Meluruskan Makna Jihad

Oleh : Nur Laela*

Pendahuluan

Artikel ini merupakan resume kajian rutin bakda dzuhur di Masjid Al Amanah Kementerian Keuangan pada tanggal 4 Mei 2011 oleh DR. Ahzami Samiun Jazuli. Lc, Ma dengan tema “meluruskan makna jihad”. Semoga resume kajian ini bisa membantu kita memahamai makna jihad yang sebenarnya sehingga tidak terjatuh pada ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Untuk memahami lebih lanjut isi kajian bisa mendengarkan langsung rekamannya melalui streaming yang kami sediakan ataupun dengan mendownloadnya disini

Isi Kajian

Saat ini kaum muslimin di dunia sedang diguncangkan dengan berita-berita yang tidak benar seputar jihad dan perang. Maka dari itu, kita harus punya pemahaman yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan pegangan hidup kita. Hal tersebut diperlukan supaya kita tidak mudah tergiring oleh musuh-musuh Islam yang menginginkan umat Islam mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan selera mereka sehingga umat Islam tidak mencintai agamanya sendiri.

Jihad secara bahasa berasal dari kata “jahadah” yang artinya bersungguh-sungguh; capek; atau berat. Sedangkan secara istilah atau terminologi ajaran Islam, jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah dengan tujuan meninggikan kalimat Allah, yaitu Islam.

Ketika Nabi SAW ditanya oleh seorang sahabat tentang yang manakah yang merupakan jihad di jalan Allah, antara orang yang pergi berperang karena fanatik akan golongannya atau orang yang pergi berperang karena ingin dikatakan pemberani, maka nabi menjawab, “Barang siapa berperang tujuannya adalah semata-mata agar kalimat Allah -ajaran islam- menjadi yang paling tinggi atau menang, maka itulah yang berada di jalan Allah.”

Jihad bukanlah teroris. Jihad artinya meninggikan kalimat Allah dan menyatukan umat Islam sedangkan teroris merusak citra ajaran Allah serta menceraiberaikan umat Islam. Jihad membangun sementara teroris menghancurkan. Dalam jihad, ketika perang, kaum muslimin dilarang membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua yang tidak ikut berperang. Kaum muslimin juga tidak boleh membunuh orang yang sedang beribadah di tempat ibadah seperti gereja atau yang lainnya. Bahkan, pepohonan pun tidak boleh ditebang. Sedangkan orang yang alasannya berjihad atau berperang, lalu menceraiberaikan anak dengan kedua orangtuanya bahkan sampai meninggalkan kedua orang tuanya, maka itu tidak dibenarkan. Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib setelah beribadah kepada Allah.

Allah SWT berfirman: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya .…” (QS. Al-Isro’: 23)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa perintah pertama adalah beribadah kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur karena kita tidak akan ada kalau tidak diciptakan oleh Allah. Perintah kedua yaitu kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua. Kenapa? Karena kita tidak akan ada kalau tidak ada kedua orang tua. Maka kita tidak boleh menyia-nyiakan kedua orang tua kita hanya karena berbeda jama’ah dengan kita, beda harta, apalagi menuduh mereka kafir. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan di dalam hadits disebutkan, “Kamu dan harta benda kamu adalah milik bapakmu.”

Walaupun berbuat adil kepada anak hukumnya adalah wajib, yang dipertegas di dalam Al-Qur’an tetaplah “wabil waalidaini ihsaana” bukan “wabil aulaadi ihsaana”. Tidak sedikit orang yang lupa dengan keadaan orang tua mereka sehingga kedua orang tuanya diberikan yang sisa-sisa: waktu sisa, bertemu sisa, tenaga sisa, bahkan harta sisa. Sementara berbuat baik kepada anak dan istri merupakan fitrah manusia. Sebagian besar orang yang ditanya untuk siapa hasil kerjanya dari pagi sampai malam, maka sebagian besar akan menjawab untuk anak dan istri. Sedikit sekali yang akan menjawab untuk kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya sudah tua maka sekarang kewajibannyalah untuk menafkahi kedua orang tua supaya mereka ridho kemudian baru untuk menafkahi anak dan istri.

Sebagian orang meninggalkan kedua orang tuanya untuk jihad, perang, dan negara islam. Hal tersebut sudah tidak benar. Di zaman Rasulullah SAW, seorang pemuda menemui Rasulullah SAW untuk berjihad, tapi Rasulullah SAW memintanya kembali kepada orangtuanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Inilah jihad secara utuh.

Di antara sunnatullah yang berkaitan dengan jihad antara kaum  muslimin dan orang kafir – haq dan batil- yaitu terjadi setiap saat terus menerus sampai hari kiamat. Jihad dan kedzoliman di negara tertentu tidak akan berhenti hanya karena matinya seseorang. Ketika presiden yang dzolim turun kemudian diganti presiden baru, penjajahan/perang akan tetap ada. Orang kafir berkulit putih atau hitam semuanya sama di mata Allah, tidak ada bedanya. Semuanya tegas di dalam Al-Qur’an yang pastinya lebih benar dari pada para wartawan, pemilik stasiun TV, pemilik dollar, dsb.

