Perjuangan Umat Islam di Afganistan (1)

 

Profil Afganistan

Negara yang berada di kawasan Asia Tengah ini beribukota di Kabul. Terdapat 2 bahasa resmi negara yaitu Persia Afgani (biasa di sebut Dari) dan bahasa Pasthun.  Populasi penduduk sejumlah  28.717.213 orang. Sebagian besar penduduk beragama Islam, Islam Suni sebanyak 74%, Syiah sebanyak 25% dan lain-lain 1%. Bentuk pemerintahan Republik dan saat ini dipimpin oleh Presiden Hamid Karzai. Mata uang negara bernama Afgani

 

Sifat-sifat Bangsa Afganistan

Hampir seluruh penduduk Afghanistan menganut agama Islam, sebagian besar beraliran sunni (Hanafi). Islam sangat dominan dan berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka. Apabila ini diusik, maka rakyat akan gusar dan marah sehingga siap berjuang mengorbankan segala yang mereka punyai melawan penentangnya, seperti kita lihat bagaimana penjajah Inggris yang binasa seluruh pasukannya kecuali beberapa orang ketika menginvasi negara tersebut  pada paruh akhir abad 19.

Sifat-sifat utama bangsa Afghanistan adalah berani, mempunyai harga diri yang tinggi, menghormati saudaranya yang seagama, mudah bergaul, menghormati ulama, cerdas, sederhana. Tidak berlebihan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang terjauh dari kerusakan moral sebagaimana dihinggapi oleh bangsa-bangsa muslim lainnya seperti terjauhnya Ikhtilat, minimnya sarana-sarana kemaksiyatan (sebelum Invasi Amerika).

Mereka siap membela Islam yang telah dibuktikan dengan jihad panjang melawan Uni Soviet dan bonekanya. Sebuah pengorbanan yang jarang ada tandingannya bagi bangsa manapun ketika menghadapi penjajah, seperti: mengungsikan seluruh keluarganya yang tidak mampu berjihad ke Peshawar salah satu wilayah Pakistan, sementara kaum lelakinya naik turun gunung bergerilya terus melawan orang-orang kafir. Mereka ridho dengan berbekalkan beberapa potong roti kering teh dan makan seadanya dalam jangka masa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Kelemahan Bangsa Afganistan

Adapun kelemahannya adalah minimnya pengetahuan agamanya, lemahnya tarbiyah, kebanggaan dengan suku-sukunya, susahnya disatukan dalam satu visi dan misi dalam menegakkah kalimatullahi fil ard dan inilah yang menjadi pemicu peperangan antara Burhanuddin Rabbani presiden yang disepakati dengan Qolbuddin Hikmatyar sebagai perdana menterinya, hal itu pula yang menyebabkan bangkitnya Taliban dari madrasah-madrasah di Pakistan yang akhirnya mendongkel pemerintah resmi pengusir Uni Soviet tersebut.

Sejarah Perjalanan Afganistan

Arti penting Afghanistan dalam sejarah Islam dapat terlihat dari dua hal: (I) Perjuangannya yang panjang untuk membentuk pemerintahan islami, dan (2) Banyaknya ulama bertaraf internasional yang lahir dari Afghanistan. antara lain : Abu Bakar Ahmad al-Baihaqi, Al-Harawi (sejarawan abad ke 14; penulis buku sejarah Tarikhnama-i-Herat, dan Ibn Hibban al-Busti (ulama hadis dan fikih; w. 342 H/852 M).

 

Masuknya Islam di Afganistan

Pada abad 7 M tentara Arab muslim telah menjejakkan kakinya di bumi Afghanistan tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan r.a pada tahun 652 M, penaklukan sepenuhnya terjadi pada tahun 706-709 M dan hampir seluruh penduduknya menerima Islam sebagai agama baru.

