Takabur

Secara etimologi, kata takabbur berarti “taadhdhum”yang berarti membesarkan diri.Allah SWT. Allah  berfirman dalam kitab-Nya.

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku. “ (al-A’raaf (7)  : 146)

Adapan dalam pendekatan terminologi, Rasullullah saw. telah mendefinisikannya dengan sifat sombong, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, dan akar dari sifat ini adalah ujub.

Sifat ini merupakan sifat yang sangat tercela. Hal tersebut bisa kita bayangkan, bagaimana bila setiap orang melecehkan orang lain, yang terjadi adalah hilangnya wibawa seseorang. Tidak lagi ada penghormatan dan hilangnya sopan santun. Dapat kita bayangkan,  dengan sifat takabur ini, setiap orang di dunia akan menolak kebenaran. Orang-orang tidak saling memahami dalam menghadapi sesuatu, kecuali dengan melaksanakan kebatilan serta munculnya kedzaliman, permusuhan, dan pelanggaran terhadap hak dan kehormatan.

 

Sebab-sebab Takabur

1.      Ilmu Pengetahuan

Mungkin, kita akan bertanya, mengapa jika orang bertambah ilmu pengetahuannya, maka yang justru yang terjadi adalah munculnya kesombongan. Sebagai jawabannya, minimal ada dua hal yang mempengaruhianya.

Pertama, Ia menekuni apa yang disebut dengan ilmu. Namun, bukan ilmu hakiki,  yaitu ilmu yang mengenalkannya kepada Tuhan dan dirinya. Allah swt berfirman mengenai hal ini.

“…Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah Ulama….” (Faathir (35) : 28)

Kedua, Ia menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang buruk, dan akhlak yang tidak baik.

 

2.      Amal dan Ibadah

Oang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah juga tidak terlepas dari nistanya kesombongan, kepongahan, dan tindakan lain yang memikat hati manusia. Kesombongan itu menyelinap ke dalam  hati mereka, baik menyangkut urusan dunia atau pun agama. Rasullullah saw. bersabda dalam hal ini.

“Cukuplah orang dinilai melakukan kejahatan, bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR. Abu Daud) [1]

 

3.      Nasab Keturunan

Rasullullah saw bersabda, “Hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka jahannam. Jika tidak, maka mereka akan menjadi lebih hina di sisi Allah daripada kambing yang hidungnya mengeluarkan kotoran.” (HR. Abu Dawud dan Tirmudzi) [2]

 

4.      Kecantikan dan Ketampanan.

 

5.      Harta Kekayaan.

Dalam Al-Qur’an kita temukan betapa harta telah menghantarkan Qorun menjadi seseorang yang sombong.

“Maka, keluarlah Qorun kepada kaumnya dengan kemegahan .Maka berkatalah orang-orang yang menghendaki kemegahan dunia, ”Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (al-Qashshas (28) : 79)


6.      Kekuatan dan Keperkasaan.

Hal ini biasanya dimanfaatkan untuk menindas orang yang lemah.

 

7.      Pengikut, Pendukung, Murid, pembantu, keluarga, Kerabat,dan Anak.

 

Terapi Sifat Sombong

Untuk menghilangkan sifat sombong ini, ada beberapa yang dapat kita lakukan.

 

A.    Mengikis habis akar-akar kesombongan, dan mencabut pohonnya dari tempatnya dihati.

Dalam upaya mengikis habis akarnya ini, maka ada dua pendekatan langkah strategis yang harus kita lakukan

 

Pertama, I’laj Ilmi (Terapi Ilmu).

Yang dimaksud dari terapi ini adalah dengan mengenal dirinya dan Allah sebagai Dzat Pencipta. Hal itu sudah cukup untuk menghilanghan kesombongan. Sebab, apabila ia telah mengenal dirinya secara benar, maka ia mengetahui bahwa dirinya lebih hina dari yang hina, dan tidak ada sifat yang layak, kecuali tawaddu’, dan apabila ia mengenal Allah SWT,  maka ia akan mengetahui bahwa kesombongan itu tidak layak, kecuali bagi AllahSWT.

 

Kedua, I’laj Amali (Terapi Amal).

Yang dimaksud dari terapi ini adalah dengan bersikap tawaddu’ kepada Allah  kepada sesama makhluk dengan senatiasa menjaga akhlaq, sebagaimana orang-orang yang tawaddu’, seperti halnya Rasulullah saw. dan orang-orang yang soleh. Bahkan, Rasulullah pernah  makan di atas tanah seraya berkata, ”Aku seorang hamba, dan  aku makan seperti seorang hamba makan.”

 

B.     Menolak faktor-faktor khusus yang ada pada dirinya yang biasa dipakai manusia untuk menyombongkan dirinya.

 

C.     Senantiasa waspada terhadap dampak dari sifat sombong.

 

D.    Menjauhkan diri berinteraksi dengan orang sombong.

 

E.     Rajin menghadiri majelis-majelis ilmu

 

F.      Komitmen terhadap ketaatan.

 

PENUTUP

Demikianlah bahaya-bahaya dari penyakit ujub, ghurur, dan sombong. Sifat-sifat ini tidak hanya membahayakan pemilik dan pelaku sifat-sifat itu saja, melainkan juga membahayakan eksistensi umat dan keberlangsungn serta kesinambungan dari amal-amal Islam. Oleh karena itu, setiap kita yang berstatus sebagai seorang muslim harus mengenyahkan dan memberangus sifat-sifat yang tercela itu dalam diri kita. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari sifat-sifat tersebut. Amiin.


[1] . Abu Daud. Sunan. Juz 4, hlm. 270, No Hadis 4882; Imam Muslim. Shahih. Juz 4, hlm.1981, No Hadis 2564

[2] . Abu Daud. Sunan. Kitab al-Adab. Juz 4, hlm.331, No Hadis 5116