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa 76)

Jihad itu di jalan Allah bukan di jalan kepentingan atau agar dikatakan sebagai pemberani. Maka, jihad di jalan Allah bukan merusak. Mereka itulah yg ketika meninggal dikatakan syahid karena jihadnya adalah benar-benar karena Allah bukan karena kepentingan perbatasan, uang, minyak, dll. Mereka itulah yang dosa-dosanya diampuni Allah kecuali hutangnya. Maka orang yg tewas di jalan Allah tidak boleh dikatakan mati, mereka tetap hidup. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah 154 : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Dalam hadits Shahih Muslim disebutkan bahwa ruh orang yang mati syahid terbang menikmati keindahan taman-taman surga. Maka hal itu seharusnya memberi semangat/motivasi bagi kita yang masih hidup untuk melakukan jihad fi sabilillah.

Orang yang beriman/berperang di jalan Allah, tidak diperkenankan merusak agama Allah. Oleh karenanya, tidak diperkenankan berjihad tapi mengebom rumah Allah. Yang harus diperangi adalah orang-orang yang memerangi kaum muslimin seperti di Iraq, Afghanistan, Palestina, Pakistan, dll. Di sana saudara-saudara kita boleh meledakkan bom untuk membunuh musuh-musuh Islam sebagaimana musuh-musuh Islam meledakkan bom untuk membunuh kaum muslimin. Orang Islam nyawanya mahal. Bahkan, dalam ajaran Islam kaum kafir juga tidak boleh dibunuh kecuali dalam keadaan perang. Inilah konsepsi jihad yg benar.

Sementara itu, orang-orang kafir berjuang di jalan thaghut. Apa itu thaghut? Thaghut berasal dari kata “thagha” yang artinya melampaui batas ajaran Allah. Dalam kitab-kitab tafsir, thaghut sering ditafsirkan dengan berbagai macam: Thaghut sering dikaitkan dengan setan karena setan itu selalu melampaui batas, bisa juga ditafsirkan sebagai jin yang kafir, atau pemimpin yg memerangi kaum muslimin (fir’aun).

Orang Islam berperang di jalan Allah sedangkan orang kafir berjalan di jalan thaghut. Hal ini terjadi bersamaan dan berulang-ulang dari zaman dahulu sampai zaman sekarang dan tidak berhenti hanya karena matinya seseorang. Ketika Hamzah ra meninggal di perang Uhud, peperangan tidak berhenti. Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah, peperangan pun tidak usai. Akan tetapi, berita-berita selalu menyebarkan bahwa peperangan telah selesai. Padahal, orang kafir pun mengakui bahwa peperangan belum usai. Ketika jihad dianggap selesai, orang-orang kafir tetap  melakukan latihan perang bersama dengan negara-negara lain untuk memerangi kaum muslimin. Banyak sekali cara orang-orang kafir untuk menghalangi kebenaran. Yang punya senjata berperang dengan senjata, yang punya TV berperang dengan TV, dan yang punya uang berperang dengan uang, dll.

Orang kafir memerangi Islam dengan menggunakan semua anggarannya. Dalilnya adalah QS. Al-Anfal 35: Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah…. Mereka membuat opini bahwa umat Islam dan  Al-Qur’an adalah teroris karena mengajarkan orang untuk berperang. Untuk membentuk semua opini tersebut, dibutuhkan dana. Sementara itu, orang muslim berperang dengan menggunakan uang recehnya. Kalau diminta berinfaq, maka yang dimasukkan ke dalam kotak infaq adalah uang recehnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah 111, Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah 111)

Kenyataan yang ada, sebagian kaum muslimin tiarap ketika menghadapi penjajahan dimana-mana. Tahun 1967 ketika Palestina berjihad menghadapi Yahudi, Yahudi berhasil menghasilkan 25 juta dollar dalam satu malam, sementara kaum muslimin hanya berhasil menghasilkan 1 juta dollar dalam waktu sebulan penuh. Musuh-musuh Islam sungguh telah berhasil membuat kaum muslimin jauh dari perjuangan. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang supaya pemerintah dan rakyat semuanya berjihad di jalan Allah. Di zaman Rasulullah SAW bukan hanya kaum tertentu yang berjuang di jalan Allah tapi semua kaum muslimin. Jangan sampai kita berjihad sendirian karena dikhawatirkan nantinya yang dihadapi bukan orang kafir, tapi justru orang Islam menghadapi orang Islam.

Kita harus berani berbicara tentang jihad walaupun di televisi banyak yang membahas tentang teroris. Kita harus menerangkan bahwa jihad yang benar adalah jihad fi sabilillah. Jika kita tidak menyampaikan yang benar, dikhawatirkan akan terjadi dual ekstrim. Pertama, terjadinya jihad dengan cara-cara sendiri yang tidak mengikuti sunnah Rasulullah sehingga mengakibatkan terbunuhnya orang Islam. Kedua, semua jihad tidak memasukkan perang, jihad hanya diartikan bersungguh-sungguh dan tidak mengakui perang sebagai salah satu cara. Jangan sampai kita digiring oleh opini publik yang dibentuk oleh Yahudi atau sekutu-sekutunya sehingga terlena oleh politik saja, ceramah saja, dll tanpa mempedulikan bahwa peperangan adalah mungkin jika diperlukan.

Wallahu a’lam bishshowab.

artikel ini merupakan resume kajian Ustadz DR. Ahzami Samiun Jazuli, Lc, MA, pada tanggal 4 Mei 2011 di masjid Al Amanah

*penulis adalah pegawai magang di Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan