Berharap Pada Allah

Apa sih susahnya berharap pada Allah?

Jika dihadapkan dengan pertanyaan tersebut mungkin ringan bagi kita untuk menjawab, “mudah saja bagi kita untuk berharap pada Allah.”

Namun pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, “Apa bukti  bahwa kita berrharap pada Allah?”

Bukankah selama ini harapan kita lebih banyak kita tujukan kepada selain Allah. Saat kita terkena masalah, siapa yang pertama kali ada di hati kita. Saat kita ingin memenuhi  harapan dan cita-cita, menginginkan karir dan sebagainya, siapa yang pertama kali masuk di hati kita, itulah harapan.

Faktanya, berharap pada Allah bukanlah hal yang mudah. Ibarat seorang bayi yang sejak lahir tidak pernah mengenali ibunya, tidak pernah mendapatkan sentuhan dari ibunya, tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya maka ia tidak akan berharap pada ibunya dan akan berhenti berharap pada ibunya.

Demikianlah manusia kalau tidak mengenali  Allah, dia tidak mungkin berharap pada Allah dan itu fatal. Karena manusia sangat membutuhkan Allah, begitu ia berhenti berharap pada Allah berarti ia telah menutup jalan hidupnya.

Karena manusia itu tidak mungkin menyelesaikan urusannya sendiri dan tidak bisa menyelesaikan kasusnya sendiri. Hanya dengan membuka hati berharap pada Yang Kuasa baru dia punya optimisme. Makanya kita sering kehilangan optimisme karena yang kita harapkan bukan Yang Maha Kuasa. Seringkali bahkan kita kecewa, kenapa? Karena yang kita berharap pada yang tidak bisa memberikan apa-apa sehingga pantas kita kecewa. Maka janganlah berharap pada Manusia.

Dalam Al Qur’an Surat Al Insyirah ayat 8 Allah berfirman yang artinya:

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Allah memerintahkan kita agar hanya kepada Allah saja hendaknya kita berharap. Oleh karena itu Imam Baihaqi menyebutkan bahwa berharap pada Allah sebagai cabang iman ke 12. Jadi kalau kita tidak berharap pada Allah atau sedikit harapan kita pada Allah berarti tidak sempurna imannya.

Ibnul Qoyyim memasukkan berharap pada Allah sebagai sifat yang wajib dimiliki seorang mukmin. Berharap pada Allah itu wajib dan itu merupakan solusi. Inilah indahnya Islam.

Kalau kita tidak berharap pada Allah berarti ada dua masalah, Pertama kita berdosa karena berharap pada Allah merupakan perintah  Allah dalam surat Al Insyirah ayat delapan. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(QS Al Insyirah 8. Wal ‘amru yadhullu ‘alal wujub (Secara umum perintah itu hukumnya wajib). Jadi kalau tidak berharap hukumnya dosa. Kedua, kita akan terpentok dalam hidup, sering putus asa, dam kehilangan solusi karena tidak ada yang dianggap bisa menyelesaikan kasus atau memberikan solusi.

Dalam hal  ini kita bisa belajar dari kisah Nabi Nuh AS. Disaat air sudah meninggi dan anaknya bersikeras tidak mau ikut bersamanya, Nabi Nuh tetap berseru, “Ya Bunayyarkam Ma’ana, wahai anakku naiklah bersamaku.” Anaknya menolak dan mengatakan bahwa dia akan naik ke gunung yang lebih tinggi. Nabi Nuh terus mengajak, “Ya Bunayyarkam ma’ana. Nabi Nuh tidak menyerah karena berharap besar Allah memberikan hidayah pada anaknya karena ketika Allah berkehendak maka tidak akan ada yang bisa menghalangi.

Kita juga bisa meneladani bagaimana perjuangan Rasulullah ketika membimbing pamannya, Abu Thalib, yang sedang mengalami sakaratul maut. Besar harapan rasulullah agar pamannya mau masuk Islam hingga akhirnya harapan itu benar benar berhenti ketika maut menjemput.

Itulah gambaran tentang harapan pada Allah yakni situasi hati yang selalu melihat kuasa Allah, rahmat Allah yang Luas. Ketika Dia memberi, tak ada yang bisa menghalangi, Ketika Allah memberi hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkan.

