Futur

Ditinjau dari segi etimologi, kata futuur mempunyai makna:

1. Terputusnya sesuatu yang sebelumnya berlangsung secara kontinyu, atau berhenti setelah bergerak dengan baik;

2. Sikap bermalas-malasan atau rehat dan lambat dalam melakukan sesuatu yang sebelumnya dilakukan dengan giat dan tekun.

Adapun dari segi terminologi, kata futuur mempunyai pengertian penyakit psikologis yang menjangkiti seseorang, yang gejalanya timbul dalam bentuk kemalasan dalam melakukan aktivitas. Gejala yang paling parah adalah terhentinya sebuah pekerjaan, padahal sebelumnya dia melakukannya dengan penuh keseriusan dan berkesinambungan.

Sebab-sebab Terjadinya Futur

Penyakit futuur merupakan penyakit yang unik oleh karena ia bisa menimpa siapa pun, tidak terkecuali orang-orang yang memiliki tingkat ilmiah yang tinggi. Oleh karena itulah, menjadi sangat penting untuk kita ketahui tentang mengapa futuur itu terjadi. Ada beberapa sebab yang bisa menjatuhkan seseorang dalam futuur, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Bersikap ghuluw (berlebihan) dan ekstrim dalam beragama.

Rasulullah saw. sangat melarang sikap ghuluw (berlebihan). Dalam sabdanya,

“Hindarilah sikap ghuluw (berlebihan) dalam menjalankan agama, dan sesungguhnya orang-orang yang terdahulu binasa dikarenakan sikap berlebihan dalam menjalankan agama.” (HR. Ahmad) [1]

2. Sikap boros dan melampaui batas dalam mengonsumsi hal-hal mubah.

Sikap ini akan mengantarkan orang pada obesitas (kegemukan). Imbasnya adalah kecenderungan untuk rehat dan malas dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan berat dan taat kepada Allah SWT.

3.Pola hidup individualis dan tidak suka hidup secara berjamaah (kolektif).

4.Kurang mengingat kematian dan kehidupan di akhirat.

Kurang mengingat kematian dan kehidupan akan melemahkan seseorang untuk melakukan investasi kebaikan, dan yang muncul adalah kecenderungan istirahat.

5. Mengonsumsi makanan-makanan dan minuman-minuman yang diharamkan.

6. Pemahaman yang parsial terhadap Islam.

Islam adalah agama yang komprehensif sehingga Allah SWT menganjurkan dan memerintahkan kepada kita semua untuk masuk ke dalam Islam secara total. Allah SWT berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya,….” (al-Baqarah (2) : 208)

7. Mengabaikan hak-hak fisik.

Hal itu terjadi karena terlalu memforsir tenaga untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban yang banyak. Maka dari itu, Rasul menekankan pentingnya kita memberikan hak-hak fisik. Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas kamu, begitu juga dirimu dan keluargamu, maka berikan hak itu sesuai porsinya pada pemiliknya.” (HR. Bukhari) [2]

8. Berkawan dengan orang-orang yang mempunyai motif lemah dalam beragama.

9. Melakukan aktivitas yang tidak terencana.

10. Akumulasi dosa-dosa kecil.

 

Dampak Penyakit Futur

Sebagaimana penyakit-penyakit kejiwaan yang lain, penyakit futuur juga mempunyai dampak negatif dalam tataran individu maupun sosial, yang terekspresikan dalam bentuk amal jamai (kolektif).

Adapun dalam tataran individu, futuur akan berpengaruh negatif manakala terjangkit pada seorang aktivis. Hal itu dikarenakan terjadinya akumulasi permasalahan dan pekerjaan-pekerjaan yang diakibatkan mandeknya berbagai aktivitas. Hal itulah yang membuat Rasulullah mengajarkan sebuah doa agar kita terhindar dari penyakit ini. Doa Rasullullah itu adalah sebagai berikut.

“Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir, dan aku berlindung kepaada-Mu dari jeratan hutang dan tekanan orang-orang.” (HR. Abu Dawud) [3]

Adapun dampaknya dalam amal islami adalah mundurnya perencanaan-perencanaan yang disebabkan futuurnya para aktivis sehingga yang terjadi adalah membengkaknya dana dan tertundanya proyek-proyek dakwah dan amal-amal islami. Yang lebih mengerikan adalah tertundanya pertolongan Allah SWT karena pertolongan Allah SWT tidak diberikan pada orang-orang malas dan santai.

 

Terapi Futur

Setiap kita tidak ingin jatuh ke dalam kondisi stagnan dalam hidup ini. Sebab, memang dia akan berakibat buruk, yang tidak hanya dalam tataran individu, melainkan juga dalam tataran amal islami. Oleh karena itu, penting sekali kita untuk mengetahui penangkal sekaligus terapi dari penyakit futuur.

1. Menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan dan dosa, baik yang kecil maupun yang besar.

2. Melakukan amaliah-amaliah harian secara kontinyu sesuai yang dianjurkan oleh syariat.

3. Bersikap arif dan bijak dalam menyikapi waktu, dengan tidak menunda-nunda pekerjaan .

4. Menjauhkan sikap melampui batas dan berlebihan dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam.

5. Senantiasa melakukan perencanaan -perecanaan yang matang dalam beraktivitas.

6. Senantia berkawan dengan orang-orang saleh agar tetap dalam rel yang diridhai Allah SWT.

7. Selalu mengkaji biografi orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah Islam.

8. Selalu mengingat kematian.

9. Melakukan perbaikan dalam beragama.

10. Giat dalam mencari ilmu sehingga terbukalah cakrawala berpikir yang islami.

 

Penutup

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwasanya riya yang merupakan rival dari keikhlasan merupakan sifat sekaligus penyakit yang sangat berbahaya. Demikian pula futuur merupakan penyakit yang akan mengakibatkan tertundanya berbagai perencanaan-perencanaan individu dan kolektif sehingga kita harus senantiasa menghindari dan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari penyakit-penyakit tersebut.

 


[1] . Imam Ahmad. Musnad. Juz 5, hlm. 428-429); an-Nasa’i. ash-Shughro “Kitab Manasik al-Hajj Bab: Iltiqathul Hasna”. Juz 5, hlm. 278; Ibn Majjah. “Kitab al-Manasik, Bab: Qadrul Hasna”. Juz 2, hlm. 1008;  Ibn Hibban. No Hadist  1011

[2] . Shahih Bukhari. Kitab Shaum, “Bab: Man Aqsama ‘ala Akhihi Liyaf Thura fii at-Thattawwu”. Juz 3, hlm. 49-50; “Kitab Al-Adab”. Juz 8, hlm. 40; at-Turmudzi. Sunan. Kitab al-Zuhud Juz 4, hlm. 608-609, No Hadist  2413

[3] . Shahih Bukhari. Kitab Da’aurat, “Bab al-Ta’awudz min Ghalabatir Rijal”. Juz 8, hlm.  96, 97, dan 98; Abu Daud. Sunan. Kitab Shalat, “Bab al-Istiadzah”. Juz 2, hlm. 189 No. Hadist 1541 dan 3972; Imam Ahmad. Musnad. Juz 3, hlm. 159, 220, 226, dan 240

 

 

Materi ini disampaikan oleh Tim Kajian Al Manar dalam Kajian Tazkiyatun Nafs di Masjid Al Amanah, Kementerian Keuangan, Ramadhan 2010

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.