :

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh
Ukhti fillah yang dirahmati Allah;
Mengenai ibu hamil dan menyusui dalam masalah fidyah dan mengqodho puasa ramadhan, para ulama berbeda pendapat dalam hal ini:
  • jika wanita tidak berpuasa karena mengkhawatirkan dirinya, maka baginya qodho tanpa membayar fidyah di hari lain ketika telah sanggup berpuasa. keadaan seperti ini disamakan dengan orang sakit, sebagaimana firman Allah SWT:
“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al Baqarah[2]:184)
  • jika wanita tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri dan bayinya, maka kondisi ini sama dengan yang pertama, wajib mengqodho puasa tanpa fidyah di hari lain ketika sudah sanggup untuk berpuasa.
  • jika wanita tidak berpuasa karena mengkhawatirkan janinnya saja, maka baginya bayar fidyah, dengan dalil:
ucapan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” ( HR. Abu Dawud).
  • Fidyah bisa dibayar kapan saja. Bahkan fidyah itu bisa dibayarkan di awal bulan Ramadhan. Karena Allah tidak memberikan batasan untuk pembayaran fidyah, itu sesuai firmanNya :
“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
(Al-Baqarah :184).
  • Adapun bagi yang haidh atau nifas tidak ada kewajiban untuk membayar fidyah.
wallahu a’lam
Semoga Allah selalu membimbing kita untuk menjalani ajaran-Nya 

“Teruslah berkarya, hingga kaki menginjak surga.”

Siti Hafidhah Ayub


11 Comments

  1. Assalamualaikum, kalau seseorang tu tinggal puasa 7 hari setiap tahun selama 8 tahun dan tak menggantikan nya… berapakah fidyah yang harus dibayar nya?

  2. wa alaikum salam wr wb
    ukhti saleha yang dirahmati Allah…
    mengenai pertanyaan ukhti, Imam Syafi`I berpendapat apabila ada orang yang belum membayar qodho ramadhan dan telah datang ramadhan berikutnya, maka orang tersebut di samping tetap membayar qodhonya, juga diberikan sangsi/denda dengan membayar fidyah.
    Misal seorang wanita, dia punya hutang qodho 7 hari, lalu tidak ada alasan syar`i ia tidak bisa melaksanakan qodhonya, maka menurut imam Syafi`i selain qodho, ia juga harus membayar fidyah untuk 7 orang miskin.Kalau lupa jumlah hutangnya, perkirakan saja.
    kembali ke pertanyaan ukhti…
    jika seseorang tinggal puasa 7 hari setiap tahun selama 8 tahun, setelah di hitung berapa jumlah yang mesti di bayar, maka bayarlah hutang puasa tersebut dengan puasa di hari lain semampunya, juga membayar fidyah sebanyak puasa yang ditinggalkan.
    Jika tidak mampu membayar dengan berpuasa, sebagaimana termaktub dalam Qs al-Baqarah ayat 184, maka cukup dengan membayar fidyah saja, sambil memohon ampunan kepada-Nya.
    wallahu a’lam

  3. Assalaamu’alaikum warohmatullahiwabarokaatuh

    Bu ustadzah yg di rahmati Allah
    istri sy sedang hamil 9 bln, di perkirakan dokte istri sy akan melahirkan pd bln Ramadhan.
    mengenai qodho/fidyah sy masih bimbang,
    mazhab imama syafi’ì menerangkan bhwa apabila wanita tdk berpuasa di karnakan menghawatirkan dirinya dan bayinya maka ia hrs mengqodo dan membayar fidyah,
    dari mazhab imam abu hanifah apa bila wanita dlm keadaa sprti trsbt di atas maka ia di hrskan megqodho dan tdk perlu membyar fidyah,
    sedangkai Al-baihaqi dalam sunan di jalan mazhab syafi’i menerangkan bhwa seorang wanita yg tdk berpuasa dikarnakan menghawatirkan diri dan bayinya, maka ia di hrskan membayar fidyah dan tdk harus mengqodho, dalilnya dari surah Al-baqarah ayat 184, klw sy tdk slh, kalau salah mohon di maafkan.
    menurut ustadzah gimana?
    wassalaamu’alaikumwarahmatullahi wabarokaatuh.

    1. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

      Akh Roma Hermawan yang di rahmati اللّهُ …

      Di antara kemudahan dalam syari’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih, misalnya takut kurangnya susu, dan lain sebagainya karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.

      Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi saw:

      إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

      “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.

      Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa, apakah ada qadha’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Inilah yang diperselisihkan oleh para ulama. Dalam hal ini beberapa pendapat yaitu :

      1. Menurut pendapat madzhab Hanafi, Abu Tsaur dan Abu Ubaid adalah wanita hamil dan menyusui harus mengganti puasa dan tidak perlu membayar fidyah.
      Dalil pendapat ini mengqiyaskan wanita hamil dan atau menyusui dengan orang sakit. Orang sakit boleh tidak puasa dan harus mengqadha’ (mengganti) di hari lain sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an surah Al-Baqarah ayat 184 dan 185. (Al-Hidayah syarh Al-Bidayah 1/128, Bidayatul Mujtahid 1/506).

      2. Menurut pendapat Ibnu Abbas ra, Ibnu Umar ra, Sa’id bin Jubair, dan Qatadah ialah keduanya harus membayar fidyah dan tak perlu mengganti puasa.

      Dalil pendapat ini adalah fatwa dua orang sahabat Nabi SAW, iaitu:

      Ibnu Abbas berkata, ”Bila seorang wanita hamil khawatir akan dirinya dan wanita menyusui khawatir akan bayinya di bulan Ramadhan, maka mereka boleh tidak puasa dan harus memberi makan orang miskin untuk tiap hari yang dia tinggalkan serta tidak perlu mengqadha.” (Tafsir Ath-Thabari 3/427, no: 2758. Menurut Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil 4/19 bahwa sanad hadits tersebut shahih berdasarkan syarat Muslim”.).

      Riwayat lain dari Ibnu Abbas adalah ketika dia melihat Ummu Walad (budak yang sudah melahirkan anak darinya) yang sedang hamil, maka dia berkata, ”Kamu ini sama dengan orang yang sukar melaksanakan puasa, maka kamu boleh berbuka dan harus memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang kamu tinggalkan serta tidak ada kewajiban mengqadha atas dirimu.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 2759).

      Adapun riwayat Ibnu Umar, ” wanita hamil yang khawatir akan dirinya di bulan Ramadhan boleh berbuka tapi harus membayar fidyah dan tidak perlu mengqadha.” (Mushannaf Abd al-razzaq 4/218).

      3. Menurut pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbali adalah bila wanita tersebut hanya khawatir akan dirinya saja maka dia harus mengqadha, tapi bila mengkhawatirkan pula keselamatan bayinya kalau berpuasa maka dia harus mengqadha dan juga membayar fidyah.

      Madzhab Syafi’i dan Hanbali sebenarnya sama dengan madzhab Hanafi yang mengqiyaskan wanita hamil atau menyusui dengan orang sakit sehingga mereka wajib mengqadha dan tidak berlaku pembayaran fidyah. Tapi mereka menambahkan bila keduanya khawatir akan keselamatan orang lain, dalam hal ini adalah janin atau bayi yang disusui yang kalau mereka puasa akan mengganggu kenyamanan si bayi, maka ada kewajiban lain yaitu harus membayar fidyah lantaran batal puasa gara-gara menyelamatkan orang lain.

      Dalam literatur madzhab ini diantaranya kitab Al-Mughni maka didapati bahwa sebenarnya mereka menggabung qiyas antara wanita hamil dan menyusui dengan orang sakit sehingga wajib qadha dan meng-qiyas-kan pula keduanya dengan orang tua yang tak sanggup puasa sehingga wajib membayar fidyah. Dalam ushul fikih qiyas semacam ini biasanya dinamakan qiyas syabh.

      4. Menurut pendapat madzhab Maliki adalah wanita hamil hanya boleh mengqadha dan tidak membayar fidyah, sedangkan wanita menyusui yang khawatir akan anaknya harus mengqadha dan juga membayar fidyah.

      Pendapat ini membedakan antara wanita hamil dan menyusui beralasan bahwa wanita hamil di-qiyas-kan murni (qiyas taam) kepada orang sakit, sedangkan menyusui alasannya sama dengan alasan madzhab Syafi’i dan Hanbali.

      Akh Roma yang dirahmati اللّهُ …
      Setelah panjang lebar membahas dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing pihak, maka dapat disimpulkan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui ketika tidak berpuasa cukup mengqadha’ tanpa membayar fidyah karena kuatnya dalil yang disampaikan oleh ulama yang berpegang dengan pendapat ini.

      Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qadha’. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqadha’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untuk mengqadha’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.

      Wallahu A’lam

      ​وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  4. Assalamualaikum Wr.Wb
    Ustadzah Siti Hafidhah yang saya hormati.
    1. Ibu Mertua saya sudah tidak kuat lagi untuk menjalankan ibadah puasa. untuk pembayaran fidyahnya bolehkan di akumulasikan dan di bayarkan pada waktu malam idul fitri artinya selama 30 hari tersebut langsung di bayarkan?
    2. Bolehkah dalam bentuk uang? kalo misalkan dalam bentuk beras berapa kg yang harus di keluarkan dalam satu harinya?
    3. Untuk pembayaran fidyah tersebut bolehkah di wakilkan contohnya kita serahkan ke panitia masjid biar mereka yang mengelolanya.

    Walaikumsalam Wr.Wb
    Trima Kasih Banyak…
    Saya Mohon Penjelasan dan Pencerahanya…..

    1. ​وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

      ukhti Ade yang sholehah…
      Utk pertanyaan ukhti
      1. Untuk fdyah, bisa dibayar perhari atau diakumulasikan.
      2. Membayar fidyah boleh dengan makanan atau uang sebesar 1x atau 2x makan, jika fidyah dibayar di bulan Ramadhan per harinya. Jika dibayar ba’da Ramadhan senilai 2x atau 3x makan per hari. Jika dengan beras,maka uang tersebut ditaksir berapa liter yang mesti ia serahkan.
      3. Untuk distribusi pembayaran fidyah, dilihat mana yang lebih tepat sasaran atau bisa langsung atau via panitia.

      Semoga اللّهُ memberikan pemahaman akan agama kepada kita, آمــــــــــــــــــين يا رب العَـــالَمِيْن

      Wallahu A’lam
      ​وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  5. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ustadzah Siti Hafizah yang saya hormati,
    Saya pernah mendengar seorang kerabat yang membahas tentang Qodho puasa Ramadhan, katanya kalau puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena alasan melahirkan sebanyak 4 kali proses melahirkan dan telah terlewat selama sekitar 35 tahun, lalu disebutkan oleh kerabat tsb bahwa si Ibu yang melahirkan tsb harus membayar Fidyah serta meng-qodho puasa selama sekitar 9 tahun (itu pun jika di-qodho setiap hari tanpa terputus). Benarkah ada dalil dari madzhab imam Syafi’i, imam Hanafi, imam Maliki atau imam Hambali yang menyebutkan kalau meng-qodho puasa seperti kondisi di atas menjadi berlipat-lipat???
    Jazakumullah atas jawabannya.
    Tsummasalamu’alaikum wr.wb.

  6. Assalamu’alaikum,,

    Ustadzah, Ramadhan kemarin saya sedang menyusui, tapi tidak berpuasa 10 hari karena haid dan selebihnya saya tetap berpuasa. saya tidak langsung membayar qodho karena berfikir setelah menyusui saja. Tapi tak lama kemudian saya hamil lagi, dan qodho puasa pun masih tertunda karena berfikir hamil muda butuh nutrisi yang cukup untuk janin.

    Hingga usia kehamilan 8 bulan, saya masih belum mengqodho. Tapi saya kaget karena sebulan lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Akhirnya saya mencicil qodho puasa. Akan tetapi karena bekerja juga, ketika puasa saya merasa keletihan yang berlebih. sehingga di kantor, saya cuma bisa duduk sambil menunggu waktu pulang dan tidak terlalu banyak mengerjakan pekerjaan kantor. Alhamdulillah sekarang qodho puasa saya tinggal 4 hari lagi.

    Ustadzah, apa boleh saya menggantinya dengan fidyah saja karena kondisi tersebut yang saya ceritakan?

    Terima kasih atas jawabannya.

  7. assalamualaikum.

    ustadzah,istri saya hamil skitar 2 bulan.tp dia mau puasa takut da pa2 dgn janinnya.apakah harus membayar fidyah saja atau bagaimana y.kalaupun bayar fidyah bagaimana cara membayarnya?

  8. assalamu’alaikum,saya sedang merantau di hongkong dan saya tidak bisa puasa selama 2x ramadhan karena makanan menggandung babi,apakah saya harus mengqodo’ dan membayar fidyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.