Hati seorang mukmin selalu demikian. Dia terus memandang Kuasa Allah dalam setiap hal baik dalam menggapai cita-cita atau dalam menyelesaikan masalahnya.

Ketika hati ini besar harapannya dan hanya berharap pada Allah, dia akan merasakan luapan semangat, optimisme perasaan berlimpah solusi, berlimpah karunia, berlimpah dukungan, tidak merasa takut dan sedih. Orang mukmin harus demikian, dia harus melihat segala sesuatu dari sudut pandang kekuasaan Allah bukan dari sudut pandang manusia.

Sebagaimana rasulullah yang terus berjuang berdakwah selama bertahun tahun di Makkah. Meski di intimidasi, disakiti, dicaci dan dihina, Rasulullah tidak pernah menyerah. Saat bumi mekkah seakan akan telah tertutup Rasulullah pergi ke Thaif, Thaif tidak menerima Rasul balik ke makkah lagi berdakwah di tenda tenda haji hingga akhirnya Allah memberikan tempat di madinah. Rasulullah tidak pernah berhenti karena ia tahu bahwa jika Allah berkehendak memberikan kemenangan dan hidayah pada umatnya maka dalam sekejap pun bisa. Namun Rasulullah terus berikhtiar dan berjuang. Salah satu alasan kenapa Rasulullah tidak berhenti karena besarnya harapan pada Allah.

Ketika banyak orang kecewa pada kinerja pemerintah, prihatin dengan maraknya korupsi maka janganlah berharap pada manusia karena berharap kepada manusia hanya akan mengecewakan. Berharaplah pada Allah agar Allah menggerakkan hati manusia manusianya dan membuat pemerintahan ini menjadi lebih baik dan bersih dari korupsi.

 

Kenapa harapan ini tidak Muncul?

1. Orang tidak mungkin berharap pada yang tidak ia kenal.

Hati ini tidak mungkin berharap sebesar besarnya pada Allah kalau tidak kenal dengan Allah. Bisa saja mulut dan otak kita kenal Allah tapi ketika hati tidak kenal dengan Allah maka tidak mungkin bisa. Itulah yang disebut ma’rifatullah.

Kalau hati ini tidak mengenal baik bahwa Allah Maha Kuasa, sebaliknya kita tertutup oleh hijab dunia maka yang kuasa itu jadi bos kita, atasan kita, mertua kita, teman kita, gaji kita, biro keuangan, biro kepegawaian, pak hakim, pak Jaksa dan bersiap siaplah untuk kecewa. Maka berharaplah pada Yang Maha Kuasa, hati kita akan menjadi lapang dan kita tidak akan pernah merasa kehilangan solusi.

2. Jarang Dzikrullah (mengingat Allah) sehingga sering ingat pada selain Allah
3. Kurang tajamnya memandang kehebatan atau kekuasaan Allah atas makhluk Nya.

Solusinya

Solusinya adalah kenalilah Allah dengan lisan, pikiran dan hati kita. Bukan sekedar kenal biasa tapi mendominasi pikirannya yakni banyak menyebut dan mengingat-Nya. Orang bisa saja kenal tapi kalau tidak sering mengingat dan menyebutnya maka bisa jadi lupa dan hati akan terisi dengan yang lain.

Buah Berharap pada Allah

  1. Tidak pernah merasa kehilangan solusi, kehilangan akal, kehilangan jalan sehingga menumbuhkan optimisme
  2. Merasa nyaman dan bahagia karena kita merasa mendapat dukungan dari Allah. Esensi hidup itu sudah kita raih dari awal sehingga kita jarang kecewa.
  3. Merasakan kemudahan dan kemudahan.

Empat tingkatan berharap pada Allah

  1. Harapan untuk tegaknya agama Allah di muka Bumi. Ini merupakan harapan para Anbiya dan ulama.
  2. Harapan tegaknya Agama Allah di dalam diri sendiri
  3. Harapan memperoleh kebaikan dalam urusan dunia.
  4. Berharapnya orang yang banyak dosa untuk masuk surga dengan rahmat Allah. Berharap pada ampunan Allah.

Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang besar harapannya pada Allah dan hanya pada Allah.(aai)

Resume Kajian Tazqiyatun Nafs bersama Ustadz Muhsinin Fauzi, Lc, Ma di Masjid Al Amanah Kementerian Keuangan, Selasa, 26 April 2011

Reporter : Muhammad Irfan