Sultan Muhammad Ghori

Sejak 870 M pengaruh Islam mengakar di seluruh negeri, terutama di bawah penak-lukan Mahmud al-Ghaznawi, kekuasaan imperium Ghaznawi ini berlangsung antara tahun (962-1151). Dia telah menjadikan Afghanistan sebagai pusat kekuatan Islam di Asia Tengah dan pusat peradaban yang berlangsung sehingga awal abad 11 M.

Saat imperium Ghaznawi jatuh, imperium ini kemudian digantikan oleh Muhammad Ghori, pendiri imperium lain yang berasal dari Tajik, Imperium ini berlangsung antara tahun 1151-1219

Masuknya Bangsa Mongol

Bangsa Mongol di bawah Jengiz Khan menyerbu Afghanistan pada 1219 awal abad 13 M yang disatukan wilayahnya oleh Timur Leng sehingga akhir abad 14. Pada awal abad 16 salah seorang keturunan Timur Leng Babur raja pertama pendiri imperium Mongol Islam dan menjadikan Kabul sebagai ibukotanya tahun1504.

Penyatuan Kembali Afganistan

Ketika Kerajaan Mongol mulai terpecah-pecah, muncul banyak kota yang berdaulat di Afghanistan. Sampai awal abad ke-17 terjadi peperangan antar suku, dan suku yang bertikai baru dapat bersatu pertama kalinya pada 1747 di bawah pimpinan Ahmad Syah Durrani. Perang saudara terjadi lagi pada 1819, dan terakhir pada 1835 ketika Dost Muhammad Khan (1826-1863) dapat menguasai Afghanistan dan mengangkat dirinya menjadi amir. Dost Muhammad Khan adalah pendiri dinasti kedua.

Penjajahan Inggris

Kerajaan Inggris mengabaikan sejarah dengan menginvasi Afganistan tahun 1839. Lagi-lagi akibat gawatnya perlawanan, sekitar 16.500 pasukan Inggris dan warga sipil mundur dari kota tersebut menuju Jalalabad, yang jaraknya 140 kilometer, 6 Januari 1842.

Kelompok-kelompok suku Pashtun ternyata mengikutinya dan menyerang sepanjang perjalanan. Akhirnya, yang berhasil mencapai Jalalabad hanya Dr William Boyd. Selebihnya tewas dibantai ataupun ditawan sebagai budak. Belum jera atas kekalahan tragis tersebut, Inggris tetap berusaha menguasai Afganistan melalui dua perang, 1878-1880 dan 1919. Keduanya berakhir dalam kegagalan

Pada 1878-1881 dari India Inggris menyerbu Afghanistan, Sesudah itu Afghanistan menjadi semacam protektorat Inggris. Inggris tidak bertahan lama karena tidak mampu menghadapi bangsa Afghan, akhirnya mundur tahun 1919, semua tentara inggris tewas kecuali beberapa orang saja yang selamat.

Afganisthan Lepas dari Inggris

Afghanistan menjadi negara yang merdeka penuh di bawah pemerintahan Amanullah Khan presiden pertama Afghanistan 1919. Pada tahun 1923 disahkan suatu Undang-Undang, dan pada 1925 Afghanistan dinyatakan sebagai kerajaan.

Periode stabil yang terakhir sekali dikecapi oleh Afghanistan terjadi dari tahun 1933 hingga 1973, ketika berada di bawah pimpinan Raja Zahir Shah. Pada 1973, Sardar Mohammed Daoud, saudara kepada Zahir Shah melakukan kudeta. Tahun 1978, Daoud dan keluarganya dibunuh oleh partai komunis Partai Demokratik Rakyat Afghanistan yang memberontak dan berhasil mengambil alih kekuasaan.

Uni Soviet mulai campur tangan

Pada tahun 1933, Muhammad Zahir Syah menjadi raja. Semula pemerintahannya diterima baik oleh masyarakat namun kemudian Amerika Serikat (AS) berusaha menanamkan pengaruh dengan membujuk Zahir Syah agar mengadakan revolusi kebudayaan. Sementara itu Uni Soviet juga ingin menumbuhkan pengaruhnya. Pada 1953 Raja Zahir Syah mengangkat sepupunya, Muhammad Daud, menjadi perdana menteri. la adalah kader komunis.

Melihat keadaan ini umat Islam merasa bahwa pemerintahan Afghanistan telah jauh menyimpang dari ajaran Islam, sehingga mereka mulai bergerak dengan membentuk organisasi. Maka muncullah Perjuangan Gabungan Mahasiswa Muslim yang bernama Juanan Muslim, tetapi kemudian berubah nama menjadi al-Jam’iyyah al-lslamiyyah (1968) di bawah pimpinan Ustaz Burhanuddin Rabbani

Jihad Melawan Uni Soviet

Selanjutnya Uni Soviet semakin marah melihat perkembangan Islam. Pada 1972 di bawah pengaruh Uni Soviet Muhammad Daud menggantikan Zahir Syah. Namun pada April 1978 Daud tewas dibunuh. Nur Taraki kemudian diangkat menjadi presiden.

Ulama Afghanistan mengeluarkan fatwa  mengu-tuk dan mengkafirkan Taraki, dan mewajibkan perang jihad untuk menggulingkannya. Dari sinilah dimulai perjuangan kaum Mujahidin Afghanistan melawan pemerintahan boneka Uni Soviet. Hafizullah Amin yang menggantikan Taraki juga tidak dipercaya oleh rakyat dan ulama, meskipun ia menawarkan perbaikan

Pengalaman Uni Soviet

Uni Soviet dalam perang di Afghanistan, di mana pada puncak penghabisan melawan tentara Afghanistan ketika itu, Uni Soviet telah mengerahkan 320.000 pasukan di Afganistan selama usaha yang dilakukannya untuk menduduki Afghanistan pada tahun 1980-an. Pada akhirnya, Uni Soviet meninggalkan wilayah itu dengan dipermalukan dan dikalahkan.

Marsekal Sergei Akhromeyev, panglima angkatan bersenjata Soviet ketika itu, menyimpulkan invasi itu dalam laporannya di politbiro Uni Soviet di Kremlin pada tanggal 13 November 1986 bahwa “nyaris hampir tidak ada bagian penting tanah Afghanistan yang belum pernah diduduki oleh salah satu prajurit kita suatu waktu atau lainnya, “kata komandan itu. “Namun demikian, sebagian besar wilayah itu tetap berada di tangan para teroris. Kami mengontrol pusat-pusat propinsi, tetapi kami tidak dapat mempertahankan kontrol politik atas wilayah yang kita rebut.” Dia menambahkan: “tentara kami tidak bisa disalahkan. Mereka telah berjuang dengan luar biasa berani dalam kondisi buruk. Tapi untuk menduduki kota-kota dan desa-desa untuk sementara waktu hanya memiliki nilai yang kecil dalam negeri yang begitu luas, di mana para pemberontak bisa menghilang begitu saja ke atas bukit.”


Kekuatan Uni Soviet

Antara 25 Desember 1979 dan 15 Februari 1989, terdapat 620.000 tentara yang merupakan tentara Afganistan (walaupun hanya ada 80.000-104.000 pasukan pada suatu waktu di Afganistan). 525.000 orang adalah pasukan angkatan darat, 90.000 orang adalah pasukan penjaga perbatasan dan pasukan KGB lainnya, 5.000 dalam formasi bebas atas Pasukan Internal, MVD dan polisi. 21.000 personel adalah dengan persatuan pasukan Soviet dalam periode yang sama melakukan .

Tanggal 27 Desember 1979, 700 pasukan Soviet memakai seragam Afganistan, termasuk OSNAZ dan pasukan khusus GRU Spetsnaz dari Grup Alpha dan Grup Zenith, mengambil alih pemerintah, militer dan bangunan-bangunan di Kabul, termasuk target utama mereka – Istana Tajbeg.

Operasi dimulai pada pukul 7 malam, ketika Grup Zenith meledakan pusat komunikasi Kabul, melumpukan komandi militer Afganistan. Pada pukul 7:15, Operasi Badai-333 dimulai. dengan tujuan yang jelas, untuk memberhentikan dan membunuh Presiden Hafizullah Amin. Operasi selesai seluruhnya pada pagi hari tanggal 28 Desember 1979

Korban Jiwa Uni Soviet

Jumlah personel yang tidak dapat disembuhkan dari Pasukan Soviet, pasukan perbatasan, dan pasukan penjaga internal mencapai 14.453. Formasi pasukan Soviet, satuan dan elemen bentang kehilangan 13.833, pasukan KGB kehilangan 572, formasi MVD kehilangan 28 dan departemen dan kementrian lainnya kehilangan 20. Selama periode ini 417 tukang reparasi hilang saat beraksi atau ditangkap dan dipenjara; 119 dari mereka nantinya dilepasikan, 97 kembali ke Uni Soviet dan 22 kembali ke Negara lainnya.

Terdapat 469.685 orang yang sakit dan terluka, 53.753 orang atau 11,44%, terluka, atau menderita gegar otak dan 415.932 orang (88,56%) sakit. Sebagian besar dari korban adalah orang yang sakit. Ini disebabkan karena iklim lokal dan kondisi sanitasi, dimana infeksi akut menyebar dengan cepat di antara pasukan. Ada sekitar 115.308 kasus hepatitis, 31.080 kasus thipoid dan 140.665 untuk penyakit lainnya. 11.654 pasukan berhenti sebagai tentara setelah terluka, terkena penyakit serius, 92%, atau 10.751 orang menjadi cacat. 15.000 pasukannya tewas

 

Kerugian material

118 pesawat tempur, 333 helikopter, 147 tank, 1.314 IFV/APC,  433 artileri dan mortar, 1.138 radio dan mobil komando, 510 mobil engineering, 11.369 truk and tanker minyak

Kerusakan Terhadap Afganistan

Kerusakan yang terjadi di Afganistan sangat menghebohkan. Lebih dari 1 juta orang Afganistan terbunuh. 5 juta orang Afganistan mengungsi ke Pakistan dan Iran, dan itu adalah 1/3 dari populasi Afganistan sebelum perang. 2 juta orang Afganistan lainnya dipaksa oleh perang untuk bmiergrasi dari Afganistan. Pada tahun 1980, 1 dari 2 pengungsi di dunia adalah orang Afganistan.

Sistem irigasi, yang kritis terhadap negara gersang seperti Afganistan telah dihancurkan oleh pengeboman dan penembakan. Pada tahun terburuk perang, 1985, menurut survey, lebih dari 1/2 dari semua petani yang masih di Afganistan mendapati sawah mereka dibom, dan lebih dari 1/4 sistem irigas mereka dihancurkan dan peternakan mereka ditembak oleh Soviet atau pasukan komunis Afganistan.

Kota yang paling padat penduduknya kedua di Afganistan, Kandahar, telah menurun populasinya, dari 200.000 jiwa sebelum perang menjadi 25.000 orang, hal ini disebabkan oleh kampanye pemboman oleh Soviet tahun 1987. Ranjau darat telah membunuh 25.000 orang Afganistan selama perang dan 10-15 juta ranjau darat lainnya menyebar di pedesaan. Afghanistan, negeri untuk orang-orang cacat dan miskin. Ya, itulah kondisi yang mungkin tepat menggambarkan Afghanistan sekarang ini.

Akibat invasi serta peperangan yang tiada henti, saat ini ada lebih dari satu juta orang Afghanistan yang cacat. Mereka adalah korban ranjau darat yang banyak tersebar di tanah seantero negeri, selain juga korban sipil akibat penyerangan AS yang membabi buta.

Saking banyaknya, pemerintah Afghanistan berencana membangun perumahan khusus untuk orang cacat di Kabul.

 

Artikel ini merupakan ringkasan materi yang disampaikan oleh Ustadz DR. Muqodam Cholil, dalam kajian Dunia Islam di masjid Al Amanah pada bulan Januari 2011